FGT 2026 Jadi Panggung Anak Usia Dini, Aldaier Karubaba Mimpi ke Persipura

Aldaier Karubaba (kostum hijau) dari SSB Tunas Muda Hamadi Bersama kedua orang tua (foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Ajang Freeport Grassroots Tournament (FGT) kembali menjadi panggung kebanggaan bagi anak-anak usia dini di Papua. Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya oleh PT Freeport Indonesia, turnamen ini tak sekadar menjadi kompetisi, tetapi juga wadah pembinaan karakter dan pengembangan potensi generasi muda, khususnya di kelompok usia 10 tahun.

FGT dinilai memiliki peran penting dalam menumbuhkan kecintaan terhadap olahraga sepak bola sejak dini. Selain itu, turnamen ini juga menjadi sarana pembentukan karakter, sekaligus mengasah kemampuan motorik dan sosial anak dalam suasana yang menyenangkan dan kompetitif.

Salah satu pemain, Aldaier Karubaba dari SSB Tunas Muda Hamadi, mengaku antusias bisa ambil bagian dalam turnamen tersebut. Ia merasa bangga dapat bermain bersama rekan-rekannya dan merasakan atmosfer kompetisi yang berbeda.

“Saya senang dan gembira bisa bermain bola  di ajang FGT yang digelar PT Freeport Indonesia. Saya juga bangga bisa ikut kompetisi ini,” ujar Aldaier Karubaba.

Ia mengungkapkan, momen paling berkesan selama turnamen adalah saat timnya berhasil mencetak gol. Baginya, pengalaman tersebut menjadi kenangan yang tak terlupakan.

“Yang paling seru itu saat tim kami mencetak gol,” katanya.

Lebih jauh, Aldaier Karubaba menyebut sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan hobi yang ia tekuni dengan serius. Ia bahkan memiliki cita-cita untuk menjadi pesepak bola profesional dan bergabung dengan klub kebanggaan Papua, Persipura Jayapura.

“Saya suka bermain bola karena ini hobi saya. Saya juga punya cita-cita, kalau sudah besar ingin bergabung dengan Persipura,” ujarnya.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari orang tua pemain. Michael Sineri, orang tua Aldaer, menyampaikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia atas konsistensinya menyelenggarakan turnamen usia dini.

“Terima kasih kepada PT Freeport Indonesia karena melalui turnamen ini anak saya bisa bermain dan menyalurkan bakat sepak bolanya. Kegiatan seperti ini sangat luar biasa,” kata Michael.

Menurutnya, kompetisi usia dini memiliki peran strategis dalam mencetak bibit-bibit unggul sepak bola Papua yang ke depan berpotensi menjadi pemain andalan, termasuk untuk Persipura Jayapura.

“Artinya, pembinaan sejak usia dini ini sangat penting. Ini bisa melahirkan talenta-talenta hebat Papua di masa depan,” ujarnya.

Michael juga menekankan bahwa sepak bola di usia dini bukan semata soal persaingan, melainkan bagian dari proses edukasi bagi tumbuh kembang anak. Melalui olahraga, anak-anak belajar disiplin, sportivitas, kepercayaan diri, hingga mental bertanding.

“Sepak bola membantu pembentukan karakter anak. Mereka belajar disiplin, kerja sama tim, dan percaya diri. Selain itu, juga baik untuk perkembangan fisik dan motorik seperti kekuatan otot dan kelincahan,” jelasnya.

Ia menambahkan, interaksi sosial yang terbangun dalam tim juga menjadi nilai positif bagi anak-anak dalam belajar bekerja sama dan berkomunikasi dengan teman sebaya.

Michael mengungkapkan, anaknya mulai menekuni sepak bola sejak usia delapan tahun. Ia pun mengaku bangga melihat perkembangan sang anak yang kini semakin percaya diri mengikuti turnamen.

Selain itu, ia juga mengapresiasi perhatian PT Freeport Indonesia yang memberikan perlengkapan berupa sepatu bola kepada para peserta.

“Kami sebagai orang tua sangat berterima kasih. Ini bentuk perhatian yang luar biasa dan sangat memotivasi anak-anak,” katanya.

Dengan dukungan berbagai pihak, ajang Freeport Grassroots Tournament diharapkan terus berlanjut sebagai fondasi pembinaan sepak bola usia dini di Papua, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya generasi pesepak bola masa depan.

(Veb)