Dewan Rasuli Gereja Bethany Indonesia Pdt. Willy  Chandra Ingatkan Para Gembala Bahaya Orientasi Materi dalam Pelayanan di Papua

Anggota Dewan Rasuli Sinode Gereja Bethany Indonesia, Pdt. Willy Joseph Chandra saat memberikan pembekalan kepada para Gembala (foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Anggota Dewan Rasuli Sinode Gereja Bethany Indonesia, Pdt. Willy Joseph Chandra, mengigatkan pentingnya menjaga kemurnian panggilan pelayanan di tengah maraknya godaan materialisme dalam kehidupan para hamba Tuhan.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pembekalan dalam kegiatan Leader Empowering Fellowship bagi para gembala dan pejabat gereja se-Tanah Papua yang digelar di Hotel Fox Jayapura, Rabu (25/3/2026).

Dalam pemaparannya, Pdt. Willy mengingatkan bahwa derasnya tawaran materi di era saat ini kerap menggeser fokus pelayanan. Ia menilai, tidak sedikit pelayan Tuhan yang tanpa sadar mulai memusatkan perhatian pada aspek materi, bukan lagi pada panggilan sebagai hamba.

“Godaan materi begitu besar, sehingga terkadang kita lupa bahwa kita ini hamba Tuhan. Fokus pelayanan bisa bergeser menjadi orientasi materi, bukan lagi kualitas hidup dan karakter,” ujarnya.

Melalui pembekalan tersebut, ia menegaskan pentingnya membangun karakter sebagai fondasi utama pelayanan. Menurutnya, seorang hamba Tuhan harus mampu mendidik jemaat untuk menghadapi berbagai tantangan hidup, termasuk masa-masa sulit, dengan kekuatan karakter yang berlandaskan iman.

Ia juga mengutip ajaran Yesus tentang pentingnya tidak hanya mendengar firman, tetapi juga melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hal itu menjadi kunci utama dalam membentuk pribadi yang kuat.

“Firman Tuhan tidak cukup hanya didengar, tetapi harus dilakukan. Ketika kita melakukannya, di situlah karakter kita dibentuk. Dari karakter itulah akan lahir terobosan-terobosan baru, termasuk bagi Tanah Papua,” katanya.

Lebih lanjut, Pdt. Willy menyoroti kondisi Papua yang masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kesenjangan sosial dan ekonomi. Ia menilai, gereja memiliki peran strategis untuk memberikan pencerahan dan menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat.

“Gereja dipanggil untuk membawa terang, memberikan harapan, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Karena itu, kita harus kembali kepada prinsip dasar iman,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menempatkan nilai-nilai Kerajaan Allah sebagai prioritas utama dalam kehidupan. Menurutnya, hal tersebut tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas keagamaan semata, tetapi juga melalui etos kerja, kualitas hidup, dan integritas dalam keseharian.

Selain itu, ia menegaskan bahwa keberhasilan seorang hamba Tuhan tidak lepas dari fondasi kehidupan rumah tangga yang kuat. Rumah tangga, kata dia, harus dibangun berdasarkan nilai-nilai Kristus agar menjadi sumber berkat, bukan sebaliknya.

“Kesuksesan pelayanan dimulai dari rumah tangga. Jika rumah tangga dibangun dengan prinsip kebenaran, maka kehidupan akan diberkati. Tetapi jika tidak, semua usaha bisa menjadi sia-sia,” katanya.

Melalui pembekalan ini, Pdt. Willy berharap para hamba Tuhan di Tanah Papua mampu menjaga integritas, memperkuat karakter, serta menghadirkan pelayanan yang berdampak nyata bagi jemaat dan masyarakat luas.
(Har)