Sentani, Teraspapua.com – Suasana hangat dan penuh antusiasme menyelimuti Kampung Sere, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, saat ratusan warga menghadiri kampanye terbatas pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK), Senin (15/7/2025).
Kampanye yang digelar di Obhe adat Kampung Sere itu menjadi ajang konsolidasi politik sekaligus momentum kebangkitan kepercayaan masyarakat akar rumput terhadap kepemimpinan lokal yang berakar pada budaya dan nilai kekeluargaan.
Hadir dalam kampanye tersebut, tokoh Golkar Papua, Martinus Werimun, yang menunjukkan sinyal kuat bahwa dukungan kepada pasangan BTM-CK tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan internal partai politik. Diketahui, Constant Karma adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Papua, meskipun secara resmi Golkar mengusung pasangan calon lain di Pilgub Papua 2025.
Dalam sambutannya, Constant Karma menyatakan dengan tegas bahwa meskipun secara struktural Partai Golkar mendukung pasangan calon nomor urut 2 (Mari-Yo), banyak kader dan simpatisan Golkar tetap menjatuhkan pilihan kepada pasangan nomor urut 1, BTM-CK.
“Kami semua ada di bawah BTM. Kalau pun ada kader-kader kuning di sini, kami tetap kuning, tetapi kuning yang mendukung merah. Artinya, hati kami tetap untuk BTM,” ujar Karma yang disambut sorak dan tepuk tangan warga.
Ia menegaskan pentingnya memilih pemimpin yang merupakan kader asli partai politik, karena sistem demokrasi Indonesia mengatur bahwa pemimpin seharusnya disiapkan melalui proses kaderisasi partai.
“Yang satu itu bukan kader partai politik. Sedangkan kami adalah kader murni yang disiapkan untuk memimpin. Ini penting untuk diketahui masyarakat,” tambahnya.
Constant Karma juga menyampaikan komitmennya untuk terus memperkuat struktur dan posisi fungsionaris Golkar di Papua, agar mampu mengambil sikap politik yang bertanggung jawab demi masa depan rakyat Papua.
Menyoroti asal-usul dan latar belakang pasangan ini, Karma menyampaikan bahwa BTM adalah representasi dari wilayah adat Tabi, sementara dirinya merupakan putra asli wilayah adat Saireri. Menurutnya, kombinasi ini adalah bentuk kepemimpinan ideal yang memahami kondisi dan kebutuhan nyata masyarakat Papua.
“BTM tahu situasi dan kultur Tabi, dan saya tahu kondisi serta aspirasi masyarakat Saireri. Gaya memimpin kami berakar dari budaya lokal. Papua tidak bisa diserahkan kepada pemimpin yang tidak terikat secara kultural dengan tanah ini,” tegasnya.
Karma juga menyinggung pembentukan provinsi-provinsi baru di Papua yang sebagian besar sudah terealisasi, kecuali Provinsi Papua Utara yang merupakan bagian dari wilayah adat Saireri (Biak Numfor, Supiori, Kepulauan Yapen, dan Waropen).
“Dalam visi-misi BTM-CK, kami berkomitmen memperjuangkan pembentukan Provinsi Papua Utara agar tujuh wilayah adat di Papua memiliki representasi pemerintahan masing-masing,” jelasnya.
Momen mengharukan terjadi ketika seorang tokoh mama-mama dari Kampung Sere, Mama Naomi Wasanggai, secara spontan menyuarakan dukungannya kepada BTM dengan penuh emosi.
“BTM itu cucu saya! Saya tidak percaya orang lain. Saya percaya dia. Bungkus nomor 1!” teriak Mama Naomi, disambut tepuk tangan dan sorakan warga.
Dukungan personal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan masyarakat kepada BTM-CK bukan semata karena politik, tetapi juga karena hubungan kekerabatan dan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat.
Dukungan juga datang dari Mama Bulera Wenda, perwakilan mama-mama dari masyarakat pegunungan yang tinggal di Kampung Sere. Ia menegaskan bahwa kelompoknya sudah berkomitmen penuh untuk mendukung BTM-CK.
“Kami, mama-mama dari masyarakat pegunungan, sudah sepakat dan berkomitmen untuk memenangkan BTM-CK. Kami perempuan tidak pernah ingkar janji,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar setelah BTM-CK terpilih dan dilantik, mereka dapat memperhatikan pembangunan gereja di wilayah tersebut.
“Kami akan membawa nama BTM-CK dalam doa-doa kami. Kami yakin, 6 Agustus nanti BTM-CK akan menang dan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Menutup kampanye tersebut, Constant Karma mengajak masyarakat untuk tidak sekadar memilih secara politis, tetapi dengan melibatkan hati dan doa.
“Hati itu milik Tuhan. Maka berdoalah sebelum memilih. Pilih dengan keyakinan agar suara bapak dan ibu di TPS menjadi bagian dari perubahan besar untuk Papua,” tandasnya.
Kampanye terbatas di Kampung Sere menjadi bukti kuat bahwa BTM-CK bukan hanya hadir dengan visi pembangunan, tetapi juga dengan kedekatan emosional yang menyentuh hati masyarakat akar rumput.
Dengan waktu yang semakin mendekat ke hari pemungutan suara ulang pada 6 Agustus 2025, pasangan ini kian mantap melangkah didorong oleh semangat rakyat yang menginginkan perubahan nyata.
(Har/Rck)














