Aksi Demo Barikade 98 dan Respons Hanura Papua : Apapun Hasilnya Terima Dengan Lapang Dada

Jayapura,Teraspapua.com – Aksi demo damai yang dilakukan oleh masyarakat adat dari Tabi – Saireri, masyarakat, paguyuban, perwakilan muslim dan gereja yang tergabung dalam Barisan Rakyat Indonesia Kawal Demokrasi (Barikade) 98 di Kota Jayapura di Kantor Gubernur Papua, Senin, 11 Agustus 2025, ditanggapi serius Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Papua, Kenus Kogoya.

Kenius Kogoya yang juga Wakil Ketua Tim Koalisi Papua Cerah ini menilai aksi demo yang dilakukan itu, terlihat ketidakdewasaan dalam berpolitik.

“Sebab, aksi yang kami lihat ini, ada oknum pendeta dijadikan tameng untuk membela salah satu kandidat. Dengan begitu, kami melihat fungsi dari gereja itu, sudah keluar dari misinya sebagai tri panggilan gereja. Nah, apakah ini didukung sepenuhnya oleh organisasi gereja atau sebatas oknum, tolong ini diklarifikasi jelas,” katanya.

Kenius Kogoya menilai masyarakat Papua sudah cerdas dan dewasa dalam berpolitik, sehingga isu politik identitas sudah bukan jamannya lagi.

“Masyarakat kita di Papua itu, sudah menjadi pemilih rasional semua. Kenapa kemudian harus dipaksakan dengan satu iming-iming harus gubernurnya harus agama tertentu, ini saya pikir bagian tindakan intoleran juga,” ujarnya.

Untuk itu, Kenius pun sangat menyayangkan aksi yang melibatkan oknum pendeta tersebut, lantaran akan mencoreng lembaga gereja.

“Kami selaku anak-anak Papua mengerti dan memahami tripanggilan gereja, gereja  apa saja. Saya pikir jadi evaluasi sendiri dalam proses demokrasi kita ini yang dewasa ini semakin maju dan masyarakat tidak bisa dipaksakan dengan satu isu – isu menyangkut identitas, karena bukan jamannya lagi,” ujarnya.

Menurutnya, sikap-sikap antagonis seperti ini memang serinig muncul disebabkan karena frustasi dan karena faktor kekalahan.

“Tapi, yang saya lihat kenapa pendeta yang harus turun jalan. Jadi, ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kita semua,” ujarnya.

Dikatakan, proses Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Papua sudah selesai dan masyarakat sudah menentukan pilihannya.

“Jadi, jika ada kecurangan, dianggap bermasalah atau tidak puas, ya cukup  melalui jalur yang ada, baik lewat Bawaslu atau Gakkumdu. Itu ada mekanisme. Untuk itu, mari kita tunjukkan sikap politik yang dewasa,” ujarnya.

Kenius mengharapkan kepada seluruh pendukung paslon Gubernur Papua nomor urut 2 Matius Fakhiri  – Aryoko Rumaropen agar tetap tenang dan tidak usah terprovokasi dengan berbagai macam isu atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kelompok yang kalah.

“Kita tidak usah terpancing, tetap kita kawal suara dari TPS naik ke  PPD sampai dengan pleno di KPU kabupaten/kota hingga KPU provinsi. Tidak usah bikin aksi yang akan merugikan diri sendiri terutama pendukung bapak Mari-Yo, kita kawal karena  bisa  saja ini dimainkan kelompok yang  kalah untuk ada tujuan dan niat terselubung didalamnya,”  ujarnya.

“Buktinya bisa kita lihat, PSU sudah selesai. Tapi ada apa dengan kunjungan BTM ke Mamberamo Raya? Ada apa tujuan BTM dengan pendeta-pendeta yang mendampinginya itu, urusan apa di hari minggu. Ini  menjadi pertanyaan juga, jangan sampai ada keinginan untuk mempengaruhi dukungan suara terhadap Mari-Yo di Mamberamo Raya?,” sambungnya.

Kenius melihat kunjungan BTM ke Mamberamo Raya sangat politis sekali, pergi untuk mempengaruhi perhitungan suara yang ada di sana.

“Jadi, ini hal-hal  yang dimainkan kelompok sebelah ini ada manuver-manuver yang dilakukan untuk bagaimana mempengaruhi atau mengganti suara yang mungkin sudah mendukung Mari-Yo,” tandasnya.

Apalagi, kata Kenius, justru ada penolakan penumpang lain saat tiba di Bandara Kasonaweja, Mamberamo Raya, sehingga ia menilai itu sikap yang tidak mendidik.

“Ya, saya pikir ini  sikap-sikap yang sebenarnya sudah tidak beda dengan tindakan premanisme, yang sebenarnya tidak dibenarkan. Timnya Mari-Yo turun untuk melakukan pemantauan perolehan suara, justru kita ditolak. Nah, ini tidak adil dan masyarakat perlu diberikan pemahaman kedewasaan dalam berpolitik dan saya mencurigai  ini pasti ada sponsornya,” katanya.

Yang jelas, Kenius Kogoya sangat menyayangkan tindakan-tindakan kelompok yang mengatasnamakan pendukung 01 dan itu akan menjadi catatan tim hukum Koalisi Papua Cerah bahwa itu tidak menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi.

“Ini akan menjadi laporan khusus tim hukum kami dan ini sudah mencoreng proses demokrasi di Tanah Papua,” ujarnya.

Ia mengajak sama-sama menjaga dan mengawal hasil  PSU  Pilgub Papua.

“Jika sudah melihat hasilnya jauh, jangan memprovokasi masyarakat yang nantinya akan merugikan masyarakat sendiri, terjadi gesekan-gesekan,”  tandasnya.

Dalam berpolitik ini, imbuh Kenius Kogoya, jika sudah merasa  suaranya kurang, itu sudah sepatutnya legowo dan menyampaikan selamat kepada kandidat yang menang.

“Ya, harus legowo. Apalagi, sudah tandatangan fakta integritas siap menang dan siap kalah yang dilakukan di KPU dan Bawaslu. Jadi, hasilnya sudah menunjukkan kekalahan, ya harusnya legowo dan berjiwa besar serta menyampaikan ucapan selamat. Itu sangat elegen atau gentle, tapi terus manuver dan terus membangun narasi-narasi yang provokatif, ini berbahaya karena akan merugikan masyarakat kita,” pungkasnya.