Kasonaweja, Teraspapua.com – Tak semua pemimpin mampu menyentuh hati rakyat hanya dengan kehadiran. Namun itulah yang terjadi saat Benhur Tomi Mano (BTM), Calon Gubernur Papua, pertama kali menginjakkan kakinya di Kabupaten Mamberamo Raya.
Sambutan luar biasa dari ratusan warga menjadi bukti nyata bahwa nama BTM sudah lama tertanam di hati masyarakat, bahkan sebelum ia secara fisik hadir di wilayah yang dijuluki sebagai Nadi Tanah Papua itu.
Kamis (19/6/2025) sore, dermaga Pelabuhan Kasonaweja dipenuhi lautan manusia. Mereka datang dari berbagai penjuru, mengenakan pakaian adat, baju nasional, dan atribut partai politik pendukung seperti PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Nusantara (PKN).
Semua berkumpul untuk menyambut satu sosok. Benhur Tomi Mano, yang datang bersama sang istri tercinta, Kristina Luluporo Mano, dan rombongan, menumpang KM Cantika Lestari 77.
Sorak-sorai pecah begitu kapal sandar. Dalam prosesi adat yang dipimpin langsung Ketua Dewan Adat Mamberamo Raya, Albert Bilasi, BTM dan istri disambut hangat dengan pengalungan bunga serta pemakaian topi adat sebagai simbol penghormatan dan penerimaan.
“Saya anak Tabi. Saya anak Tuhan. Terpujilah nama Tuhan,” ujar BTM penuh haru di sela-sela prosesi penyambutan yang kental dengan nilai-nilai budaya dan spiritualitas lokal.
Namun, penyambutan itu belum berakhir. Sebuah kursi tandu disiapkan, dan BTM diangkat tinggi oleh sejumlah pria yang memikulnya di atas bahu mereka, berjalan kaki
sejauh satu kilometer menuju lokasi yang akan digunakan sebagai tempat kampanye keesokan harinya.
Sepanjang jalan, warga menyanyi dan menari dalam irama tradisional yang semarak, seolah menyampaikan pesan bahwa BTM bukan hanya seorang calon gubernur, tetapi pemimpin sejati mereka.
“Dengan nama Tuhan saya menginjakkan kaki di Tanah Mamberamo Raya. Saya akan menang sebagai Gubernur Papua,” teriak BTM lantang saat diturunkan dari kursi tandu, disambut tepuk tangan dan sorakan dukungan dari massa yang hadir.
Sementara itu, Ketua Dewan Adat Mamberamo Raya, Albert Bilasi, menyampaikan harapan dan keyakinannya di hadapan masyarakat.
“Sebelum Pak Gubernur turun dari kursinya dan masuk ke sekretariat ini, saya ingin pastikan bahwa semua masyarakat memilih BTM sebagai Gubernur,” ujarnya dengan tegas, lalu mempersilakan BTM masuk ke sekretariat yang telah disiapkan.
Bilasi pun menegaskan komitmen masyarakat adat terhadap BTM. “Kami sudah pilih Bapa sebagai Gubernur dan sudah terpilih. Tapi kemana suara kami? Kami tetap akan kembalikan kemenangan di Tanah Kawera,” lanjutnya, menyuarakan semangat kolektif warga yang merasa memiliki dan memperjuangkan pemimpin pilihan mereka.
Usai rangkaian penyambutan, Albert Bilasi kembali mengingatkan warga bahwa kegiatan hari itu hanyalah pembuka. Kampanye resmi akan digelar esok hari di lokasi yang sama.
“Besok kita akan kampanye di tempat ini, dan prosesi penjemputan tetap dilakukan. Mari kita bubar dan berkumpul lagi esok hari,” katanya disambut suka cita warga yang perlahan membubarkan diri dengan tertib, mengantar BTM ke tempat penginapannya.
Pantauan di lapangan, antusiasme masyarakat Mamberamo Raya terhadap BTM mencerminkan bukan hanya dukungan politik, tetapi juga hubungan emosional dan budaya yang kuat.
Sosok Benhur Tomi Mano dianggap membawa harapan baru bagi Papua. Dengan pengalaman kepemimpinan dan pendekatan humanisnya.
BTM tampaknya tidak sekadar menjadi kandidat gubernur, tetapi simbol kebangkitan dan penyatuan rakyat Papua dari berbagai suku dan wilayah.
(Rc/Nv)














