Pasca Bentrok Ariate – Tanah Goyang, Masyarakat Diminta Dukung Proses Hukum dan Jaga Stabilitas

Tokoh Pemuda Negeri Ariate, Stenly Siahaya

Batam, Teraspapua.com – Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), masih menjadi perhatian serius pasca bentrokan yang melibatkan pemuda Desa Ariate dan Dusun Tanah Goyang. Peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu itu tidak hanya meninggalkan korban luka dan trauma, tetapi juga mengguncang relasi sosial yang selama ini terbangun erat di antara kedua komunitas bertetangga tersebut.

Di tengah sisa ketegangan yang masih terasa, berbagai pihak mulai mendorong upaya pendinginan situasi. Salah satu suara yang mengemuka datang dari tokoh pemuda Negeri Ariate, Stenly Siahaya, yang secara terbuka menyampaikan seruan damai sekaligus imbauan tegas agar masyarakat tidak terjebak dalam provokasi yang berpotensi memperluas konflik.

Dalam pernyataannya, Stenly menekankan bahwa insiden tersebut harus dipandang sebagai musibah bersama, bukan sebagai alasan untuk memutus tali persaudaraan yang telah lama terjalin.

“Ini adalah peristiwa yang sangat kita sesalkan bersama. Hubungan antara Desa Ariate dan Dusun Tanah Goyang selama ini berjalan baik, penuh kebersamaan. Jangan biarkan emosi sesaat merusak ikatan yang sudah dibangun bertahun-tahun,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Menelusuri Dampak Sosial dan Potensi Konflik Lanjutan

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa bentrokan tidak hanya berdampak pada korban fisik, tetapi juga memunculkan trauma sosial dan kekhawatiran akan konflik susulan. Dalam situasi seperti ini, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, terutama di media sosial, dinilai menjadi salah satu faktor yang berpotensi memperkeruh keadaan.

Stenly mengingatkan bahwa narasi provokatif, baik yang disampaikan secara langsung maupun melalui platform digital, dapat memicu reaksi emosional berantai di tengah masyarakat.

“Jangan sampai kita ikut menyebarkan informasi yang memperkeruh keadaan. Media sosial bukan tempat untuk saling menyerang. Saat ini masyarakat butuh ketenangan, bukan provokasi,” katanya.

Dorongan Menghormati Proses Hukum

Ia juga menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk bekerja secara profesional dalam menangani kasus tersebut. Menurutnya, setiap upaya intervensi berupa opini liar atau tekanan publik yang tidak berdasar justru berpotensi menghambat proses penyelesaian.

“Saat ini persoalan sudah ditangani kepolisian. Semua pihak harus menghormati proses hukum. Jangan ada yang mencoba memancing situasi dengan narasi kebencian,” tegasnya.

Seruan ini sejalan dengan kebutuhan mendesak untuk mencegah terjadinya eskalasi konflik horizontal, yang dalam banyak kasus sering dipicu oleh aksi balasan dan sentimen kelompok.

Peran Tokoh Lokal dalam Meredam Ketegangan

Dalam konteks sosial Huamual yang dikenal menjunjung tinggi nilai adat dan persaudaraan, peran tokoh masyarakat dan tokoh pemuda menjadi krusial dalam menjaga stabilitas. Stenly mendorong seluruh elemen masyarakat dari kedua wilayah untuk mengambil peran aktif dalam meredam emosi dan membangun komunikasi damai.

“Kita semua bersaudara. Jangan karena satu persoalan, hubungan antar negeri rusak. Semua harus menahan diri dan berpikir untuk kepentingan bersama,” ujarnya.

Dampak Nyata bagi Masyarakat

Ia juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan berdampak langsung pada masyarakat kecil. Aktivitas ekonomi, rasa aman, serta kehidupan sosial warga menjadi taruhannya jika situasi tidak segera dipulihkan.

“Kalau kondisi terus dipanaskan, masyarakat kecil yang paling dirugikan. Aktivitas terganggu, rasa takut muncul. Karena itu, menjaga situasi tetap damai adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Stenly bersama sejumlah pemuda perantau meminta Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat dan aparat keamanan segera mengambil langkah konkret dalam membangun rekonsiliasi antara kedua pihak.

Ia menekankan pentingnya kehadiran negara sebagai penengah yang mampu meredam ketegangan sekaligus memulihkan hubungan sosial yang sempat terganggu.

“Kami percaya pemerintah dan aparat mampu menyelesaikan persoalan ini dengan bijak. Harapan kami, Desa Ariate dan Dusun Tanah Goyang bisa kembali hidup rukun, aman, dan damai seperti sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan doa dan simpati kepada seluruh korban dari kedua pihak, seraya berharap pemulihan dapat segera terjadi tanpa menyisakan dendam berkepanjangan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik horizontal dapat muncul dari situasi yang tampak sederhana, namun berpotensi membesar jika tidak dikelola dengan baik. Di tengah kondisi tersebut, pendekatan berbasis hukum, komunikasi, serta nilai persaudaraan menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas sosial dan mencegah konflik serupa terulang di masa mendatang.

(Veb/Har)