Jayapura, Teraspapua.com – Jemaat GKI Efrata Kayu Batu, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua menggelar ibadah Minggu kontekstual bernuansa etnis Maluku pada Minggu (26/5/2025). Ibadah dimulai pukul 09.00 WIT dan dipimpin oleh Pdt. Markus Makatita, S.Si. Teol., M.Th.
Ibadah dibuka dengan prosesi masuk majelis jemaat yang diiringi tarian lengso oleh anak-anak remaja menuju altar. Sekitar 80 persen jemaat yang hadir tampak mengenakan pakaian adat Maluku, menciptakan suasana budaya yang khas dan meriah.
Sejumlah pujian dinyanyikan dalam bahasa daerah Maluku, dibawakan oleh anak-anak jemaat, termasuk penampilan solo dengan iringan ukulele dan grup musik Glorious Ukulele.
Grup musik torompet anak-anak Maluku serta kelompok Ina-Ina dan Ama-Ama dari Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Kayu Batu turut mengambil bagian dalam pelayanan pujian. Bahkan, kelompok kantoria jemaat juga berasal dari kalangan Ina-Ina IKEMAL.
Dalam momen tersebut, IKEMAL Kayu Batu menyerahkan bantuan dana untuk mendukung penyelesaian pembangunan gereja yang ditargetkan rampung pada tahun 2026.
Dalam khotbahnya yang mengacu pada Filipi 3:1-15, Pdt. Markus Makatita mengajak jemaat untuk mempererat relasi dalam rumah tangga, serta mengutamakan kerajaan Allah dalam kehidupan.
Ia menegaskan bahwa pengorbanan Kristus adalah harga mahal yang dibayar untuk menebus dosa manusia, sehingga hidup orang percaya harus mencerminkan kesucian dan ketaatan kepada Tuhan.
“Hidup kita tidak boleh tinggal dalam dosa, tapi harus menyenangkan hati Tuhan. Yesus mengajak kita menjadi sempurna seperti Bapa di surga,” tegasnya.
Pdt. Makatita juga menyampaikan bahwa pelaksanaan ibadah budaya etnik Maluku ini merupakan wujud pelestarian budaya dalam konteks pelayanan gereja di tanah Papua.
Liturgi dalam bahasa daerah, pujian, serta ungkapan syukur berupa hasil kebun yang dibawa jemaat, menjadi simbol kekayaan tradisi yang disatukan dalam semangat ibadah.
“Kami bersyukur karena tidak hanya warga Maluku yang terlibat, tetapi jemaat dari berbagai latar belakang turut antusias. Ini menunjukkan budaya menyatu dalam pujian dan pelayanan kepada Tuhan,” ujarnya.
Mengusung tema “Kebenaran yang Sejati”, Pdt. Makatita berharap ibadah ini menjadi momentum untuk membawa jemaat semakin takut akan Tuhan dan bertumbuh dalam iman.
Sementara itu, sesepuh IKEMAL Kayu Batu, Elisa Manuhutu, menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan, meskipun nilainya terbatas, merupakan bentuk ungkapan syukur atas anugerah Tuhan.
“Yang paling penting adalah kesadaran bahwa Tuhan telah memberikan kita nafas kehidupan. Maka apa pun yang kami berikan adalah wujud dari kerendahan hati dan rasa syukur,” tutupnya.
(Hr)








