Abisai Rollo Cek Lokasi Banjir di Imbi, Sedimentasi dan Sampah Jadi Penyebab

JAYAPURA, Teraspapua.com – Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, meninjau langsung kondisi pascabanjir yang melanda kawasan Dok 9, meliputi RT 01, RT 02, dan RT 03/RW 007, Kelurahan Imbi, Distrik Jayapura Utara, Jumat (10/4/2026), setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Dalam peninjauan itu, Wali Kota mendapati sejumlah rumah warga terdampak akibat luapan air dari saluran drainase utama serta aliran air yang turun dari kawasan perbukitan. Ia mengungkapkan, salah satu penyebab utama banjir adalah tingginya sedimentasi di saluran air, yang menghambat aliran saat curah hujan meningkat.

“Saluran air yang besar itu dipenuhi sedimen cukup tinggi. Ketika hujan deras, air tidak mampu tertampung dan akhirnya meluap ke permukiman warga,” ujarnya.

Selain sedimentasi, kondisi drainase lingkungan yang tersumbat sampah juga memperparah situasi. Saluran-saluran kecil di sekitar permukiman warga tidak berfungsi optimal, sehingga aliran air terhambat dan menyebabkan genangan hingga masuk ke rumah.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Jayapura berencana menurunkan alat berat berupa excavator berukuran kecil untuk membersihkan saluran air yang mengalami pendangkalan dan penyumbatan. Penggunaan alat kecil dipilih karena akses jalan di kawasan tersebut relatif sempit.

“Kami akan turunkan excavator kecil untuk membersihkan saluran air yang penuh sedimen dan sampah. Ini penting agar aliran air kembali normal,” kata Abisai.

Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan, khususnya tidak membuang sampah sembarangan. Menurutnya, perilaku tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu banjir saat musim hujan.

“Kalau kita buang sampah sembarangan, dampaknya akan kembali kepada kita sendiri saat hujan turun,” tegasnya.

Selain persoalan sampah, Abisai turut menyoroti aktivitas di kawasan pegunungan, seperti penebangan hutan dan penggalian tanah untuk pendulangan emas. Aktivitas tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor.

“Jangan ada penebangan hutan maupun aktivitas penggalian tanah untuk mendulang emas, karena itu bisa menyebabkan banjir dan longsor yang membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi topografi Kota Jayapura yang terdiri dari wilayah pegunungan dan lembah membuat daerah ini rentan terhadap banjir, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Ditambah lagi, sebagian rumah warga di kawasan Dok 9 berada di dataran rendah, sehingga mudah terendam, terutama saat air laut dalam kondisi pasang.

“Air dari gunung turun ke laut, tetapi ketika air laut pasang, air bisa kembali naik dan masuk ke rumah warga yang posisinya rendah,” jelasnya.

Di akhir kunjungannya, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat Kota Jayapura untuk bersama-sama menjaga lingkungan, rutin membersihkan saluran air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.

“Saya harap masyarakat tetap berhati-hati dan menjaga lingkungan. Jangan sampai bencana terjadi akibat kelalaian kita sendiri. Mari kita rawat dan jaga kota ini bersama,” pungkasnya.