Dorong Guru YPK Selesaikan Pendidikan S1, BP YPK Gandeng FKIP Uncen

Penandatanganan PKS antara Ketua BP YPK, Joni Y. Betaubun dan Dekan FKIP Uncen, Yan Dirk Wabiser disaksikan Plt Ketua Sinode GKI di tanah Papua, Pendeta Hiskia Rollo dan Rektor Uncen Oscar Oswald O. Wambrauw.

Jayapura, Teraspapua.com – Untuk mendorong para guru YPK lulusan SMA, D1, D2 dan D3, harus sarjana S1, maka BP YPK di Tanah Papua melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) dengan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cendrawasih di ruang senat setempat, Selasa (28/5/2024).

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Ketua BP YPK, Joni Y. Betaubun dan Dekan FKIP Uncen, Yan Dirk Wabiser disaksikan Plt Ketua Sinode GKI di tanah Papua, Pendeta Hiskia Rollo dan Rektor Uncen Oscar Oswald O. Wambrauw.

“Kita baru saja melakukan penandatanganan PKS antara BP YPK di tanah Papua dengan Universitas Cendrawasih dalam hal ini FKIP, sebagai langkah awal dari kesepakatan kita yang sudah dilakukan sebelumnya antara Sinode GKI di tanah Papua yang kemudian ditindaklanjuti oleh BP YPK,” kata Rektor Uncen Oscar Oswald Wambrauw .

langkah-langkah selanjutnya dari proses ini yaitu segera kami mempersiapkan proses akademiknya. Karena ini merupakan tahapan yang memang harus masuk dalam lingkup akademi.

Sehingga kita akan mempersiapkan proses administrasi untuk kemudian mereka semua terdata berdasarkan data yang diberikan oleh BP YPK.

Kemudian mulai dilakukan dengan proses administrasi akademik, selanjutnya untuk mengikuti proses akademiknya.

“Ini merupakan satu bagian juga dari program yang selama ini kita jalankan dalam bentuk rekognisi. Jadi, program rekognisi pembelajaran lampau atau RPL yang mana proses akademiknya itu dilakukan secara portofolio,” kata Wambrauw.

Portofolio itu hanya melaporkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh peserta didiknya, terutama mereka yang kita mau targetkan di sini adalah para guru-guru YPK.

Dikatakan, BP YPK di tanah Papua mempersiapkan pesertanya, dan kita mengikutinya dalam program RPL, dengan harapan proses ini bisa berjalan sesuai standar akademis yang dipersiapkan dalam aturan dalam RPL.

Yang mana mereka bisa dapat menyelesaikan pendidikan sarjananya hanya satu tahun setengah, melalui pola kerjasama ini, yang kemudian nanti dapat melanjutkan proses selanjutnya di masing-masing sekolah YPK yang ada di seluruh tanah Papua.

“Polanya bukan belajar mengajar, guru-guru ini kan sudah pengalaman mengajar, dan mendidik anak-anak, aktivitas semua yang dia lakukan itu yang dinilai,” katanya.

Bahkan mereka tidak lagi ke kempus. Jadi nanti dibentuk tim portofolio, dikirimkan dokumen-dokumen dan mereka mengisi apa yang dia lakukan setiap hari.

“Dia berdiri mengajar, membuat materi mengajar, membina anak-anak, membawa anak-anak bermain, mengurus anak-anak untuk membaca baru mereka dinilai, hanya tinggal tim yang turun ke kabupaten-kabupaten untuk melihat. Sudah selesai, itu yang dikonversi jadi nilai di kurikulum rekognisi,” paparnya.

Sementara itu, Ketua BP YPK di Tanah Papua Joni Y. Betaubun mengucapkan terima kasih kepada Rektor Uncen Oscar Oswald O. Wambrauw dan Dekan FKIP Yan Dirk Wabiser.

“Pada kesempatan ini, tentunya bahwa kelanjutan Mou sinode GKI di Tanah Papua, dengan Rektor Universitas Cendrawasih, tapi juga dilanjutkan dengan pertemuan BP YPK dan audiens dengan Rektor, Dekan FKIP dan pembantu Rektor,’ kata Betaubun.

Sehingga hari ini kita sama-sama menandatangani PKS, tentunya bahwa semangat dari Dekan FKIP untuk segera kita lakukan pendatanganan PKS ini.

“Kami ingin sekali untuk memulai. Jadi mungkin kita mulai dari kota Jayapura, paling tidak ada satu ruang kelas dengan dana hibah yang ada di PSW YPK kota Jayapura,” ujarnya.

Selain itu juga Kabupaten Waropen, dan kita mulai paling tidak sedikit-sedikit tapi sudah mulai jalan, dari pada tidak sama sekali.

Jadi, kelanjutan dari kerjasama ini untuk bagaimana memanusiakan ilmu pengetahuan kepada guru-guru YPK, baik tingkatan SMA, D1, D2 dan D3 untuk menuju ke jenjang S1.

Sementara Wakil Sekertaris BP YPK, Yustus Pondayar mengatakan, langkah-langkah sudah dilakukan BP YPK di tanah Papua, dengan menghubungi dan juga menyurati setiap kepala sekolah yang ada di tanah Papua dan juga melalui PSW, agar guru-guru yang belum S1 baik tamatan SMA, D1, D2 dan D3 kita percepat untuk menyelesaikan pendidikan S1-nya.

Dikatakan, data sedang dihimpu, kemudian kami akan mengklasifikasi supaya ada prioritas-ferioritas tertentu bagi guru-guru, karena kita lebih mengutamakan adalah mereka yang sudah sekian tahun mengabdi 20 dan 30 tahun.

“Dengan kerjasama ini, maka di tahun ajaran 2024-2025 kita akan memulai dengan beberapa wilayah tetapi, kami menunggu terkait estimasi biaya yang akan disampaikan dari FKIP,” akuinya.

Supaya kami tahu estimasi untuk membiayai peserta didik, ini sampai dengan wisuda itu berapa besar biaya yang harus dibutuhkan.

Kemudian kita akan melihat kondisi keuangan BP YPK di tanah Papua. Jadi, istilahnya mereka akan kuliah gratis, karena pengabdian mereka yang begitu besar bagi YPK di tanah Papua, maka ada kemudahan-kemudahan yang juga harus kita berikan kepada guru-guru ini.

“Jadi, target kita semua guru YPK yang belum S1, semua akan kita selesaikan pendidikanya sampai habis,” jelasnya.

Sementara Dekan FKIP, Yan Dirk Wabiser menambahkan, bulan Agustus besok mereka daftar, sesuai prosedurnya, jika sudah terpenuhi maka kita angsung melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar.

“Dengan kita menggunakan pendekatan RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau), misalkan selama ini mereka sudah menjadi guru, kita tinggal lihat bukti-bukti fisik apa yang mereka lakukan, maka kita kaitakan dengan mata kuliah,” ujarnya.

Dengan demikian dia tidak kuliah lagi dan langsung diberikan nilai. Prinsipnya FKIP siap dukung BP YPK untuk melaksanakan kegiatan penting ini,” pungkasnya.

(har/riko)