Tim BTM-CK Ungkap Dugaan Modus Kecurangan Hitung Cepat Paslon 02: Total Persentase Suara Sampai 100,80%: Terjadi Overlap Dari Kapasitas Suara

Jayapura, Teraspapua.com – Tim pemenangan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK), mengungkap dugaan adanya upaya manipulasi data hasil pemungutan suara oleh pasangan calon nomor urut 2 Matius Fakiri dan Aryoko Rumaropen (Mari-Yo) yang disebut telah mengklaim kemenangan secara sepihak melalui hasil quick count tanpa dasar yang sah.

Panji Agung Mangkunegoro, bagian Komunikasi Politik Tim BTM-CK, menyampaikan bahwa pihaknya menemukan kejanggalan dalam metode hitung cepat yang digunakan oleh pihak paslon 02.

Menurutnya, quick count tersebut dilakukan secara tidak profesional dengan menggunakan aplikasi spreadsheet seperti Microsoft Excel, yang bahkan menunjukkan total persentase suara melebihi angka 100%.

“Kami melakukan analisa dan dalam waktu satu hari menemukan bahwa mereka menggunakan ketikan Excel dengan formula tambah-kurang yang tidak presisi. Bahkan hasilnya menunjukkan total persentase suara sebesar 100,80%. Artinya, terjadi overlap atau kelebihan dari kapasitas suara yang seharusnya ada. Ini sangat tidak masuk akal,” ujar Panji dalam konferensi pers di Jayapura, Kamis (7/8/2025).

Panji menambahkan bahwa metode tersebut digunakan untuk membentuk opini publik seolah-olah mereka telah memenangkan pemilihan. Padahal, menurutnya, cara itu adalah bagian dari modus untuk melakukan rekayasa data, yang pada akhirnya bertujuan menggelembungkan suara melalui lobi-lobi politik terhadap penyelenggara pemilu, termasuk panitia pemilihan distrik (PPD) dan KPU.

“Mereka mulai dengan mengklaim kemenangan melalui data quick count palsu, lalu melanjutkan dengan upaya lobi ke TPS, PPD, dan KPU untuk melakukan mark-up suara. Ini kerja kotor yang harus diawasi oleh publik,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Panji menegaskan bahwa pihak BTM-CK berpegang teguh pada data yang sah dan dapat diverifikasi, yaitu formulir C1 yang merupakan hasil resmi
perolehan suara di setiap TPS. Menurutnya, ini adalah satu-satunya dasar hukum yang valid dalam menentukan perolehan suara.

“Kami tidak membuat data sendiri, kami hanya mengikuti hasil dari C1 yang ditandatangani saksi dan pengawas. Jadi, tidak ada manipulasi di sana. Ini yang harus dijaga bersama,” katanya.

Ia juga meminta seluruh tim sukses BTM-CK, masyarakat Papua, serta pengawas pemilu untuk mengawasi proses penghitungan suara mulai dari TPS hingga ke tahapan pleno di PPD dan KPU.

“Klaim kemenangan palsu ini adalah bagian dari strategi untuk mengelabui publik. Mereka menciptakan opini untuk menciptakan ruang lobi dan negosiasi, bahkan potensi jual-beli suara. Ini harus dihentikan,” tandasnya.

Sementara itu, YuLianus Dwa, pemuda dari wilayah adat Tabi yang juga merupakan anggota tim media sosial BTM-CK, memberikan pernyataan tegas agar seluruh pihak menjaga proses demokrasi yang sudah berjalan dengan baik selama dua tahun terakhir ini.

“Kami ingin menyampaikan kepada masyarakat Papua, khususnya di wilayah adat Tabi dan Saireri, bahwa proses panjang ini tidak boleh dikotori oleh tindakan-tindakan yang mencederai demokrasi. Rakyat telah memilih, dan itu harus dihormati,” ujarnya.

Yulianus juga mengimbau para pendukung masing-masing paslon untuk menahan diri dan menjaga keamanan serta kedamaian Papua. Ia meminta agar seluruh tokoh masyarakat,
baik adat, agama, maupun perempuan, turut mengawal suara rakyat agar tidak dicurangi.

“Proses pada tanggal 6 Agustus 2025 berjalan damai, tidak ada kerusuhan. Itu harus kita jaga bersama. Jangan sampai suara rakyat yang sudah diberikan dengan tulus disabotase oleh ambisi kekuasaan pihak tertentu,” katanya.

YuLianus juga memberikan pesan khusus kepada penyelenggara pemilu untuk menjaga integritas dan tidak mudah tergoda oleh tekanan politik atau tawaran tertentu. Ia menyinggung kasus sebelumnya di mana ada penyelenggara pemilu menjadi korban akibat permainan kotor dalam kontestasi politik.

“Jangan sampai kalian menjadi korban berikutnya dari ego kandidat atau individu yang ingin merebut kekuasaan dengan cara-cara tidak sehat. Jagalah martabat dan kejujuran kalian,” pesannya.

Ia juga mengajak para tokoh yang dianggap senior dan berpengaruh, termasuk yang memiliki latar belakang militer, agar bersikap ksatria dan berjiwa besar dengan mengakui keunggulan pihak lain jika memang terbukti demikian secara sah.

“Mengakui kelebihan orang lain itu bukan kelemahan, tapi justru bentuk kehormatan sejati. Itu yang membuat rakyat bisa menaruh hormat,” ujarnya.

Mengakhiri pernyataannya, politisi Hanura itu mengingatkan bahwa kecurangan dalam proses demokrasi hanya akan memicu kemarahan rakyat. Bila kepercayaan publik terhadap proses pemilu rusak, hal itu akan berdampak buruk terhadap legitimasi pemerintahan dan stabilitas daerah.

“Jangan buat rakyat marah. Ketika rakyat sudah tidak percaya, maka bukan hanya sistem yang rusak, tapi juga kepercayaan terhadap negara yang akan hilang,” tegasnya.

(har)