Jayapura, Teraspapua.com – Menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur Papua yang dijadwalkan pada 6 Agustus 2025, dinamika politik di Tanah Papua semakin menghangat.
Salah satu kandidat kuat, Benhur Tomi Mano (BTM), terus aktif melakukan safari politik ke berbagai wilayah, menyapa langsung masyarakat hingga ke akar rumput. Tujuannya bukan hanya untuk memperkenalkan visi dan misi, tetapi juga membangun kedekatan emosional dan merangkul dukungan warga.
Didampingi calon wakil gubernur Constant Karma, BTM gencar menyosialisasikan program-program strategis untuk membangun Papua yang lebih inklusif dan sejahtera.
Meski demikian, di tengah antusiasme kampanye, tidak sedikit kritik dilontarkan kepada mantan Wali Kota Jayapura dua periode ini.
Kritik itu datang dari berbagai kalangan, baik terkait kebijakan selama menjabat, gaya kepemimpinan, hingga serangan pribadi yang kerap menghiasi ruang publik dan media sosial.
Menanggapi hal tersebut, BTM memilih bersikap tenang dan dewasa. Ia memandang kritik sebagai bagian penting dari dinamika demokrasi.
“Kritik bukanlah ancaman, melainkan bentuk perhatian masyarakat terhadap jalannya pemerintahan. Justru dari kritik itulah BTM belajar, mengevaluasi, dan memperbaiki diri,” ujar Marsel Morin Juru Bicara BTM,-CK, Minggu (22/6/2025).
Sebagai figur yang telah lama berkecimpung di birokrasi pemerintahan dari Camat, Kepala Badan Pendapatan Daerah, hingga dua periode memimpin Kota Jayapura, BTM sudah terbiasa menerima kritik, baik yang konstruktif maupun yang bersifat menyerang.
“BTM tidak pernah menanggapi kritik dengan kemarahan. Kritik adalah cermin bagi seorang pemimpin. Dari sana dirinya bisa melihat sisi-sisi yang harus diperbaiki,” lanjutnya.
Marsel menegaskan BTM bukanlah pemimpin yang anti kritik. Justru ia menjadikan setiap suara masyarakat sebagai bahan evaluasi dalam merancang dan menata pembangunan yang lebih tepat sasaran, utamanya demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua di kota maupun delapan kabupaten.
Berbeda dengan sejumlah tokoh yang memilih jalur hukum menghadapi kritik, BTM justru membuka ruang dialog. Ia tak pernah memidanakan para pengkritiknya. Sebaliknya, ia mengajak mereka berdiskusi secara terbuka demi menyerap aspirasi dan menjembatani kesenjangan komunikasi antara pemerintah dan rakyat.
“Jika kita mempidanakan orang yang bersikap kritis, maka kita sedang membungkam ruang berpikir. Demokrasi sehat membutuhkan suara-suara kritis, terutama dari para akademisi, aktivis sosial, dan masyarakat umum” tegas Marsel.
Menurutnya, membiarkan ruang kritik tetap hidup justru menjadi jaminan bahwa pembangunan berjalan dengan pengawasan sosial yang sehat dan partisipatif.
Sikap terbuka BTM terhadap kritik mendapat apresiasi dari masyarakat. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang humanis, inovatif, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap rakyat kecil.
Selama 10 tahun menjabat sebagai Wali Kota Jayapura, ia dinilai berhasil membawa perubahan signifikan di berbagai sektor , mulai dari infrastruktur, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga reformasi birokrasi.
Meski tak lepas dari sorotan, sebagian besar warga menilai kepemimpinan BTM sebagai periode yang progresif. Ia dinilai berhasil menata kota, membangun sistem pemerintahan yang berwibawa, serta menjunjung tinggi prinsip transparansi dan pelayanan publik yang merata.
“Tidak semua orang bisa melihat proses. Tapi saya yakin, masyarakat yang merasakan langsung hasilnya tahu bahwa kerja BTM nyata,” ucapnya dengan optimistis.
Kini, dengan membawa semangat baru dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Papua 2025, BTM menawarkan sebuah visi besar: membangun Papua yang adil, sejahtera, dan terbuka terhadap kritik.
Ia percaya bahwa Papua hanya bisa maju jika semua elemen dilibatkan secara aktif dalam pembangunan, termasuk suara-suara kritis dari masyarakat.
“Suara rakyat, termasuk yang mengkritik, adalah bagian dari denyut demokrasi. Sebagai calon pemimpin, saya justru merasa bersyukur dan berterima kasih atas perhatian itu,” pungkasnya.
(Hr/Nv)














