Biak, Teraspapua.com – Suasana haru dan penuh penghormatan mewarnai prosesi adat penyambutan Calon Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Constant Karma, saat melintas di Kampung Dedifu, Distrik Biak Barat, Kabupaten Biak Numfor, pada Jumat, 20 Juni 2025.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari perjalanannya menuju Kabupaten Supiori untuk melaksanakan kampanye politik di Korido, Kampung Nawaki, Distrik Supiori Selatan.
Didampingi oleh sang istri, Regina Rumbiak Karma, Constant Karma atau yang akrab disapa CK, menerima sambutan hangat dari masyarakat setempat. Iringan suling tambur dan prosesi adat menyambut kedatangan CK sebagai bentuk penghormatan terhadap figur yang mereka anggap sebagai salah satu putra terbaik Papua.
Prosesi penyambutan itu dipimpin oleh tokoh adat setempat, Mananwir Keret Womsiwor, Yabal Womsiwor, yang menyampaikan bahwa kedatangan CK menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kampung Dedifu.
“Kami sebenarnya ingin mengundang beliau untuk mengikuti ibadah bersama di Kampung Dedifu. Namun karena perubahan waktu, hanya prosesi penyambutan adat yang kami lakukan,” ujar Yabal, menjelaskan dengan penuh hormat.
Menurut Yabal, kehadiran CK bukan hanya sekadar lawatan politik, tetapi juga simbol keterhubungan emosional yang kuat antara pemimpin dan rakyatnya. Bagi masyarakat
Dedifu, Constant Karma bukan orang asing, melainkan tokoh yang telah lama dikenang karena kiprahnya membela dan memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua.
Dalam sambutannya, CK menyampaikan rasa syukurnya bisa singgah di Kampung Dedifu dan merasakan kehangatan masyarakat. Ia pun berbagi kisah hidupnya, yang diawali dari kampung kelahirannya di Korido, Supiori, hingga meniti karier sebagai birokrat dan pemimpin di tingkat provinsi.
“Saya lahir di Korido, lalu merantau untuk sekolah hingga ke Pulau Jawa. Saya sempat lolos CPNS di sana, tapi saya minta kembali ke Papua. Saya ingin mengabdi di tanah ini. Saya pernah ditugaskan di pedalaman, hingga akhirnya bertugas di tingkat provinsi,” ungkapnya dengan nada haru, mengenang perjalanan panjangnya.
Kisah CK ini menggambarkan komitmen kuatnya terhadap tanah kelahiran dan rakyat Papua. Ia menolak kenyamanan di tanah rantau demi bisa kembali dan bekerja di Papua, demi membangun dari dalam dan bersama masyarakat akar rumput.
Meski singgah hanya sejenak, Constant Karma tak lupa meninggalkan pesan sederhana namun bermakna bagi warga Dedifu.
“Jaga kampung baik-baik, jaga masyarakat,” ucapnya singkat, namun dengan sorot mata yang menyiratkan tanggung jawab dan cinta yang mendalam kepada tanah kelahirannya.
Momen ini menambah jejak kampanye politik pasangan Benhur Tomi Mano dan Constant Karma dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua 2025, yang terus menggema dengan pendekatan yang menyentuh akar budaya dan nilai-nilai lokal Papua.
CK tak hanya menyapa sebagai calon pemimpin, tetapi hadir sebagai bagian dari masyarakat, membawa harapan baru bagi generasi berikutnya.
(Nv/Rck)















