banner 325x300

Angka DBD Tembus 70 per 100 Ribu Penduduk, Dinkes Kota Jayapura Gerakkan Distrik dan Kampung

Jayapura, Teraspapua.com – Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Kesehatan menggelar pertemuan sosialisasi kewaspadaan Demam Berdarah di masa sebelum penularan.

Kegiatan ini berlangsung di Grand Ade Hotel, Kamis (11/12/2025), dan dihadiri lintas sektor dari berbagai distrik, kelurahan, kampung, hingga RT/RW.

banner 325x300

Pertemuan tersebut dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa kasus DBD di Kota Jayapura saat ini berada pada level yang sangat tinggi dan jauh melampaui standar ambang batas.

“Secara ideal, angka kejadian DBD itu berada pada kisaran 10 per 100 ribu penduduk. Namun di Kota Jayapura kasusnya sudah mencapai 70 per 100 ribu penduduk, bahkan secara kumulatif jumlah kasus tercatat 291 kasus. Ini menunjukkan peningkatan yang cukup memprihatinkan,” jelas Juliana.

Juliana menilai tingginya angka tersebut tidak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat dan belum adanya pemahaman menyeluruh terkait tata cara penanganan DBD. Ia menyebut masih banyak warga yang menganggap fogging adalah solusi utama.

“Kalau masyarakat mengalami demam, terutama ketika menduga malaria, mereka cenderung langsung meminta fogging. Padahal, fogging tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus dilihat dulu penyebabnya, dilakukan penyelidikan epidemiologi, dicek lingkungan rumahnya, baru diputuskan langkah tepat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa nyamuk penyebab DBD memiliki karakter yang berbeda dengan nyamuk penyebab malaria. Nyamuk DBD cenderung berkembang biak di tempat yang bersih, sementara nyamuk malaria di tempat tertutup dan kotor.

“Kita harus lihat dulu lingkungannya. Jika perlu dilakukan abatesasi, maka kita lakukan abatesasi. Kalau tidak memadai, bisa dilakukan larvasisasi. Fogging adalah langkah terakhir dan hanya dilakukan apabila pasien sudah dirawat di rumah sakit sebagai bentuk penanggulangan penyebaran,” tambahnya.

Untuk menguatkan peran pemerintah di tingkat distrik dan kampung, Juliana menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan telah memberikan sejumlah mesin fogging kepada beberapa distrik. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi aktif dari para pemangku wilayah untuk memahami dan menjalankan SOP penanganan DBD.

“Kami sudah memberikan mesin fogging ke distrik-distrik. Petugasnya juga sudah pernah dilatih, namun mungkin perlu dilakukan pelatihan ulang agar penanganannya tepat dan sesuai prosedur,” ungkapnya.

Juliana menambahkan, perilaku masyarakat juga menjadi faktor besar dalam meningkatnya kasus. “Pola hidup masyarakat masih kurang sadar. Banyak yang belum mengetahui kapan nyamuk DBD menggigit, yaitu pada pagi hingga sore hari. Setiap tempat penampungan air sebaiknya diberikan abate agar tidak menjadi sarang nyamuk,” ujarnya.

Sementara Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Yusnita Pabeno, dalam laporannya mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman lintas sektor mengenai kewaspadaan DBD sebelum terjadinya penularan.

“Demam berdarah adalah penyakit yang sangat terkait dengan perilaku masyarakat. Karena itu, tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat memegang peranan penting dalam upaya pencegahan,” kata Yusnita.

Ia menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian DBD melalui kegiatan edukasi dan sosialisasi seperti ini agar masyarakat dapat memahami langkah-langkah penanggulangan sejak dini.

“Harapan kami, masyarakat dapat berperan aktif bersama Dinas Kesehatan dalam menekan angka kasus DBD di Kota Jayapura,” ujarnya.

Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini meliputi staf Dinas Kesehatan Kota Jayapura, para Penanggung Jawab Program DBD di puskesmas, pihak sekolah, serta perwakilan dari distrik, kelurahan, kampung, hingga RT/RW. Melalui pertemuan ini, diharapkan seluruh unsur tersebut dapat bergerak serentak dan lebih siap dalam menghadapi potensi peningkatan kasus DBD.

Dengan meningkatnya angka kasus hingga tujuh kali lipat dari ambang batas normal, pemerintah menekankan bahwa kolaborasi dan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran penyakit DBD di Kota Jayapura.
(Arch)