Biak, Teraspapua.com – Pagi itu, Minggu 8 Juni 2025, suasana Kampung Karnindi, Biak Barat, Kabupaten Biak Numfor, terasa lebih sejuk dari biasanya.
Udara segar menyapu lembut pesisir pantai, di mana warga yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan mulai bersiap menjalani ibadah minggu. Namun pagi ini berbeda, suasana lebih hidup, penuh harap, dan syahdu.
Sosok yang dinantikan telah tiba. Constant Karma, putra asli Kampung Dwar, Biak Utara, menginjakkan kakinya, ditemani sang istri tercinta, ibu Regina Rumbiak Karma, seorang perempuan Numfor.
Ia datang bukan sebagai calon pejabat semata, melainkan sebagai bagian dari jemaat, sebagai bagian dari keluarga besar Biak, yang kembali untuk menyatu dalam doa dan syukur bersama masyarakat.
Mobil yang ditumpangi Constant Karma perlahan berhenti di tepian jalan kampung. Alam pun seakan menyambut: hujan rintik-rintik turun tipis, membawa kesan sakral dalam langkah-langkah kecil yang ia ambil menuruni jalanan berbatu menuju gereja di tepi laut.
Warga—anak-anak, orang tua, penatua gereja menyambutnya dengan penuh suka cita. Ada tarian adat, ada nyanyian, ada tatapan haru yang tak bisa disembunyikan.
Hujan berhenti. Langit perlahan cerah. Matahari mulai menembus awan. Laut tampak teduh. Suasana yang menyatu sempurna seperti pelukan alam atas kembalinya seorang anak kampung setelah bertahun-tahun jauh dari tanah leluhur.
Bagi Constant Karma, momen ini menyentuh relung terdalam hatinya. “Ada getaran yang tidak bisa saya jelaskan ketika menginjakkan kaki kembali di tanah karang panas ini,” ungkapnya kemudian dengan suara bergetar.
Jarak dari titik penjemputan ke gedung gereja sekitar 200 meter. Bersama sang istri dan para penari adat, Constant berjalan perlahan. Jemaat berdatangan. Jam menunjukkan pukul 09.30 WIT ketika gereja mulai dipadati. Gedung kecil itu yang dibangun sejak tahun 1972, menjadi saksi bisu betapa umat di kampung ini merindukan kebersamaan dalam ibadah.
Gereja tua yang berdiri di atas hamparan pasir putih itu memiliki cara unik dalam mencatat jumlah jemaat: seorang majelis duduk di belakang dengan wadah kecil berisi lidi.
Setiap orang yang masuk dihitung, anak-anak, dewasa, laki-laki, perempuan, satu lidi satu jiwa. Praktik ini masih lestari, berbeda dengan gereja-gereja di kota besar yang serba digital dan cepat.
Lonceng gereja pun dibunyikan, menggema di pesisir pantai bertanda ibadah segera dimulai. Anak-anak berlarian di bawah pohon kelapa. Sebagian berdiri di luar karena ruangan sudah penuh.
Namun ketika firman Tuhan dibacakan, semua berdiri di luar maupun di dalam. Mereka membuka Alkitab, membaca bersama. Kesungguhan itu nyata.
Ibadah dimulai pukul 09.40 WIT dan dipimpin oleh, Penatua Naftali Womsior. Constant Karma dan Ibu Regina duduk di bangku depan sisi kiri, didampingi oleh mantan Wakil Bupati Biak Numfor, Calvin Mansebra.
Suasana menjadi semakin khidmat ketika puji-pujian dibawakan oleh anak-anak dan remaja dalam bahasa daerah. Lagu-lagu itu bukan sekadar lantunan, tapi juga doa-doa dari generasi muda yang mencintai Tuhan dan tanah leluhurnya.
Constant tampak larut. Matanya sesekali berkaca-kaca. Ibadah ini bukan sekadar seremonial, melainkan pertemuan spiritual antara pribadi dan penciptanya di rumah-Nya yang paling hakiki.
Gedung gereja ini memang sederhana—bangunan tua dari tahun 1972 dengan pastori yang berupa rumah papan bergaya rumah gantung yang menghadap langsung ke laut.
Tapi di balik kesederhanaan itu, tersimpan kekuatan iman yang besar. Jemaat di sini mungkin kecil dalam jumlah, tapi besar dalam pengharapan.
Kampung Karnindi juga dikenal sebagai destinasi wisata alam. Dahulu, pasir putih membentang sampai ke bawah pohon kelapa. Namun abrasi telah mengikisnya. Kini hanya tersisa kenangan dan tekad warga untuk terus menjaga warisan alam dan iman mereka.
Usai ibadah, masyarakat menjamu Constant Karma dalam acara makan bersama yang diawali dengan tradisi barapen atau bakar batu, ritual khas Papua untuk menyambut tamu kehormatan dan merayakan kebersamaan.
Sebelum menyantap hidangan, Constant membuka acara barapen dengan doa dan ucapan terima kasih atas sambutan hangat yang ia terima.
“Saya kembali bukan hanya sebagai calon pemimpin, tetapi sebagai anak kampung ini. Mari kita terus bersatu, menjaga iman, budaya, dan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Kisah kunjungan Constant Karma di Kampung Karnindi bukan sekadar cerita politik atau pencitraan. Ia adalah cerita tentang akar, tentang rumah, tentang bagaimana kehidupan yang ramah dan bersahajah
Dan di gereja tua yang berdiri teguh di ujung pantai itu, harapan untuk Papua yang damai dan sejahtera kembali dipanjatkan, bukan oleh satu orang, tapi oleh seluruh hati yang hadir.
(Hr)














