Jayapura, Teraspapua.com – Suhu politik di Papua terus memuncak. Menjelang pemungutan suara ulang (PSU) dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, tensi politik berubah drastis dari sekadar ketegangan menjadi bara yang siap menyala. Aktivitas politik mulai terasa di berbagai penjuru, namun medan tempur sesungguhnya justru berada di dunia digital.
Media sosial kini berubah menjadi ajang adu serang antarpendukung. Facebook, TikTok, hingga grup WhatsApp dibanjiri komentar tajam, sindiran pedas, dan unggahan yang memprovokasi.
Banyak narasi simpang siur beredar, dari klaim kemenangan hingga tuduhan yang memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat.
“Setiap buka HP, isinya saling serang. Kami ini masyarakat biasa hanya ingin pemilu damai, bukan drama tiap hari,” keluh Lukas, warga Jayapura. Ia mengaku lelah dengan suasana panas ini, dan menyampaikan apresiasinya kepada pasangan BTM-CK yang tetap menjaga ketenangan.
Pasangan calon nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM) dan Constant Karma (CK), memang memilih jalur berbeda. Di tengah riuh rendah politik digital, mereka justru tampil tenang, tak terpancing arus provokasi. Fokus mereka tetap sama: membangun Papua melalui pendekatan langsung kepada masyarakat.
Dalam beberapa minggu terakhir, BTM-CK gencar melakukan pertemuan terbatas dan dialog dengan warga di kampung-kampung.
Mereka hadir bukan untuk menyebar janji kosong, melainkan untuk menyimak suara rakyat secara langsung. “Kami tidak ingin rakyat terjebak dalam konflik karena politik. Demokrasi harusnya membawa harapan, bukan ketakutan,” ujar CK dalam salah satu kunjungan di pesisir Sentani.
Sikap tenang ini turut dijaga oleh tim sukses mereka. Marsel Morin, salah satu juru bicara BTM-CK, menyatakan bahwa mereka tidak akan ikut bermain di ranah serangan dunia maya. “Fokus kami kerja nyata. Rakyat sudah cerdas menilai. Kami tidak ingin Papua rusak hanya karena adu mulut di medsos,” tegasnya.
Menariknya, meski BTM-CK tetap aktif menyapa rakyat, sebagian masyarakat mengaku masih menantikan kehadiran mereka secara lebih luas di titik-titik strategis lainnya.
“Kami senang BTM-CK turun langsung, tapi kami juga ingin lihat kehadiran mereka di daerah pinggiran, di tempat kami juga,” ujar Fitri, warga Keerom.
Harapan dan kerinduan masyarakat akan pemimpin yang dekat dan tidak hanya hadir saat kampanye formal menunjukkan bahwa rakyat Papua tak hanya butuh visi, tapi juga bukti kedekatan. Meski BTM-CK menunjukkan ketenangan dan kedewasaan politik, rakyat tetap menanti sentuhan nyata mereka hingga ke akar rumput.
Kini, hanya tinggal hitungan hari menuju PSU. Sorotan publik semakin tajam, emosi kian meluap, dan pilihan politik menjadi percakapan harian. Di tengah semua itu, masyarakat mulai membedakan mana calon yang menyejukkan dan mana yang justru memecah belah.
Papua sedang menulis babak baru dalam sejarahnya. Di tengah gempuran informasi dan derasnya provokasi digital, rakyat tetap memegang kendali arah. Apakah ketenangan, kedewasaan, dan ketulusan yang akan menang? Semua akan terjawab di bilik suara.
(Arc)














