Jayapura, Teraspapua.com – Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Komjen Pol. (Purn) Drs. Budi Waseso mengingtakan kepada anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia agar tidak terlibat dalam politik praktis.
“Khusus kepada anggota Gerakan Pramuka yang telah memiliki hak pilih pada Pemilihan Umum, saya mengingatkan kembali bahwa menjelang Pemilu 2024, setiap anggota Gerakan Pramuka dilarang berpartisipasi dalam aktivitas politik praktis selama mengenakan seragam Pramuka,” tegas Ka Kwarnas Budi Waseso dalam sambutan tertulis yang dibacakan Ka Kwarda Gerakan Pramuka Papua Kristhina R. I. Luluporo Mano, S.IP, M.AP pada upacara peringatakan HUT ke-166 tahun Lord Baden-Powell di taman Imbi, Rabu (22/2/2023).
Lanjut Budi Waseso mengatakan, sebagai warganegara Republik Indonesia, tentunya masing-masing individu berhak menyalurkan aspirasi politiknya melalui partai politik pilihan masing-masing.
Meskipun demikian, mengingat Gerakan Pramuka adalah organisasi non-politik, maka seragam dan berbagai atribut kepramukaan tidak boleh digunakan atau dipakai dalam aktivitas politik praktis,” pesannya.
Lanjut Kristhina, hari Baden-Powell diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 22 Februari, tidak terkecuali di negara kita. Jutaan anggota pramuka di seluruh dunia berkumpul untuk memperingati Hari Baden-Powell. Bahkan, kemeriahan peringatan Hari Baden-Powell di Indonesia dirayakan dari ujung Barat sampai ujung Timur.
Dikatakan, dalam setiap peringatan Hari Baden-Powell kita selalu mengucapkan janji sebagai Pramuka yaitu Dwi Satya bagi adik-adik Pramuka Siaga, juga Tri Satya bagi Pramuka golongan lainnya.
“Baik di dalam Dwi Satya maupun Tri Satya tersurat secara jelas bahwa demi kehormatan masing- masing, seorang Pramuka berianji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta siap menolong sesama hidup,” ujarnya.
Lanjutnya, Dwi Satya dan Tri Satya merupakan cerminan sikap perilaku seorang Pramuka sejati, sebagaimana digagas oleh Baden-Powell pada tahun 1907.
Gagasan tersebut kemudian melahirkan gerakan kepanduan atau kepramukaan sedunia. Sebagai Pramuka, kita harus berusaha untuk bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran agama yang dianut oleh masing-masing.
Menjalankan kewajiban itu juga harus diwujudkan dalam perilaku hidup sehari-hari, antara lain selalu bersikap sopan, ramah, menjalin persahabatan dan persaudaraan, siap membantu mereka yang membutuhkan pertolongan, dan menghindari perilaku-perilaku negative,” imbuhnya,
“Seorang Pramuka harus menjauhi tindakan penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pornografi, pergaulan seks bebas, menyebarkan kabar bohong dan ujaran kebencian, bersikap arogan, ingin menang sendiri, dan hal-hal negatif lainnya,” tegasnya.
Dalam Dwi Satya dan Tri Satya juga tercantum semangat bela negara dengan menjalankan kewajiban kita sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Oleh karena itu, di Hari Baden-Powell ini marilah kita terus memantapkan tekad untuk selalu siap sedia, bergotong-royong membantu menciptakan dunia yang lebih baik. Semoga upaya yang kita lakukan in senantiasa mendapatkan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa,” tuturnya.
Sementara Ka Kwarda Papua Kristhina R. I. Luluporo Mano juga berharap bahwa Gerakan Pramuka adalah organisasi yang tidak boleh berpolitik praktis, tetapi kita sebagai warga negara Indonesia kita punya hak politik.
“Boleh berpolitik tetapi tidak boleh menggunakan organisasi dan seragam pramuka, sehingga jangan sampai kakak-kakak dan yang ada di cabang-cabang maupun yang ada di Provinsi Papua berpikir bahwa dengan menggunakan pakaian Pramuka kita boleh berpolitik. Tidak,” pungkasnya.









