Jayapura, Teraspapua.com – Kota Jayapura kembali menjadi sorotan nasional setelah ditetapkan sebagai salah satu dari lima kabupaten/kota prioritas percepatan eliminasi kusta di Indonesia.
Selain Kota Jayapura, daerah lainnya yang masuk daftar prioritas adalah Bekasi, Brebes, Sampang, dan Tangerang. Penetapan ini dilakukan karena laju penemuan kasus baru kusta di wilayah-wilayah tersebut masih tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu disampaikan Purnomo Sidhi, narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dalam pertemuan lintas sektor akselerasi eliminasi kusta yang berlangsung di Hotel Azana SIP, Selasa (9/12/2025).
Pertemuan tersebut diikuti perwakilan pemerintah daerah, puskesmas, tokoh masyarakat, serta para pemangku kepentingan lintas sektor yang memiliki peran dalam upaya pengendalian penyakit kusta di Kota Jayapura.
Purnomo menjelaskan bahwa peningkatan kasus baru kusta di Kota Jayapura dari tahun 2020 hingga 2025 menjadi salah satu faktor utama kota ini masuk kategori percepatan eliminasi.
“Kasus baru kusta di Kota Jayapura terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, jumlah kasus yang masih menjalani pengobatan juga tergolong tinggi. Ini menjadi alasan Kota Jayapura ditetapkan sebagai wilayah yang membutuhkan percepatan eliminasi,” jelasnya.
Survei acak yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Jayapura bersama puskesmas pada November 2025 di seluruh sekolah dasar menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan. Dari sampel survei, tercatat bahwa sekitar 15 persen anak usia 6-9 tahun telah terpapar bakteri Mycobacterium leprae, penyebab penyakit kusta.
Purnomo menjelaskan bahwa paparan ini belum memunculkan gejala saat ini, namun memiliki potensi menjadi gejala klinis dalam dua hingga lima tahun mendatang.
“Karena itu, kelompok anak SD menjadi prioritas dalam strategi percepatan eliminasi kusta. Mereka adalah kelompok rentan yang perlu dipantau secara intensif,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah telah menjalankan program pemberian obat pencegahan massal atau profilaksis bagi kelompok berisiko. Program ini sudah berlangsung di Provinsi Papua, termasuk Kota Jayapura, untuk memutus rantai penularan sejak dini.
Purnomo juga mengungkapkan bahwa selain peningkatan kasus baru, sejumlah wilayah puskesmas di Kota Jayapura masih menemukan kasus kusta dengan cacat tingkat dua, yaitu kondisi cacat fisik yang sudah terlihat dan menunjukkan keterlambatan deteksi dini.
“Ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih terlambat memeriksakan diri atau tidak mengetahui gejala awal kusta. Padahal, semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pasien untuk sembuh tanpa menimbulkan kecacatan,” ungkapnya.
Menurut Purnomo, salah satu intervensi penting yang kini digencarkan adalah pemberian obat pencegahan yang diminum satu kali dalam setahun kepada individu berisiko maupun mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien kusta.
“Bukan tidak mungkin seseorang sudah memiliki bakteri kusta dalam tubuhnya tanpa mereka sadari. Karena itu, pemberian obat pencegahan ini sangat penting untuk menurunkan risiko berkembangnya penyakit,” jelasnya.
Untuk itu Purnomo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersatu dalam upaya mencapai target eliminasi kusta baik di Kota Jayapura maupun secara nasional pada tahun 2030.
“Kerja sama lintas sektor adalah kunci. Tanpa dukungan semua pihak, target eliminasi sulit dicapai,” tegasnya.
(Har)
















