SMA YPPDK Gabungan Jayapura Gandeng Masyarakat, Perkuat Edukasi dan Aksi Lingkungan

Foto bersama masyarakat, ketua panitia dan para guru dari Pojka lingkungan dan masyarakat ( foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – SMA YPPK Gabungan Jayapura mengintensifkan edukasi kebersihan lingkungan dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari persiapan mengikuti lomba kebersihan sekolah dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2025.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga dirancang sebagai gerakan bersama antara sekolah dan warga untuk membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Edukasi yang berlangsung pada Rabu (22/4/2026)  tersebut melibatkan sejumlah guru, di antaranya Lista Ihalauw dan Adeleda Souissa, yang didampingi Ketua Panitia, Rofly A. Huwae. Sosialisasi menyasar tidak hanya orang tua, tetapi juga anak-anak usia sekolah dasar yang selama ini kerap terlibat dalam aktivitas kebersihan di lingkungan sekolah.

Kepala SMA YPPK Gabungan Jayapura, Sandra Titihalawa, menegaskan bahwa penguatan wawasan lingkungan merupakan salah satu komponen utama dalam visi sekolah yang terus diimplementasikan melalui berbagai program nyata.

Menurutnya, upaya tersebut diwujudkan melalui pembiasaan perilaku positif, seperti kegiatan memungut sampah dan kerja bakti rutin yang melibatkan seluruh warga sekolah.

“Salah satu komponen dalam visi SMA YPPK Gabungan adalah menumbuhkan wawasan lingkungan bagi seluruh warga sekolah. Hal ini kami dorong melalui berbagai pembiasaan positif, seperti angkat sampah dan kerja bakti yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Ia menambahkan, budaya positif yang dibangun di lingkungan sekolah diharapkan tidak berhenti di internal sekolah, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Lebih lanjut, Sandra menjelaskan bahwa edukasi daur ulang sampah yang dilakukan oleh Tim Adiwiyata melalui kelompok kerja (pokja) lingkungan merupakan bagian dari upaya membangun kemitraan antara sekolah dan masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah.

“Edukasi daur ulang sampah ini menjadi bentuk kolaborasi antara sekolah dan masyarakat untuk bersama-sama memerangi persoalan sampah di lingkungan sekitar,” katanya.

Ia menekankan, menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu diupayakan secara berkelanjutan, dimulai dari langkah-langkah sederhana.

“Saya berharap, langkah kecil yang kami lakukan ini dapat memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan di sekitar kita,” tuturnya.

Sementara itu, guru sekaligus anggota tim edukasi, Lista Ihalauw, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menanamkan kesadaran menjaga kebersihan sejak dini, sekaligus menyambut momentum Hari Pendidikan Nasional.

Dalam pelaksanaannya, sekolah membentuk tujuh kelompok kerja (pokja) yang dibagi berdasarkan area tanggung jawab masing-masing, mulai dari depan sekolah dan taman, kantin terapung, Gedung A dan Gedung B, hingga area permukiman warga.

“Pokja kami, yakni lingkungan dan masyarakat, bertugas di area permukiman warga yang berada di sekitar sekolah. Di dalamnya terdapat sejumlah program kerja yang sudah disusun secara terstruktur,” ujarnya.

Ia merinci, program tersebut meliputi pembentukan bank sampah, pelaksanaan kerja bakti rutin antara sekolah dan warga, serta pelatihan daur ulang sampah bagi anak-anak.

Melalui program bank sampah, masyarakat diajak untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya, yakni organik dan nonorganik. Sampah organik seperti sisa makanan dan buah-buahan ditempatkan pada wadah khusus, sementara sampah nonorganik seperti botol plastik dan kemasan minuman dikumpulkan untuk didaur ulang.

“Untuk sampah yang masih memiliki nilai guna, seperti botol plastik dan gelas air minum, akan kami kumpulkan di bank sampah untuk kemudian diolah kembali,” jelasnya.

Hasil pengelolaan tersebut nantinya dimanfaatkan sebagai bahan pelatihan daur ulang bagi anak-anak. Mereka diajak membuat berbagai kerajinan dari bahan bekas, sebagai upaya membangun pemahaman bahwa sampah tidak selalu harus dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan kembali.

Di sisi lain, Ketua Panitia, Rofly A. Huwae, menegaskan bahwa pembentukan tujuh pokja bertujuan agar proses pembersihan lingkungan dapat berjalan efektif dan menyeluruh.

“Setiap pokja memiliki tanggung jawab berdasarkan lokasi yang telah ditentukan, sehingga pembersihan dapat dilakukan secara maksimal,” katanya.

Ia merinci, pokja pertama bertugas membersihkan area depan kantor dan taman sekolah. Pokja kedua difokuskan pada Gedung A dan lapangan apel, sementara pokja ketiga menangani gedung yang tidak terpakai. Pokja keempat bertanggung jawab pada pusat Adiwiyata, pokja kelima pada kantin terapung, pokja keenam pada lingkungan dan masyarakat, serta pokja ketujuh mengelola apotek hidup.

Menurut Rofly, kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Adiwiyata yang bertujuan membangun kesadaran lingkungan di kalangan siswa sekaligus memperkuat kolaborasi dengan masyarakat.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari warga sekitar. Salah satu warga, Rina Kafiar, mengapresiasi langkah sekolah dalam menggagas pengelolaan dan daur ulang sampah.

Ia menilai, keberadaan bank sampah dapat membantu mengurangi kebiasaan membuang sampah plastik sembarangan, khususnya di kalangan anak-anak.

“Kami sebagai penjual di lingkungan sekolah akan ikut mendukung. Setelah anak-anak selesai makan, kami akan mengarahkan mereka untuk mengumpulkan sampah plastik agar bisa dimasukkan ke bank sampah untuk didaur ulang,” ujarnya.

Rina juga mendorong agar kerja bakti antara sekolah dan masyarakat dilakukan secara terjadwal, sehingga partisipasi warga dapat lebih optimal.

Ia mengusulkan agar kegiatan pembersihan tidak hanya difokuskan di area sekolah, tetapi juga mencakup lingkungan sekitar, termasuk akses jalan dari depan SD Kristus Raja hingga kawasan Tirta Mandala.

“Sekolah perlu membuat jadwal yang pasti, sehingga kami warga tahu kapan harus ikut kerja bakti bersama. Dengan begitu, kebersihan bisa terjaga tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan sekitar,” katanya.

Melalui sinergi antara sekolah dan masyarakat, program ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.

(veb/arc)