BTM Kunjungi Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Tunjukkan Komitmen Terhadap Gereja dan Pelayanan Umat

BTM dan Ketua Sinode, Pdt. Andrikus Mofu saat berbincang di lantai 6 ( foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Calon Gubernur Papua, Pnt. Benhur Tomi Mano (BTM), menyambangi Kantor Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, yang berlokasi di Jalan Argapura, Kota Jayapura, Rabu (27/8/2025).

Kunjungan ini berlangsung sesaat setelah dirinya menghadiri prosesi peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Jemaat GKI Isak Samuel Kijne di Abepura.

Didampingi oleh sang istri, Ibu Kristhina Luluporo Mano, kehadiran BTM di Kantor Sinode disambut hangat oleh para pelayan gereja yang tengah sibuk melakukan berbagai persiapan menjelang peresmian gedung kantor Sinode yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 30 Agustus 2025.

Setelah tiba BTM yang juga merupakan wakil ketua Jemaat GKI Hen Wani Wai Mhorok meluangkan waktu untuk menyapa sejumlah pendeta dan staf Sinode yang terlibat dalam
persiapan acara. Kehadiran tokoh publik yang juga dikenal dengan komitmennya terhadap nilai-nilai keagamaan ini disambut antusias oleh para pengurus gereja.

Usai menyapa para pelayan Tuhan, BTM sempat berdiri sejenak di area lobi depan, tepat di hadapan meja resepsionis. Ia tampak mengamati suasana gedung dengan seksama sebelum melanjutkan kunjungannya meninjau beberapa ruangan yang ada di dalam kantor Sinode.

Dalam agenda tersebut, Benhur Tomi Mano bersam Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu. Keduanya kemudian menaiki lift menuju lantai enam, yang merupakan lantai tertinggi gedung Sinode.

Setibanya di lantai enam, BTM terlihat mengagumi pemandangan Kota Jayapura yang terbentang luas dari ketinggian. Dari jendela besar yang menghadap ke arah laut dan perbukitan, panorama ibu kota provinsi Papua itu terlihat begitu jelas dan menawan.

Momen tersebut dimanfaatkan sebagai ruang refleksi dan diskusi ringan. BTM bersama Pdt. Andrikus Mofu, Ketua Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen (BP YPK) di Tanah Papua Joni Y. Betaubun, serta Wakil Ketua Sinode, Pdt. Hizkiah Rollo, berbincang dalam suasana yang penuh kehangatan di ruang kerja Ketua Sinode.

Pembicaraan berlangsung cair namun tetap bernuansa serius, membahas berbagai isu strategis terkait peran gereja dalam pembangunan manusia Papua, terutama dalam bidang pendidikan, sosial, dan spiritual. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, BTM dikenal sebagai tokoh yang tidak hanya hadir secara seremonial, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap keberlangsungan lembaga-lembaga keagamaan di Tanah Papua.

Kunjungan ini tidak hanya bersifat kunjungan pribadi, tetapi menjadi simbol penting dari sinergi antara tokoh masyarakat, pemerintahan, dan institusi keagamaan. Dalam konteks Papua yang kental dengan nilai-nilai religius, kehadiran calon pemimpin daerah di tengah-tengah struktur pelayanan gereja merupakan wujud penguatan moralitas publik dan dukungan terhadap nilai-nilai spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat.

Sementara itu, Ibu Kristhina Luluporo Mano yang turut mendampingi suami, juga tampak menikmati suasana lantai enam. Ia berjalan santai sambil memandang ke luar jendela, mengamati keindahan Kota Jayapura dari sisi kiri dan kanan gedung. Dalam diam, tampak kekaguman yang sama akan pertumbuhan fisik dan spiritual lembaga ini sebagai bagian dari warisan iman yang terus hidup di tengah masyarakat Papua.

Kunjungan Benhur Tomi Mano ke Kantor Sinode GKI di Tanah Papua menandai momen penting yang memperlihatkan hubungan erat antara gereja dan kepemimpinan daerah. Dalam era pembangunan yang kian kompleks, sinergi semacam ini menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya Papua yang maju, damai, dan tetap berakar pada nilai-nilai iman.

GKI di Tanah Papua, sebagai salah satu lembaga keagamaan tertua dan paling berpengaruh di wilayah ini, tak sekadar menjalankan fungsi spiritual, tetapi juga turut aktif membangun peradaban melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pendampingan moral bagi umat.

Dalam konteks itu, keterlibatan tokoh seperti Benhur Tomi Mano memperlihatkan bahwa gereja tidak berjalan sendiri, melainkan memiliki mitra strategis dalam menata masa depan yang lebih baik bagi seluruh warga Papua.

(Nov/Ric)