Freeport Dorong Kemandirian Anak Muda Papua Melalui Pendidikan Vokasi IPN

Intitut Pertambangan Nemangkawi merupakan lembaga pendidikan vokasi non-formal yang didirikan PT Freeport Indonesia, dan dirancang untuk mempersiapkan generasi muda Papua agar memiliki kompetensi teknis dan karakter profesional yang dibutuhkan di dunia kerja, terutama sektor pertambangan.

Timika, Teraspapua.com – PT Freeport Indonesia (PTFI) terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) Papua melalui pengembangan pendidikan vokasi di Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN), pusat pelatihan berbasis kompetensi yang berlokasi di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Senior Vice President (SVP) Community Development PTFI, Nathan Kum, mengatakan bahwa investasi di sektor pendidikan merupakan bagian strategis dari investasi sosial perusahaan. Menurutnya, pengembangan SDM Papua adalah komitmen jangka panjang PTFI dalam mendukung kemandirian generasi muda Papua.

“Investasi di sektor pendidikan merupakan bagian strategis dalam investasi sosial perusahaan. Fokus kami memastikan generasi muda Papua mendapatkan keterampilan nyata yang bisa dipakai untuk bekerja dan membangun karier,” ujar Nathan di Timika, Rabu (26/11/2025)

Nathan menjelaskan bahwa PTFI mengembangkan berbagai program pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, termasuk sekolah vokasi seperti IPN dan program beasiswa lanjutan.

“Tujuan kami adalah menyiapkan generasi Papua yang terampil, siap kerja, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” tegasnya.

IPN sendiri merupakan lembaga pendidikan vokasi non-formal yang dirancang untuk membekali anak muda Papua dengan kemampuan teknis dan kedisiplinan kerja sesuai kebutuhan industri, terutama di sektor pertambangan. Lulusan IPN diharapkan mampu langsung bekerja, berintegritas, dan mengambil peran penting dalam dunia profesional.

Sejak didirikan pada 2003, IPN telah berkembang menjadi pusat pelatihan vokasi berstandar industri. Kurikulumnya berbasis kompetensi, dipadukan dengan pelatihan praktik dan pengalaman langsung bekerja di lapangan.

“Beragam program yang kami jalankan membentuk sebuah ekosistem pendidikan yang terintegrasi, mulai dari pelatihan di kelas hingga pengalaman langsung di lapangan. Pendekatan ini memastikan siswa terus meningkatkan kemampuan mereka dari waktu ke waktu,” kata Nathan.

Hingga kini, lebih dari 4.000 siswa telah mengikuti pelatihan di IPN. Sekitar 90 persen di antaranya merupakan Orang Asli Papua (OAP). Dari total lulusan tersebut, 71 persen telah bekerja di PTFI maupun perusahaan kontraktor yang menjadi mitra perusahaan.

Salah satu alumni IPN, Isai Kum, menceritakan pengalamannya mengikuti program Apprentice sebagai Operator Haul Truck (HE-Operator). Setelah menjalani pelatihan intensif serta mengikuti magang di area operasi PTFI, pemuda asal Suku Amungme itu kini bekerja sebagai karyawan tetap.

“Di IPN, saya tidak hanya belajar teknik, tetapi juga disiplin, keselamatan kerja, dan kerja sama tim. Program magang membuat saya merasakan langsung dunia kerja di tambang. Saya bangga bisa kembali bekerja di tanah kelahiran dan ikut membangun Papua,” ungkap Isai.

Kisah serupa disampaikan peserta pelatihan jurusan Electrician IPN, Sri Ningsih W. Watora. Perempuan Suku Kamoro ini mengaku bahwa IPN membuka pintu bagi perempuan Papua untuk memasuki dunia industri yang dulunya dianggap jauh dari jangkauan.

“Sertifikasi, praktik, dan bimbingan instruktur membuat saya percaya diri bersaing di perusahaan mana pun. Saya selalu bilang kepada adik-adik di kampung, kalau mau serius, IPN adalah salah satu jalan terbaik untuk mengubah masa depan,” tuturnya.

Pada tahun 2024, IPN mencatat antusiasme besar masyarakat dengan 4.938 pendaftar, namun hanya 289 peserta yang lolos melalui proses seleksi ketat.

Dari jumlah itu, sebanyak 82 peserta berasal dari Suku Amungme, 96 peserta dari Suku Kamoro. Sisanya dari lima suku kekerabatan lainnya, sebanyak 70 peserta adalah perempuan, sebagai
bentuk komitmen terhadap inklusivitas gender

“Ini menunjukkan keberpihakan IPN terhadap masyarakat asli daerah sekaligus mendorong peran perempuan dalam sektor industri,” jelas Nathan.

Program pelatihan di IPN terdiri dari Pelatihan Mekanikal dan Pelatihan Operator Alat Berat dan Pekerja Tambang Bawah Tanah (Miner). Selanjutnya Pelatihan Mekanikal dibagi menjadi empat keterampilan yakni Kelistrikan, Pengelasan, Mekanik Alat Berat dan Mekanik Pabrik.

Selain pelatihan teknis, IPN juga menyediakan program kewirausahaan melalui Papuan Bridge Program Youth Entrepreneurship (PBP YET).

“Melalui program ini, anak-anak muda Papua belajar menciptakan peluang usaha, inovasi bisnis, serta kemandirian ekonomi melalui pelatihan, pendampingan, dan akses sumber daya,” ujar Nathan.

(Arc/Veb)