banner 325x300

Anggota DPRK Armaya Latuperissa Siregar Soroti Penambahan Sambungan Baru di Zona Merah, PTAM Jayapura Diminta Prioritaskan Keamanan dan Ketersediaan Pasokan Air

Jayapura, Teraspapua.com – Anggota DPRD Kota Jayapura, Armaya Latuperissa Siregar, menyoroti kebijakan penambahan sambungan rumah (SR) baru oleh PTAM Robongholo Nanwani di tengah keterbatasan kapasitas intake air di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Entrop yang disebut masuk kategori zona merah.

Hal tersebut disampaikan Siregar saat pimpinan dan anggota DPRD Kota Jayapura melakukan konsultasi dan koordinasi bersama manajemen PTAM Robongholo Nanwani, Rabu (4/3/2026), guna memastikan ketersediaan pasokan air bersih menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dalam pertemuan itu, Siregar mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang ia terima, saat ini terdapat 22 titik intake air yang digunakan untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat Kota Jayapura. Namun, khusus untuk wilayah Entrop, kapasitas air disebut sudah berada pada zona merah.

“Tadi saya dengar intake air kita ada 22 yang digunakan di Kota Jayapura. Untuk Entrop sudah masuk zona merah. Tapi di sisi lain ada rencana penambahan sambungan baru dari Lantamal, Assalam dan beberapa titik lain. Pertanyaannya, apakah sambungan baru tetap dibuka sementara kapasitas intake sudah terbatas?” ujar Siregar.

Ia mempertanyakan konsistensi kebijakan tersebut. Menurutnya, apabila sambungan baru terus dibuka tanpa diimbangi peningkatan kapasitas pasokan air, maka dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan baru bagi pelanggan lama.

Siregar menyinggung kondisi di kawasan Bucen 2, di mana jaringan sudah terpasang, namun tekanan air dinilai belum maksimal. Di tengah kondisi tersebut, PTAM disebut masih berencana membuka sambungan baru.

“Kalau terus dibuka sambungan baru, sementara kontribusi airnya tidak bertambah, apakah itu tidak akan menimbulkan masalah ke depan? Jangan sampai pelanggan lama justru terdampak,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa inovasi dan pengembangan jaringan merupakan bagian dari upaya perusahaan daerah dalam meningkatkan pelayanan. Namun, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut dilakukan secara bertahap dan terukur.

“Saya rasa diselesaikan step by step. Jangan sampai menambah persoalan baru,” ujarnya.

Selain soal kapasitas, Siregar juga menyoroti aspek keamanan sumber air. Ia menilai perlu ada langkah antisipatif terhadap potensi gangguan, termasuk kemungkinan tindakan sabotase atau pencemaran sumber air.

Menurutnya, air baku yang diambil dari intake sebagian besar langsung dialirkan melalui pipa ke rumah tangga. Dengan sistem seperti itu, potensi risiko keamanan perlu diantisipasi secara serius.

“Kalau misalnya ada orang yang tidak bertanggung jawab dan menebar racun atau melakukan tindakan lain di sumber air, apakah sudah ada gambaran pengamanan dari PTAM. Mungkin saja tidak terjadi, tapi kalau sampai terjadi bagaimana?” tegasnya.

Ia meminta manajemen PTAM memiliki skenario mitigasi risiko, terutama menjelang momen penting seperti Idul Fitri, di mana kebutuhan air masyarakat meningkat signifikan.

Siregar juga menanyakan kesiapan armada mobil tangki air di setiap cabang untuk mengantisipasi kondisi darurat apabila terjadi gangguan distribusi saat perayaan hari raya.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Direktur PTAM Robongholo Nanwani Entis Sutisna menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tidak memfokuskan penambahan sambungan rumah secara besar-besaran di wilayah Kota Jayapura.

Ia menyebutkan, dari rencana penambahan sekitar 1.100 sambungan rumah, sebanyak 800 di antaranya dialokasikan untuk wilayah Muara Tami, sementara untuk wilayah dalam kota hanya sekitar 300 sambungan baru.

“Untuk wilayah kota kita tidak terlalu banyak karena memang ada keterbatasan. Penambahan sambungan baru juga tidak semuanya langsung disetujui. Tim teknis akan melakukan kajian, melihat kemampuan penampang pipa, elevasi wilayah, dan debit air sebelum memutuskan,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua permohonan sambungan baru dapat dilayani, terutama jika secara teknis tidak memungkinkan. Meski demikian, sering kali masyarakat tetap memohon agar tetap dipasang meskipun distribusi air tidak maksimal.

“Kadang masyarakat bilang tidak apa-apa meski hanya mengalir beberapa kali sehari. Tapi kalau dipaksakan, itu bisa menambah masalah baru,” katanya.

Ia menambahkan, saat ini PTAM justru memfokuskan pengembangan di wilayah Muara Tami yang dinilai masih memiliki potensi sumber air dan kapasitas pengembangan hingga beberapa tahun ke depan. Saat ini, jumlah pelanggan di wilayah tersebut baru sekitar 2.500 sambungan dan masih memungkinkan untuk bertambah hingga 3.000 sambungan lagi.

Terkait aspek keamanan, pihaknya mengakui bahwa potensi gangguan selalu ada. Karena itu, sejumlah langkah pengamanan telah dilakukan, seperti pemasangan pagar kawat berduri di beberapa titik intake serta pembatasan akses masyarakat ke area sumber air.

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu tantangan di lapangan adalah aktivitas masyarakat di sekitar sumber air, seperti mandi atau beraktivitas di lokasi yang seharusnya steril.

“Kami sudah melakukan pengamanan di beberapa intake, memasang pagar dan melakukan pengawasan. Itu salah satu cara kami memastikan sumber air tetap aman,” ujarnya.

Menjelang Idul Fitri, pihaknya memastikan bahwa mobil tangki air disiagakan untuk mengantisipasi kondisi darurat. Apabila terjadi gangguan distribusi, armada tersebut akan dikerahkan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.
(Har)