Buka Seminar Pendidikan, Wali Kota Jayapura Usulkan Kurikulum SPG Masuk Perguruan Tinggi

Jayapura, Teraspapua.com – Walikota Jayapura, Benhur Tomi Mano secara resmi membuka kegiatan seminar Pendidikan, yang berlangsung di aula Dinas Pendidikan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Selasa (27/4/2021).

Tema yang diusung pada momen ini “Perubahan Sistem Pendidikan Yang Global Kita Tingkatkan SDM di Papua”

Sejumlah narasumber dihadirkan pada seminar yang digagas oleh Alumni SPG Jayapura tersebut di antaranya, Jhony Banua Row, James Modow, Onne Lumintang dan Chiristian Sohilait serta Robert Johan Betaubun.

Wali Kota Tomi Mano dalam sambutan menyebutkan, Pendidikan itu sangat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, guna mengisi pembangunan ke depan.

“Dari orang yang tidak bisa membaca dan menulis menjadi bisa membaca dan menulis. Maka dibutuhkan seorang tenaga pendidik yang handal dan professional,” ujar Tomi Mano.

Kipranya di Kota Jayapura, agar anak – anak tidak ada yang tidak bisa membaca dan menulis. Bahkan di Ibu kota provinsi Papua ini tidak ada guru yang berpendidikan D3, tapi semua adalah S1.

Menurutnya, Pemkot bekerjasama dengan Universitas Cendrawasih sehingga semua guru di kota Jayapura harus pendidikan S1. Saya rencana yang mau menjadi kepala sekolah SD dan SMP harus berpendidikan S1.

Pada kesempatan tersebut Tomi Mano berpesan kepada peserta seminar jika berbicara SPG buka kembali itu tidak bisa, karena regulasi. Apalagi saat ini kota hanya menangani TK, Paud, SD dan SMP.

” Maka tidak mungkin SPG kita hadirkan kembali di tanah Papua. Saran saya, kurikulum SPG yang harus dimasukkan di perguruan tinggi di FKIP, sehingga ketika guru yang dihasilkan bisa benar-benar menjadi pengajar dan terlebih menjadi tenaga pendidik,” ujarnya.

Kalau boleh lanjut Tomi Mano, ada regulasi yang dihasilkan dalam seminar, tentang penguatan – penguatan bagi generasi muda.

“Bahwa menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia yang menjadi seorang guru bukan karena terpaksa, tapi karena keterpanggilan hati,” tandasnya.

Seperti dikatakannya, ada tentara dan polisi di wilayah pedalaman yang menjadi guru. Ditegaskan meraka bukan guru yang sebenarnya. Tapi lulusan lulusan SPG dan KFIP itu adalah guru yang sebenarnya.

“Tugas Tentara dan Polisi adalah menjaga keamanan, profesi sebenarnya ada pada seorang guru,” tegasnya.

Alumni SPG lanjut Tomi Mano, harus saling bergandengan tangan dan bekerjasama. Bahkan kedepan yang cocok di Papua adalah sekolah pola asrama yang harus kita kembangkan di tanah Papua. Untuk mencetak sumber daya manusia yang hebat,” pungkasnya.

Sementara, Ketua Alumni SPG Jayapura Elias Wonda dalam sambutan juga berharap, selesai seminar ini ada solusi untuk membangun kwalitas SDM di Papua dengan baik.

“Harus ada peningkatan SDM Pendidikan Dasar, TK, PAUD, SD.dan SMP. Itu perlu kita siapkan betul,” tukasnya.

(Let).