Peter Tambunan Dorong Promosi Digital dan Penguatan Noken untuk Perluas Pasar Pedagang Lokal

Sekretaris Komisi A DPRK Jayapura, Peter Parasi Tambunan saat memberikan masukan kepada Disperindagkop Jayapura terkait Perda nomor 10 tahun 2018 (foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Jayapura memastikan penerapan Peraturan Daerah (Perda) Kota Jayapura Nomor 10 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pedagang Lokal berjalan optimal melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Perindagkop) dan UKM.

Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama  kepala dinas dan para kabid, kepala pasar  yang digelar di ruang rapat Disperindagkop, Rabu (11/3/2026), di mana sejumlah anggota DPRK memberikan berbagai masukan untuk memperkuat implementasi kebijakan tersebut.

Sekretaris Komisi A DPR Kota Jayapura, Peter Parasi Tambunan, menekankan pentingnya strategi promosi yang lebih efektif dalam mendukung pengembangan pedagang lokal, terutama melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan atau event yang mampu menarik perhatian publik.

Menurutnya, promosi tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga harus diikuti dengan strategi publikasi yang kuat agar mampu menjangkau masyarakat luas.

“Promosi itu seringkali diwujudkan dalam bentuk event. Tetapi event tersebut juga harus dipromosikan dengan baik. Percuma kita membuat kegiatan promosi jika tidak dipublikasikan secara maksimal karena partisipasi masyarakat akan kecil,” ujar Peter.

Ia mencontohkan pengalaman saat kegiatan di Pasar Terapung beberapa waktu lalu, di mana dirinya sempat menyampaikan kepada Wali Kota Jayapura bahwa pemerintah daerah perlu memiliki keberanian untuk mengalokasikan anggaran khusus bagi kegiatan promosi.

“Kalau kita ingin kegiatan itu berhasil, maka kita juga harus berani menganggarkan dana untuk promosi,” katanya.

Politisi Partai Gerindra itu juga menyoroti Pasal 7 Perda Nomor 10 Tahun 2018 yang berkaitan dengan perlindungan serta pengembangan produk lokal, termasuk noken, sebagai salah satu identitas budaya Papua yang memiliki potensi besar untuk dipasarkan lebih luas.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu menciptakan pasar (market) bagi pedagang lokal dengan memanfaatkan strategi pemasaran modern, termasuk memaksimalkan penggunaan influencer maupun promosi melalui berbagai platform digital.

“Sekarang ini kita sudah berada di era digital. Kalau kita ingin menembus pasar di luar Kota Jayapura, yang jumlah penduduknya sekitar 400 ribu, maka kita harus memanfaatkan potensi pasar yang jauh lebih luas di tingkat nasional bahkan internasional,” jelasnya.

Peter menilai pemerintah melalui dinas terkait dapat berperan sebagai jembatan bagi para pedagang lokal agar dapat memasarkan produknya secara digital tanpa harus memiliki kemampuan teknis yang kompleks.

Menurutnya, dinas bisa membuat terobosan berupa platform pemasaran digital yang menampung produk-produk pedagang lokal untuk dipasarkan secara daring.

“Kita bisa menjembatani mereka. Tidak harus pedagang itu sendiri yang membuat akun di platform digital seperti marketplace. Pemerintah bisa membuat sistem atau platform yang membantu memasarkan produk mereka,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menilai pentingnya menghadirkan tenaga ahli atau pelatih yang memiliki pengalaman di bidang pemasaran digital guna memberikan pelatihan kepada pelaku usaha lokal.

Peter mengaku mengetahui sejumlah pihak yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut dan telah membantu berbagai daerah lain dalam meningkatkan penjualan produk lokal melalui pelatihan intensif.

“Biasanya mereka membuka pelatihan satu hari, lalu langsung mempraktikkan cara menjual produk secara digital. Bahkan dalam satu hari, peserta yang dibina bisa langsung menjual hingga ribuan produk,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pola pemasaran saat ini tidak lagi sekadar berbasis kebutuhan konsumen, tetapi juga bagaimana membangun keinginan pasar terhadap suatu produk.

“Sekarang ini kita harus bisa membuat orang yang awalnya tidak merasa butuh menjadi merasa butuh. Itulah kekuatan pemasaran di era digital,” katanya.

Sebagai contoh, Peter mengaku pernah melihat tren fashion internasional yang menjadikan desain kantong plastik sebagai inspirasi produk fashion. Hal itu menurutnya menunjukkan bagaimana kekuatan pemasaran dapat mengubah sesuatu yang sederhana menjadi tren global.

“Saya sampai heran melihat kantong plastik bisa dijadikan tren. Sementara kita di Papua punya noken yang jauh lebih bagus dan memiliki nilai budaya tinggi,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku kerap menggunakan noken saat beraktivitas di luar daerah, di mal-mal besar karena menilai produk tersebut memiliki nilai estetika sekaligus identitas budaya yang kuat.

“Menurut saya noken justru lebih fashionable karena tidak semua orang punya,” katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah bersama pelaku usaha untuk lebih kreatif mengembangkan noken sebagai produk fesyen yang dapat diminati masyarakat di luar Papua.

Peter juga menilai pentingnya variasi harga produk agar dapat menjangkau berbagai segmen pasar, mulai dari produk dengan harga terjangkau hingga produk premium.

“Kita harus memikirkan range daya beli. Misalnya ada produk dengan harga Rp200 ribu, tetapi juga ada produk yang bisa dijual hingga Rp3 juta untuk segmen pasar yang berbeda,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap produk unggulan harus didukung oleh produk-produk turunan lainnya sebagai strategi pemasaran yang lebih luas.

“Produk unggulan itu bisa menjadi ujung tombak pemasaran. Setelah orang mengenal produk utama, maka produk-produk pendukung lainnya juga akan ikut dikenal,” ujarnya.

Di akhir penyampaiannya, Peter juga menyoroti pola promosi melalui pameran yang selama ini masih banyak dilakukan pemerintah daerah.

Menurutnya, pola tersebut cenderung menggunakan pendekatan business to business yang kini mulai ditinggalkan.

“Sekarang eranya sudah berubah. Kita masuk ke pola business to market, di mana penjual dan pembeli bisa langsung terhubung melalui platform digital,” kata dia.

Ia pun mengajak seluruh pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha, untuk mulai beradaptasi dengan perubahan tersebut agar produk-produk lokal Kota Jayapura mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Walaupun kita mungkin sudah agak tertinggal, tetapi tidak ada kata terlambat. Yang penting sekarang kita mulai bergerak dan merancang konsep pengembangan pasar yang lebih modern,” pungkas Sekertaris  Fraksi GKS itu.

(arc)