Jayapura, Teraspapua.com – Kota Jayapura dikenal memiliki bentang alam pesisir yang indah, kekayaan budaya kampung adat, hingga jejak sejarah peninggalan Perang Dunia II. Namun di balik beragam potensi tersebut, promosi destinasi wisata di ibu kota Provinsi Papua itu dinilai masih belum maksimal.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPRK Kota Jayapura jalur pengangkatan, Christian Ireeuw. Ia menilai pemerintah daerah melalui dinas terkait perlu lebih serius memperkenalkan berbagai destinasi wisata lokal kepada masyarakat luas.
Pernyataan itu disampaikan Ireeuw saat menghadiri kegiatan sosialisasi peraturan daerah yang dilakukan pimpinan dan anggota DPRK Kota Jayapura di Distrik Jayapura Utara.
Menurutnya, banyak destinasi wisata di Kota Jayapura yang sebenarnya memiliki daya tarik besar, namun belum dipromosikan secara optimal. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah tempat wisata yang dahulu ramai dikunjungi masyarakat kini mulai sepi bahkan hampir terlupakan, terutama oleh generasi muda.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah kawasan wisata di Kampung Kayu Batu, Distrik Jayapura Utara. Kampung pesisir tersebut menyimpan sejumlah spot wisata yang selama bertahun-tahun menjadi tujuan rekreasi masyarakat, terutama saat akhir pekan maupun hari libur.
Di kampung tersebut terdapat sejumlah lokasi wisata yang cukup dikenal masyarakat. Salah satunya adalah kawasan wisata pantai yang dikenal dengan nama Pantai Swallow.
Menurut Ireeuw, kondisi yang kini mulai sepi dari pengunjung tidak terlepas dari minimnya promosi destinasi wisata oleh pemerintah daerah. Padahal, kehadiran wisatawan di kampung-kampung pesisir dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.
Ketika pantai ramai dikunjungi, masyarakat dapat membuka berbagai usaha kecil seperti menjual makanan dan minuman, menyediakan jasa penyewaan tempat istirahat, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
“Kalau wisatawan datang, tentu ada aktivitas ekonomi di situ. Masyarakat bisa berjualan atau membuka usaha kecil,” ujarnya.
Selain wisata pantai, Kampung Kayu Batu juga memiliki potensi wisata kuliner yang unik. Salah satunya adalah fenomena kemunculan Laor, sejenis cacing laut yang muncul pada waktu-waktu tertentu di perairan pesisir.
Fenomena alam tersebut biasanya terjadi pada bulan November dan telah lama dikenal oleh masyarakat pesisir seperti di Kampung Kayu Batu. Bagi warga setempat, laor bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Saat laor muncul, masyarakat akan berbondong-bondong menuju pantai untuk menangkapnya. Hasil tangkapan tersebut kemudian diolah menjadi berbagai makanan khas dengan cita rasa yang unik.
Ireeuw menilai momentum kemunculan laor sebenarnya dapat dikembangkan sebagai agenda wisata tahunan apabila dikelola dengan baik oleh Pemerintah Kota Jayapura.
Menurutnya, banyak daerah di Indonesia yang berhasil mengangkat tradisi lokal menjadi festival wisata yang mampu menarik wisatawan dalam jumlah besar. Hal serupa, kata dia, sangat mungkin dilakukan di Jayapura.
“Ketika laor muncul, itu bisa dipromosikan sebagai agenda wisata. Ini potensi besar yang harus dimanfaatkan,” katanya.
Ia juga mendorong Dinas Pariwisata untuk berkoordinasi dengan pemerintah kampung agar tradisi tersebut dapat dikemas menjadi kegiatan wisata yang menarik tanpa menghilangkan nilai budaya yang telah lama melekat di masyarakat.
Selain potensi wisata alam dan kuliner, Ireeuw turut menyoroti rencana pembangunan Numbay Culture Hub yang akan dibangun di lokasi bekas terminal lama Kota Jayapura.
Menurutnya, pembangunan pusat budaya tersebut merupakan langkah positif yang dapat menjadi ruang promosi bagi sepuluh kampung adat yang berada di wilayah Kota Jayapura.
Jika dikelola secara optimal, pusat budaya tersebut dapat menjadi tempat bagi wisatawan untuk mengenal berbagai tradisi, kesenian, hingga kuliner khas masyarakat lokal.
“Kalau Numbay Culture Hub ini berjalan, wisatawan yang datang bisa melihat dan mengenal kampung-kampung di Kota Jayapura,” katanya.
Ia menilai keberadaan pusat budaya tersebut juga akan memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan sektor pariwisata. Wisatawan yang datang untuk menyaksikan pertunjukan budaya atau pameran kerajinan dapat diarahkan untuk mengunjungi kampung-kampung wisata yang ada di sekitar kota.
Dengan demikian, promosi budaya dan pariwisata dapat berjalan secara bersamaan.
Potensi wisata lain yang tidak kalah menarik berada di Kampung Kayu Pulo yang terletak di kawasan Teluk Youtefa. Kampung tersebut memiliki sejumlah titik penyelaman atau diving spot yang dinilai sangat potensial untuk dikembangkan.
Perairan di sekitar kampung itu dikenal memiliki terumbu karang yang indah serta keanekaragaman biota laut yang masih terjaga dengan baik.
Ireeuw menilai potensi wisata bahari seperti ini seharusnya dipromosikan secara lebih luas, terutama melalui jaringan hotel maupun pelaku industri pariwisata.
Menurutnya, kerja sama dengan hotel-hotel besar dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk memperkenalkan destinasi wisata lokal kepada wisatawan yang datang ke Jayapura.
“Misalnya informasi tentang spot diving di Kayu Pulo bisa dimasukkan ke hotel-hotel besar. Jadi wisatawan yang datang bisa tahu bahwa di sini ada lokasi diving,” ujarnya.
Selain aktivitas menyelam, wisatawan juga dapat merasakan pengalaman tinggal bersama masyarakat kampung melalui konsep homestay. Konsep ini dinilai mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Wisatawan bisa datang menyelam, lalu menginap di rumah masyarakat kampung. Mereka pulang membawa pengalaman, dan tentu memberikan pemasukan bagi masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, Kota Jayapura juga memiliki potensi wisata sejarah yang cukup menarik. Salah satunya berada di kawasan Teluk Youtefa, di mana terdapat bangkai kapal perang peninggalan Perang Dunia II yang hingga kini masih berada di dasar laut.
Keberadaan kapal tersebut dinilai memiliki nilai sejarah sekaligus daya tarik wisata, khususnya bagi para penyelam yang tertarik pada situs sejarah bawah laut.
Menurut Ireeuw, potensi wisata sejarah seperti ini perlu dipetakan dan dipromosikan secara lebih serius agar dapat dikenal lebih luas oleh wisatawan.
Ia menilai Jayapura sebenarnya memiliki kombinasi potensi wisata yang cukup lengkap, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner hingga sejarah. Namun tanpa promosi yang kuat dan pengelolaan yang baik, berbagai potensi tersebut akan sulit berkembang secara maksimal.
“Kita punya banyak potensi wisata, baik alam, budaya maupun sejarah. Tinggal bagaimana pemerintah mempromosikan dan mengelolanya dengan baik,” kata Ireeuw.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mulai memetakan seluruh potensi wisata yang ada di Kota Jayapura dan menyusun strategi promosi yang lebih terarah agar kota ini semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Papua.
Dengan promosi yang tepat serta keterlibatan masyarakat kampung, sektor pariwisata diharapkan tidak hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan, tetapi juga mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta kesejahteraan masyarakat lokal.
(arc)















