Jayapura, Teraspapua.com– Persoalan beasiswa Otonomi Khusus (Otsus) Papua terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, khususnya para orang tua yang anak-anaknya sedang menempuh pendidikan baik di dalam maupun luar negeri.
Masalah keterlambatan pencairan dana hingga ketidakpastian pembayaran menjadi keluhan utama yang kembali mencuat dalam pertemuan calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM), bersama warga Dok IX Bawah, Kota Jayapura, Rabu (30/7/2025).
Tatap muka terbatas tersebut digagas oleh Relawan Solidaritas Papua BTM-CK dan dihadiri berbagai elemen masyarakat yang menyuarakan harapan serta aspirasi mereka kepada calon gubernur yang dikenal dekat dengan rakyat itu.
Salah satu warga, Mama Rita Fonataba, menyampaikan pengalaman pribadinya terkait beasiswa Otsus.
Ia bercerita bahwa keponakannya yang kuliah di Malang melalui program beasiswa Otsus kerap mengalami keterlambatan pengiriman dana bahkan hingga tidak mendapatkan kiriman sama sekali.
“Kami harus kirim uang sendiri ke Malang, jumlahnya bisa sampai tujuh sampai sepuluh juta rupiah. Ini berat, karena kondisi ekonomi kami pas-pasan,” ujar Mama Rita.
Ia menambahkan bahwa banyak anak muda Papua memiliki potensi akademik yang luar biasa, namun kerap terhalang biaya pendidikan.
Dalam kesempatan itu, ia meminta komitmen BTM untuk memantau program beasiswa dengan lebih serius dan memastikan dana benar-benar sampai ke penerima manfaat.
“Hari ini kita bicara tentang anak-anak muda. Sepuluh tahun ke depan, provinsi ini ada di tangan mereka. Jadi, tolong Bapak BTM pantau dan pastikan mereka dapat jaminan fasilitas dari pemerintah,” pintanya.
Menanggapi keluhan tersebut, Benhur Tomi Mano yang juga mantan Wali Kota Jayapura dua periode, menyatakan kesiapannya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan beasiswa Otsus Papua jika terpilih menjadi Gubernur Papua.
Ia menuturkan, selama menjabat Wali Kota Jayapura, dirinya sukses mengirim anak-anak Papua, baik yang asli maupun non-Papua, untuk menempuh pendidikan di berbagai universitas ternama, bahkan hingga ke luar negeri.
“Saya pernah kirim anak-anak Papua yang kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Bahkan yang IPK-nya 3,4 saya sekolahkan ke Amerika Serikat, dan semua berjalan baik,” kata BTM.
Namun, menurutnya, permasalahan pengelolaan beasiswa terjadi di tingkat Pemerintah Provinsi Papua, yang menyebabkan para orang tua harus tidur di kantor gubernur karena anak-anak mereka putus kuliah.
“Ini tidak boleh terjadi lagi. Kalau saya terpilih, saya akan tata ulang seluruh sistem beasiswa Otsus agar pembiayaan anak-anak Papua dijamin penuh oleh pemerintah provinsi, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tugas mereka hanya satu: belajar dengan sungguh-sungguh,” tegas BTM.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas masukan dari masyarakat yang akan menjadi catatan penting dalam menyusun kebijakan pendidikan jika dipercaya memimpin Papua.
“Terima kasih Mama untuk masukannya. Ini menjadi pegangan bagi saya untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem yang ada,” tambahnya.
Selain fokus pada beasiswa, BTM juga berkomitmen melanjutkan program pemerintah pusat yang digagas Presiden Terpilih RI 2024-2029, Prabowo Subianto, yaitu penyediaan makanan sehat dan bergizi gratis untuk pelajar.
“Program makan sehat dan bergizi untuk siswa akan saya jalankan juga di Papua. Anak-anak kita harus sehat agar bisa belajar dengan baik,” ujar BTM.
Dalam kesempatan itu, BTM juga mengingatkan masyarakat agar tidak salah memilih pemimpin pada Pemilihan Suara Ulang (PSU) mendatang.
Ia menegaskan bahwa Provinsi Papua membutuhkan sosok birokrat sejati yang mampu menata sistem pemerintahan secara profesional.
“Selama 10 tahun saya menjabat Wali Kota Jayapura, birokrasi saya tata dengan baik. Pemerintahan berjalan rapi. Maka provinsi ini harus dipimpin oleh orang yang paham birokrasi dan tahu bagaimana menata daerah ini,” ujarnya.
Menurut BTM, Papua memerlukan pemimpin yang bukan hanya populer, tetapi juga memiliki pengalaman dan kapasitas sebagai motor pemerintahan.
“Papua ini butuh motoris yang tangguh, bukan hanya pengendara biasa. Kita tidak bisa main-main karena masa depan anak-anak kita yang dipertaruhkan,” pungkasnya.
Dengan komitmen terhadap perbaikan pendidikan dan pengalaman panjang dalam birokrasi, BTM berharap masyarakat Papua memberikan kepercayaan kepadanya untuk membawa perubahan nyata dan menjamin masa depan generasi muda Papua.
(har/rck)













