Jayapura, Teraspapua.com – Puluhan Cleaning Service (CS) RSUD Dok II Jayapura, termasuk Orang Asli Papua (OAP) harus kehilangan mata pencaharian mereka. Pasca diberhentikan sepihak oleh PT. Delta Cakra Persada, selaku penyalur tenaga kerja CS yang baru bekerjasama dengan pihak RSUD Dok II Jayapura pada tanggal 1 Juni 2023 lalu.
Tentu pemberhantian ini memicu aksi protes yang dilakukan oleh CS berjumlah 52 orang dari 125 yang setiap hari bertanggungjawab terhadap kebersihan di lingkungan RSUD Dok II Jayapura.
Ke-52 CS itu sudah menemui pihak RSUD. Dalam pertemuan tertutup pada Senin (5/6/2023) untuk mendengar penjelasan oleh pihak RSUD, namun sangat disayangkan Direktur PT. Delta Cakra Persada tidak hadir dalam pertemuan itu.
Namun setelah dihubungi, Selasa (6/6/2023) pagi. Direktur PT. Delta Cakra Persada Deden Gustiawan mengakui bahwa CS yang dikeluarkan adalah mereka yang menurut Perusahaan kinerjanya tidak baik. Tapi yang dipertahankan kinerja baik.
“Kami memberdayakan CS yang menurut, kami secara kinerjanya baik. Itu yang kami pertahankan dari perusahaan sebelumnya,” kata Deden Gustiawan kepada Terasppaua.com via Telefon.
Jadi kembali ditegaskan, kami mengambil karyawan-karyawan yang menurut kami kinerjanya sangat baik karena kami pernah sebagai pelaksana di RSUD dok II tentu Kami punya pengalaman.
“Kami tidak memilih orang yang dekat dengan kami. Tapi tentu kami melihat karyawan yang kinerjanya baik,” jelas Deden Gustiawan.
Yang paling terpenting menurut Deden Gustiawan pihaknya menyesuaikan dengan dana yang tersedia pada RSUD DOK II. Sesuai dengan dana yang tersedia oleh pihak rumah sakit hanya bisa mengcover sekitar 70 sampai 80 cleaning service.
Sementara total cleaning service ada 125 orang, maka mau tidak mau kami pertahankan cleaning service sesuai dengan anggaran yang ada.
“Karena jika kami memperdayakan 100 lebih maka nantinya tidak ada yang bertanggung jawab untuk membayar hak mereka ke depan,” katanya.
Lanjut Deden Gustiawan menyebutkan Perusahaanya ditunjuk oleh RSUD II Jayapura untuk penyaluran tenaga cleaning service pada tanggal 1 Juni 2023 jadi baru 6 hari.
Sehingga terkait dengan cleaning service itu bukan pemecatan, karena kami baru masuk tanggal 1 Juni 2023. Tapi kami menerima karyawan kembali, jadi bukan memecat.
Disisi lain Deden Gustiawan mengatakan, bahwa cleaning service yang ada di RSUD Dok II kami memberdayakan sebagian dan mereka adalah karyawan perusahaan sebelumnya.
“Biasanya setiap perusahaan yang masuk tetap memakai jasa perusahaan sebelumnya, artinya kami lanjut memberdayakan mereka,” terang Deden Gustiawan.
Dia menyebutkan, perusahaanya sudah pernah menyalurkan CS di rumah sakit tahun-tahun sebelumnya. “Jadi kami sudah punya pengalaman,” imbuhnya.
Terpisah pengawas CS RSUD Dok II Jayapura Malvin Inauri pertanyakan pernyataan Direktur PT. Delta Cakra Persada Deden Gustiawan tersebut. Perusahaan yang baru 6 hari ditunjuk oleh pihak rumah sakit itu menggunakan dasar apa untuk menilai kinerja para CS.
