Jayapura, Teraspapua.com – Anggota DPR Kota Jayapura, Peter Parasi Tambunan, memberikan sejumlah masukan kepada Dinas Pariwisata Kota Jayapura terkait pengembangan ekonomi kreatif, khususnya di bidang perfilman serta penguatan promosi produk budaya lokal.
Hal tersebut disampaikan Peter saat menanggapi program pengembangan ekonomi kreatif yang dijalankan oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura. pada acara sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Jayapura Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Ekonomi Kreatif di dinas Pariwisata Kota Jayapura.
Ia menilai potensi anak muda di Kota Jayapura dalam bidang kreatif, terutama produksi film pendek dan konten digital, perlu diberi ruang serta pembinaan yang lebih serius.
Menurut Peter, di era digital saat ini promosi pariwisata tidak lagi hanya mengandalkan metode konvensional, tetapi juga melalui media sosial dan berbagai platform digital yang banyak digunakan oleh generasi muda.
“Saya melihat di sini ada potensi besar dalam ekonomi kreatif, khususnya di bidang perfilman. Jika Dinas Pariwisata memiliki program pembinaan atau sedang mencari masyarakat yang bisa dilibatkan, saya secara pribadi memiliki kenalan yang pernah meraih juara dua dalam lomba film pendek tingkat nasional,” ujarnya.
Ia berharap potensi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda Jayapura untuk terlibat langsung dalam pembuatan film-film promosi daerah.
Peter menilai, karya film pendek yang dibuat oleh anak-anak muda lokal dapat menjadi media promosi efektif untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan potensi wisata Kota Jayapura kepada masyarakat luas melalui media sosial.
“Saya ingin di era digital ini promosi melalui media sosial bisa lebih dimaksimalkan. Anak-anak muda Jayapura harus diberi kesempatan dan dibina agar bisa membuat film-film promosi tentang daerahnya sendiri,” katanya.
Selain sektor perfilman, Peter juga menyoroti potensi produk budaya lokal yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikembangkan secara serius. Salah satu yang ia sebutkan adalah kerajinan tembikar bakar yang merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat lokal.
Ia mendorong agar produk budaya tersebut dapat difasilitasi pemerintah untuk mendapatkan perlindungan hak kekayaan intelektual, termasuk kemungkinan dipatenkan serta dipromosikan dalam berbagai kegiatan pariwisata.
“Produk budaya lokal seperti tembikar bakar ini perlu mendapat perhatian. Mungkin bisa dibantu dalam proses pematenan atau dipromosikan dalam berbagai event pariwisata di Kota Jayapura,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Peter juga menyampaikan bahwa dirinya memiliki relasi yang sering dilibatkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memberikan pelatihan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pelatihan tersebut, kata dia, berfokus pada peningkatan kemampuan pelaku UMKM dalam memasarkan produk secara digital melalui berbagai platform e-commerce.
“Relasi saya ini sering digunakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM agar bisa memasarkan produknya melalui platform digital seperti Shopee dan Tokopedia,” jelasnya.
Menurut Peter, pelatihan tersebut terbukti memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha. Bahkan dalam beberapa kesempatan, para peserta pelatihan mampu langsung melakukan penjualan dalam jumlah besar melalui platform digital pada hari yang sama.
“Sudah beberapa kali ditunjukkan bahwa setelah mengikuti pelatihan, pada hari yang sama para pelaku UMKM sudah bisa melakukan penjualan hingga ribuan produk melalui platform digital,” katanya.
Ia berharap Dinas Pariwisata Kota Jayapura dapat membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk para pelatih dan praktisi di bidang ekonomi digital, guna memperkuat kapasitas pelaku ekonomi kreatif di daerah.
Dengan dukungan pembinaan yang tepat, Peter optimistis generasi muda serta pelaku UMKM di Kota Jayapura dapat menjadi motor penggerak promosi pariwisata sekaligus penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
(har)















