banner 325x300

Kasus DBD Melonjak, Dinkes Kota Jayapura Libatkan Lintas Sektor Tekan Penularan

Jayapura, Teraspapua.com – Dinas Kesehatan Kota Jayapura mencatat lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data per 10 Desember 2025, jumlah kasus mencapai 291 kasus, terdiri dari 56 Orang Asli Papua (OAP) dan 243 non-OAP.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Yusnita Pabeno, menjelaskan bahwa penanganan DBD harus dilakukan secara terukur sesuai fase perkembangan nyamuk.

banner 325x300

“Jika masih berupa jentik, dilakukan abatesasi. Jika sudah berbentuk larva atau nyamuk dewasa, dilakukan pemberantasan larva,” terangnya saat membawakan materi Kebijakan dan situasi demam berdarah di kota Jayapura, dalam acara pertemuan sosialisasi kewaspadaan Demam Berdarah di masa sebelum penularan di Grand Abe Hotel, Kamis (11/12/2025).

Ia menegaskan bahwa fogging merupakan langkah terakhir, yang hanya dilakukan apabila ditemukan nyamuk dewasa, terutama ketika pasien sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit. “Intervensi dari Dinas Kesehatan tidak akan maksimal jika tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan masyarakat terlalu banyak. Karena itu, kerja sama dengan seluruh mitra sangat diperlukan,” ujarnya.

Kabar baiknya, sepanjang tahun 2025 tidak tercatat adanya kasus kematian akibat DBD di Kota Jayapura. Namun pada 2023, dua kasus kematian pernah terjadi sehingga wilayah tersebut sempat ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Yusnita mengungkapkan bahwa wilayah dengan kasus DBD tertinggi meliputi Abepura, Waena, dan Jayapura Utara. Ia menjelaskan bahwa nyamuk penyebab DBD berkembang biak pada air bersih yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah, seperti bak mandi dan penampungan air rumah tangga di kawasan padat penduduk.

Sebaliknya, wilayah dengan kasus malaria tinggi justru menunjukkan angka DBD rendah. “Kasus malaria paling banyak terjadi di Skouw, sementara kasus DBD di wilayah tersebut sangat rendah,” ungkapnya.

Kelurahan dengan kasus DBD tertinggi tercatat di Kelurahan Vim. Selain itu, Dinas Kesehatan baru menerima laporan kasus terbaru dari wilayah BTN Kamkei Bawah, dan pasien saat ini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Abepura.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus pada awal tahun, Dinas Kesehatan Kota Jayapura menggelar kegiatan sosialisasi kewaspadaan DBD menjelang masa penularan. Sosialisasi tersebut digelar pada Desember 2025, tepat memasuki musim hujan yang menjadi fase rawan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

“Setiap tahun, mulai Januari hingga Maret, kasus DBD selalu mengalami peningkatan. Tingginya curah hujan pada Desember hingga Januari berpengaruh besar pada populasi nyamuk Aedes. Karena itu, sosialisasi ini penting untuk menekan laju penularan,” ungkap Yusnita.

Dalam kegiatan tersebut, Dinas Kesehatan mengundang berbagai unsur lintas sektor, termasuk perwakilan distrik, kelurahan, kampung, sekolah, serta RT/RW dari wilayah yang memiliki kasus DBD tinggi sepanjang tahun.

“Tujuannya agar mereka dapat melakukan intervensi langsung di tingkat masyarakat. Pemberantasan sarang nyamuk tidak dapat hanya mengandalkan Dinas Kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama,” tegas Yusnita.
(Arch)