“Perusahaan ini (PT. Delta Cakra Persada) baru masuk sehingga dari mana dia bisa mengetahui kinerja 52 cleaning service yang diberhentikan secara sepihak tidak bagus,” Tanya Malvin Inauri yang nota bene adalah OAP.
Tiba-tiba datang langsung rubah semuanya, sementara 52 CS ini menurut Melvin bekerja sudah sangat bagus. Kita kerja selama ini semuanya bagus.
Melvin bahkan mempertanyakan siapa yang menjadi tim penilaian untuk menilai kinerja 52 CS kami yang diberhentikan tersebut. Lalu penilaian seperti apa.
“Sebagai pengawas Malvin menilai orang-orang yang dimasukkan oleh PT.Delta Cakra Persada mereka bekerja tidak serius, malas dan sebagainya,” tutur Melvin.
Bahkan saya punya catatan untuk CS baru, Jadi kalau Deden Gustiawan selaku Direktur PT Delta Cakra Persada menilai mereka berkinerja bagus, saya tegaskan itu tidak benar, karena saya sebagai pengawas umum tentu saya melihat langsung kinerja mereka.
Bahkan yang sangat disesalkan Melvin dari 52 CS yang diberhentikan sebagian adalah Orang Asli Papua. Yang merupakan orang lama yang bekerja sangat bagus, baik pagi, siang dan malam karena pelayanan CS ini kita bagi dalam 3 sip.
“Bahkan setiap kita bekerja di setiap ruangan maupun halaman rumah sakit RSUD ke dimonitoring langsung oleh PPI,” ungkap Melvin.
Sehingga tekan Melvin, jika Direktur PT Delta Cakra Persada mau menilai kinerja para CS harus tanyakan langsung ke PPI. Mungkin setiap permasalahan-permasalahan yang terjadi harusnya kita konfirmasi dengan PPI,” tambah dia.
Menurut Melvin, setiap memasukkan bahkan mengeluarkan CS harus sepengetahuan PPI. Apa kesalahan karyawan sehingga diberhentikan kemudian kita sudah diberikan SP atau belum.
“Jadi, ada 52 orang yang diberhentikan dari 125 orang. Sementara ruang rumah sakit yang harus dibersihkan sangat banyak bahkan yang 125 CS tersebut harus membackup lebih dari satu ruangan,” bebernya.
Karena ditakutkan, jika ada CS yang ruangan satu yang sakit otomatis CS lain harus rela untuk dipanggil pengawas untuk memback up ruangan yang kosong.
Melvin juga menyebutkan setelah pemutusan kerja secara sepihak oleh PT Delta Cakra Persada 52 CS tersebut sangat marah dan kesal.
Malvin juga mengungkapkan sebelum mereka diberhentikan sepihak tidak ada surat pemberitahuan dari pihak perusahaan, namun mereka hanya dipanggil datang berkumpul dan langsung dibacakan nama-nama.
“Jadi, nama-nama yang mereka sebut tetap dipertahankan sementara nama-nama yang tidak disebut mereka keluarkan,” kata Melvin.
Untuk Melvin berharap dengan pertemuan hari Rabu tanggal 7 Juni 2023 besok, 52 CS yang diberhentikan harus bekerja kembali, karena kami adalah orang asli Papua yang tentu harus tetap bekerja di rumah sakit kami.
Apalagi ungkap Melvin, mereka yang dikeluarkan ini adalah tulang punggung keluarga sehingga jika mereka diberhentikan dari pekerjaan ini, hari-hari hidup keluarga mereka seperti apa. Karena sudah sekian lama mereka bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang lama.
Bahkan ungkap Melvin, teman-teman sempat marah bahkan ingin membuat keributan, Namun kami menenangkan mereka karena harus melihat hasil pertemuan hari Rabu besok.
Melvin juga sangat menyangkan ada beberapa CS yang masih kuliah sambil bekerja untuk kebutuhan hari-hari hidup dan membiayai kuliah mereka, tapi tiba-tiba diberhentikan,” tutup Melvin kesal.
(Har)








