Jayapura, Teraspapua.com – Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai moral force dan critical force dalam mengawal arah pembangunan Papua di tengah dinamika perubahan zaman yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan Betaubun saat membawakan materi bertajuk “Peran Mahasiswa dalam Mengawal Program, Strategi, dan Tantangan Zaman” pada kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih (FKM UNCEN), di Aula FKM UNCEN, Jumat (5/12/2025).
Dalam paparannya, Betaubun menekankan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur, inovasi teknologi, dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di Papua harus dikawal secara kritis oleh mahasiswa sebagai kelompok intelektual. Sebagai Ketua Komisi IV yang membidangi infrastruktur, SDA, serta informasi dan telekomunikasi, ia menilai partisipasi mahasiswa sangat menentukan keberhasilan pembangunan yang berkeadilan.
“Pembangunan jalan, jembatan, energi, air bersih, internet, hingga tata kelola SDA membutuhkan pengawasan publik yang ilmiah dan berkeadaban. Itu peran historis mahasiswa yang tidak boleh hilang,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan analitis, akses terhadap ilmu pengetahuan, serta kebebasan akademik untuk membaca persoalan secara objektif. Karena itu, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan.

“Mahasiswa harus menjadi mitra kritis pemerintah sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kebijakan,” ujarnya.
Betaubun turut menyoroti berbagai tantangan era digital yang dihadapi Papua, seperti kesenjangan infrastruktur, ketidakmerataan akses telekomunikasi, potensi konflik pengelolaan SDA, misinformasi, hingga tekanan ekonomi global. Menurutnya, mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial, pola pikir strategis, dan kemampuan kolaboratif untuk menjawab berbagai tantangan tersebut.
Ia memaparkan beberapa bentuk kontribusi strategis mahasiswa, antara lain, melakukan riset kecil, survei lapangan, dan observasi sosial, menyusun kajian kebijakan dan policy brief, melakukan audiensi dengan pemerintah dan membangun literasi publik untuk menjelaskan kebijakan secara sederhana kepada masyarakat.
“Mahasiswa bukan hanya mengkritik, tetapi memberikan solusi argumentatif berbasis data,” kata Betaubun.
Betaubun menegaskan bahwa integritas, etika, dan disiplin merupakan tiga pilar utama yang wajib dimiliki mahasiswa sebagai calon pemimpin.
“Kualitas karakter lebih penting daripada sekadar kemampuan akademik. Pemimpin masa depan lahir dari karakter yang benar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengembangan kapasitas diri melalui penguasaan ilmu, pengelolaan emosi, pembiasaan positif, serta kemampuan berjejaring dalam organisasi seperti BEM, GMKI, HMI, GMNI, PMKRI, PMII, Pemuda Gereja, dan Remaja Masjid.
“Mahasiswa UNCEN adalah harapan besar Papua. Ruang kolaborasi antara mahasiswa dan DPR Papua selalu terbuka,” tandas Betaubun.

Pembantu Dekan III FKM Universitas Cenderawasih, Sherly Mamoribo, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran serta materi yang disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPR Papua. Menurutnya, materi tersebut sangat relevan bagi mahasiswa FKM sebagai calon pemimpin di bidang kesehatan masyarakat.
“Materi yang diberikan Bapak Joni Betaubun membangun kemandirian mahasiswa dan mempersiapkan mereka menjadi pemimpin muda Papua dalam konsep kesehatan masyarakat,” kata Sherly.
Ia menekankan pentingnya mahasiswa memahami berbagai bidang lintas sektor seperti politik, ekonomi, sosial, hingga pendidikan untuk memperkuat kemampuan komunikasi serta membaca dinamika sosial di masyarakat.

“Mahasiswa harus kreatif, inovatif, dan mampu menunjukkan karakter anak-anak Papua yang memimpin dengan komunikasi yang baik serta perilaku yang dilandasi kasih,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua BEM FKM UNCEN, Yoti Loho, menyampaikan apresiasi atas kesediaan Joni Y. Betaubun hadir memberikan materi yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan Papua.
“Mahasiswa perlu mendapatkan pemahaman langsung dari para pemangku kebijakan agar dapat berperan aktif dalam advokasi publik,” ujar Yoti.
Ia menegaskan bahwa proses pembelajaran tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan seperti LDKM yang memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa FKM maupun fakultas lain yang turut hadir.
“Materi ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa, tidak hanya untuk menjadi promotor kesehatan, tetapi juga calon pemimpin masa depan yang kritis dan berkarakter,” katanya.
Kegiatan LDKM tahun ini melibatkan delapan fakultas di Universitas Cenderawasih dengan jumlah peserta sekitar 250 orang.
Di akhir kegiatan, Betaubun kembali mengingatkan bahwa dirinya hadir juga sebagai alumni Universitas Cenderawasih.
“Saya memberikan motivasi dan semangat bagi generasi muda Papua. Jika ingin menjadi pemimpin, harus belajar hal-hal yang tidak diajarkan dalam teori, yaitu melalui organisasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan yang harus berani menunjukkan kapasitas intelektual dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.
“Mahasiswa harus menjadi agent of change yang mampu mendorong perubahan di pemerintahan, sekaligus memperjuangkan suara rakyat,” tutup Betaubun.
(Har)
















