Jayapura, Teraspapua.com – Laga Grand Final Freeport Grassroots Tournament (FGT) kategori usia 12 tahun (U-10) yang berlangsung di Lapangan Mandala, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (18/4/2026), menyuguhkan pertandingan dramatis penuh aksi dan semangat juang. Tim SSB Nafri akhirnya keluar sebagai juara setelah menundukkan SSB Putra Yeabhu dengan skor 4-2.
Sejak peluit awal dibunyikan, kedua tim langsung tampil agresif dengan mengandalkan kecepatan dan kemampuan individu para pemain muda. SSB Nafri tampil lebih dominan di babak pertama dengan permainan menyerang yang efektif. Mereka berhasil membuka keunggulan dan terus menekan hingga memperlebar skor menjadi 3-0 sebelum turun minum.
Permainan cepat dan kerja sama tim yang solid menjadi kunci keunggulan SSB Nafri. Meski begitu, SSB Putra Yeabhu tidak tinggal diam dan beberapa kali mencoba membangun serangan balik, namun belum mampu menembus pertahanan lawan.
Memasuki babak kedua, anak asuh Albert M. Seng kembali menunjukkan dominasi. Mereka berhasil menambah satu gol lagi, sehingga skor berubah menjadi 4-0. Kepercayaan diri para pemain Nafri terlihat jelas dengan permainan yang rapi dan penuh determinasi.
Namun, di penghujung pertandingan, SSB Putra Yeabhu bangkit dan berhasil memperkecil ketertinggalan dengan mencetak dua gol cepat. Skor pun berubah menjadi 4-2, menambah tensi pertandingan hingga menit-menit akhir. Meski demikian, SSB Nafri mampu mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang dibunyikan.
Salah satu momen dalam pertandingan adalah ketika pemain SSB Nafri, Yustus Merauje, harus menerima kartu kuning akibat pelanggaran yang dilakukan di tengah pertandingan.
Usai laga, pelatih SSB Nafri, Albert M. Seng, mengungkapkan rasa syukur atas kemenangan yang diraih timnya. Ia menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja keras para pemain selama menjalani latihan.
“Anak-anak mau mendengar instruksi pelatih dan itu yang menjadi kunci. Kami bekerja keras dalam latihan, dan hari ini mereka membuktikan hasilnya,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa melatih anak-anak usia dini memiliki tantangan tersendiri. Dibutuhkan kesabaran dan pendekatan yang tepat agar para pemain dapat memahami instruksi dan bermain secara disiplin di lapangan.
“Anak-anak seusia ini memang tidak mudah diatur, tapi dengan pendekatan yang baik dan konsistensi, mereka bisa berkembang dan bermain dengan baik,” katanya.
Albert menambahkan, dirinya selalu menanamkan mental juara kepada para pemain sejak awal. Ia menegaskan bahwa untuk meraih prestasi, dibutuhkan komitmen dan kerja keras yang tinggi.
“Saya selalu bilang kepada mereka, juara itu hanya satu. Kalau mau meraih itu, harus berjuang dan berkomitmen. Dan mereka hari ini membuktikan komitmen tersebut,” tuturnya.
Ke depan, pihaknya berencana membangun sistem pembinaan berkelanjutan dengan mengarahkan para pemain yang telah melewati usia 13 tahun untuk melanjutkan pengembangan di akademi yang lebih profesional, termasuk menjalin koneksi dengan Papua Football Academy maupun akademi lainnya.
Selain itu, ia juga berharap agar turnamen seperti FGT dapat terus digelar secara berkelanjutan sebagai wadah pembinaan dan kompetisi bagi generasi muda Papua.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini tidak berhenti di sini. Ini sangat penting untuk masa depan sepak bola Papua,” ujarnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia yang telah memberikan dukungan, termasuk penyediaan perlengkapan seperti sepatu bola bagi para pemain. Menurutnya, dukungan tersebut memberikan motivasi tambahan bagi anak-anak untuk terus berlatih dan berkembang.
Tak hanya itu, peran orang tua juga dinilai sangat penting dalam mendukung perkembangan para pemain muda. Dukungan penuh dari keluarga menjadi salah satu faktor yang mendorong semangat anak-anak dalam mengikuti turnamen dan menjalani latihan.
Dengan berakhirnya turnamen ini, SSB Nafri tidak hanya membawa pulang gelar juara, tetapi juga harapan baru bagi masa depan sepak bola Papua yang terus bertumbuh melalui pembinaan usia dini.















