Jayapura, Teraspapua.com – Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Daerah Pemilihan Provinsi Papua, Pendeta (Pdt.) David Harold Waromi, memperkenalkan Tani Merdeka Indonesia dalam acara sosialisasi bertajuk “Senator Peduli Ketahanan Pangan” yang berlangsung di Hotel Amazing Grace, Jayapura, pada Senin (13/10/2025).
Pdt. David Harold Waromi dipercayakan sebagai Ketua untuk wilayah Papua, dan tinggal tunggu pelantikan dari pimpinan pusat.
Dalam kegiatan yang difokuskan pada program penanaman jagung ini, Senator Pdt. David Waromi menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pertanian di Papua melalui kolaborasi antara program DPD RI dan organisasi Tani Merdeka Indonesia.
Organisasi tersebut merupakan hasil inisiatif dari berbagai elemen masyarakat pertanian, termasuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), tokoh tani, pemerhati pertanian, kelompok perikanan, dan kelompok peternakan dari seluruh Indonesia.
“Tani Merdeka Indonesia adalah organisasi yang telah disetujui oleh Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian RI, yang juga menjadi pembina langsung kami. Tujuan utama organisasi ini adalah meningkatkan pendapatan petani melalui akses pasar yang lebih baik, pelatihan pertanian modern, dan pemanfaatan teknologi pertanian inovatif,” ujar Senator Waromi dalam sambutannya.
Senator Waromi menekankan bahwa program pertanian yang dijalankan, khususnya penanaman jagung dan pengembangan komoditas kopi, bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat lokal. Ia juga menanggapi usulan dari Pdt. Esron Abisai, Kepala BPJS Sinode GKI Tanah Papua, yang merupakan Wakil Ketua Komunitas Petani Kopi di Kabupaten Jayapura.
“Kebetulan saya juga Ketua Tani Merdeka Indonesia Papua. Jadi, sambil program DPD RI berjalan, Tani Merdeka juga tetap aktif. Kami siap kolaborasi,” tegas Waromi.
Ia juga membagikan cerita tentang seorang pengusaha perempuan asal Semarang bernama Ibu Emi, yang memiliki restoran di Sungai Nil, Mesir. Permintaan kopi dari Indonesia di restoran tersebut cukup tinggi, sehingga Senator Waromi mendorong agar komunitas petani kopi Papua dapat berkoordinasi dan memanfaatkan peluang pasar ini.
“Kalau pembelinya ada, masyarakat pasti mau bekerja. Kita tinggal bicara teknis saja,” tambahnya.
Namun, Senator Waromi juga menyoroti tantangan regulasi di Indonesia yang sering kali menjadi penghambat masuknya investor, terutama dari luar negeri.
“Waktu saya di Jepang, Duta Besar Indonesia di Osaka menyampaikan bahwa banyak investor Jepang ingin masuk ke Indonesia. Tapi mereka khawatir karena regulasi di Indonesia sering berubah-ubah. Ini menjadi kendala besar yang harus kita atasi jika ingin serius mengembangkan pertanian kita,” jelas Waromi.
Dalam kesempatan yang sama, Pdt. Esron Abisai menyampaikan bahwa komunitas petani kopi di Kabupaten Jayapura, baik di Tanah Merah maupun Genyem, telah lama berjuang mengembangkan komoditas kopi secara mandiri. Meski telah mengajukan berbagai proposal kepada pemerintah daerah, hingga kini belum ada respons yang memadai.
“Kami tetap berjalan karena ini bukan sekadar program, tapi warisan dari orang tua kami. Kami ingin mendorong kearifan lokal ini agar terus berkembang, termasuk potensi kopi dari Ambaidiru di Serui,” ujar Pdt. Esron.
Ia juga memperlihatkan contoh produk kopi lokal dalam bentuk sachet siap konsumsi yang ia konsumsi setiap hari. Menurutnya, potensi lokal seperti kopi harus terus dikembangkan seiring dengan program jagung.
“Kita perlu kejelasan. Apakah jagung ini ditanam untuk dikonsumsi langsung, jadi makanan ternak, atau diolah lebih lanjut. Supaya masyarakat menanam dengan semangat karena tahu hasilnya akan dibeli dan dikelola,” tanyanya.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Senator Waromi menegaskan bahwa pasar untuk jagung sudah tersedia. Salah satu pembeli utama yang siap menyerap hasil panen adalah Perum Bulog.
“Untuk jagung, pembelinya sudah ada. Salah satunya adalah Bulog. Wakil Ketua DPD RI, Yorrys Raweyai, juga sudah menyatakan kesiapan untuk mendukung dari Maluku hingga Papua. Karena kalau tidak ada pembeli, siapa yang mau turun ke masyarakat” ujarnya.
Dengan adanya jaminan pasar, baik dari Bulog maupun pembeli potensial kopi dari luar negeri, Waromi mendorong para peserta sosialisasi untuk membentuk tim kajian agar setiap komoditas yang dibudidayakan dapat menghasilkan keuntungan nyata.
“Saya bisa bantu koordinasi dengan pasar. Tapi kita harus kerja secara terstruktur. Harus ada tim, ada perencanaan, dan ada keberanian untuk melangkah,” pungkas Senator Waromi.
Dengan sinergi antara program pemerintah, organisasi masyarakat tani, dan potensi lokal seperti kopi dan jagung, Senator Pdt. David Waromi berharap Papua dapat menjadi contoh dalam pengembangan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Ia juga menekankan bahwa komitmen dan kerja keras semua pihak, termasuk pemerintah daerah, sangat diperlukan agar hasil pertanian Papua benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
(Har)














