BTM-CK Tempuh Jalur Mahkamah Konstitusi, Tegaskan Perjuangan Demi Marwah Demokrasi Papua

Benhur Tomi Mano dan Constant Karma saat mengikuti debat kandidat beberapa waktu lalu. (foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Proses Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur Papua 2024 hingga kini masih belum menemui titik akhir.

Pasangan calon nomor urut 1, Benhur Tomi Mano – Constant Karma (BTM–CK), memilih menempuh jalur hukum dengan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari komitmen mereka terhadap demokrasi yang jujur, adil, dan bermartabat.

Gugatan ini bukan semata-mata soal kemenangan atau kekalahan dalam kontestasi politik. Menurut pasangan yang mewakili wilayah adat Tabi dan Saireri ini, upaya hukum tersebut merupakan wujud keseriusan mereka dalam memperjuangkan masa depan Papua yang lebih baik, damai, adil, dan berbudaya.

BTM menyoroti bahwa pelaksanaan PSU beberapa waktu lalu diwarnai oleh berbagai dugaan kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif. Oleh karena itu, Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga hukum tertinggi di Indonesia diharapkan dapat membuka dan menegakkan kebenaran secara transparan, demi mewujudkan pemilu yang bersih serta keadilan bagi seluruh rakyat Papua.

Berdasarkan dokumen resmi Akta Pengajuan Permohonan Pemohon Elektronik MK RI Nomor 22/PAN.MK/e-AP3/08/2025, gugatan diajukan pada Jumat, 22 Agustus 2025, pukul 17.48
WIB. Pengajuan ini dilakukan oleh kuasa hukum pasangan BTM–CK, Anthon Raharusun dan tim, dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua sebagai pihak termohon.

Permohonan tersebut telah dicatat dalam Buku Pengajuan Permohonan Pemohon Elektronik (e-BP3). Sesuai Peraturan MK Nomor 3 Tahun 2024, pemohon memiliki waktu tiga hari kerja untuk melengkapi dokumen sebelum didaftarkan ke dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi Elektronik (e-BRPK). Akta pengajuan itu ditandatangani oleh Panitera MK, Wiryanto, pada Senin, 25 Agustus 2025, pukul 08.01 WIB.

Di tengah proses hukum yang tengah berjalan, Benhur Tomi Mano menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh rakyat Papua, khususnya umat Muslim yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan PSU.

“Kami mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada seluruh umat Muslim di Tanah Papua yang telah memberikan dukungan kepada kami di PSU kemarin,” ujar BTM dalam keterangan pers di Jayapura, Kamis (28/8/2025).

Ia menegaskan bahwa perjuangan mereka di Mahkamah Konstitusi bukan semata-mata tentang hasil akhir, tetapi tentang menjaga marwah demokrasi dan keutuhan sosial masyarakat Papua. Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk terus mengiringi proses ini dengan doa, harapan, dan sikap dewasa dalam berdemokrasi.

“PSU ini jangan hanya dimaknai sebagai pertarungan politik. Lebih dari itu, ini adalah ujian kejujuran, kesabaran, dan kedewasaan kita dalam menjalani proses demokrasi,” ujarnya.

Menurutnya, setiap surat suara yang diberikan masyarakat mengandung harapan besar untuk masa depan Papua. Oleh karena itu, apa yang mereka perjuangkan bukan hanya soal jabatan, melainkan amanah dari rakyat yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Di balik setiap surat suara, ada harapan. Di balik setiap pilihan, ada tanggung jawab kepada anak cucu kita nanti. Kita sudah berikhtiar, menyusun gagasan, menjangkau rakyat, menyampaikan visi, bahkan berlelah-lelah dari lorong ke lorong, dari kampung ke kampung. Kini kita hanya bisa berdoa agar apa yang kami perjuangkan di MK dapat terwujud,” ungkapnya.

BTM juga menegaskan bahwa doa yang mereka panjatkan tidak hanya ditujukan untuk kemenangan pribadi atau pasangan calon, tetapi untuk kebaikan dan kedamaian seluruh masyarakat Papua. Ia berharap perbedaan pilihan politik tidak menjadi sumber perpecahan sosial.

“Doa ini adalah bahasa hati. Agar esok tidak ada air mata karena perpecahan, tidak ada luka karena perbedaan, dan tidak ada dendam yang tumbuh karena pilihan. Jika kami yang terbaik di mata Tuhan, semoga Allah mantapkan hati masyarakat untuk mendukung perjuangan kami di MK. Tetapi jika ada yang lebih baik, kami pun ikhlas, asal Papua tetap aman, rakyat tetap bersaudara, dan langit negeri ini tetap biru tanpa awan kebencian,” ucapnya.

Ia pun mengingatkan kembali bahwa Papua adalah tanah damai, dan kedamaian itu harus terus dijaga oleh semua pihak, apa pun latar belakang dan pilihan politiknya.

“Kita boleh berbeda baju, berbeda pilihan, berbeda jalan, tapi jangan pernah berbeda hati. Karena kita semua satu: satu tanah, satu nasib, dan satu cita-cita menjadikan Papua lebih baik dari hari ini,” tegas BTM.

BTM mengajak seluruh rakyat Papua untuk menyikapi proses ini dengan ketenangan, adab, dan akhlak terbaik. Kita telah mengadukan segalanya kepada Sang Pemilik Langit. Dengan doa, Papua tak hanya damai, ia akan bersinar. Dengan kebersamaan, Papua tak hanya kuat, ia akan
bangkit,” lugasnya.

Semoga setiap untaian zikir dan bisikan doa yang terucap menjadi wasilah bagi terjaganya negeri ini. Dan semoga setiap suara yang kita titipkan menjadi amal kebaikan, bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk generasi yang akan mewarisi Papua penuh harapan,” pungkas mantan Wali Kota Jayapura dua periode itu.

(Har/Rck).