Jayapura, Teraspapua.com – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-75 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) ke- 75 Tahun. Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak (FK PKB) PGI menyelenggarakan seminar bertemahkan “Kesatuan Tubuh Kristus yang Tangguh dan Relevan”. Kegiatan ini digelar di Gedung Serba Guna (GSG) GKI Pniel, Kotaraja, Jayapura, pada Kamis (22/5/2025).
Ketua I FK PKB PGI, Benhur Tomi Mano, secara resmi membuka seminar tersebut. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan HUT PGI ke-75 yang mengusung semangat pelayanan dan kepedulian terhadap lingkungan serta spiritualitas jemaat.
“Selain seminar hari ini, kami telah melakukan penanaman 750 pohon di sepanjang Pantai Hotekan pada 21 Mei. Selanjutnya besok (Jumat, 23 Mei 2025) akan digelar donor darah, ziarah ke makam para pembawa firman Tuhan di Manokwari dan Biak, serta penanaman terumbu karang di Pantai Depapre,” ujar Benhur.
Ia juga mengajak kaum pria dan bapak untuk berpartisipasi dalam Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) yang akan dilaksanakan di halaman GKI Pniel, serta menyampaikan apresiasi kepada sinode wilayah dan klasis daerah yang telah mengutus peserta.
Dalam sesi pemaparan, Pendeta Marthinus Liur, CBC, menyampaikan bahwa peran kaum bapak dalam keluarga bersumber dari prinsip Alkitab. Ia menegaskan bahwa sejak awal, pria diciptakan sebagai sumber kehidupan dan pemimpin.
“Seorang pria yang hidup takut akan Tuhan akan membawa dampak positif bagi keluarganya. Ia dipanggil menjadi imam yang berdoa, melayani, menyampaikan firman Tuhan, dan menjadi pemimpin dalam mengambil keputusan,” kata Pdt. Marthinus.
Ia menambahkan bahwa kota atau bangsa yang kuat dimulai dari keluarga yang sehat, dan keluarga yang sehat dimulai dari peran pria yang menjalankan fungsinya secara benar.
“Pria bukan menjadi kuat karena jabatan atau harta, tetapi karena hidup takut Tuhan dan bertanggung jawab atas keluarganya,” pesannya.
Sementara itu, narasumber lain, Pendeta Rainer Scheunemann, menyoroti krisis figur ayah di banyak keluarga. Berdasarkan data yang ia paparkan, sekitar 30% keluarga hidup tanpa kehadiran seorang ayah, dan 80% kaum bapak belum menjalankan peran secara maksimal dalam mendidik anak.
“Gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mendata dan memperhatikan anak-anak yang tidak memiliki figur ayah atau yang kurang mendapatkan perhatian. Jika dibiarkan, hal ini bisa berdampak pada rendahnya kepercayaan diri anak, bahkan menjurus ke masalah sosial atau kriminal,” jelasnya.
Rainer mengajak kaum bapak untuk merenungkan kembali panggilan mereka sebagai pemimpin rohani dalam rumah tangga. “Meskipun pernah gagal, selalu ada kesempatan untuk berubah dan menjadi teladan iman bagi anak-anak kita,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran gereja dalam membina generasi muda, khususnya mereka yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah. “Gereja harus hadir, membimbing, dan memastikan tidak ada generasi yang hilang arah karena kurangnya figur bapak dalam hidup mereka,” pungkasnya.
(HR)









