banner 325x300

Dari Pulau Metu Debi, BTM Gaungkan Seruan Menjaga Tanah dan Manusia Papua

Komisioner V Dewan Pimpinan Nasional (DPN) IKAPTK, Benhur Tomi Mano saat turun dri speed di pulau Metu Debi (foto Harley/teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Tokoh Papua yang juga Komisioner V Dewan Pengurus Nasional Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (DPN IKAPTK), Benhur Tomi Mano (BTM), menyampaikan seruan moral tentang pentingnya menjaga Bumi, Tanah, dan Manusia Papua sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Seruan tersebut disampaikan BTM dalam acara Lepas Sambut Tahun 2025 – 2026 yang digelar oleh keluarga besar Solidaritas Mantan Camat se-Kabupaten Jayapura (SOCAKAB) bersama Solidaritas Istri Camat se-Kabupaten Jayapura (SICAKAB). Kegiatan ini berlangsung di Pulau Metu Debi, Kampung Enggros, Distrik Jayapura Selatan, Sabtu (3/1/2025), dan dihadiri oleh para tokoh masyarakat, mantan camat, serta unsur keluarga besar kepamongprajaan.

banner 325x300

Dalam sambutannya, BTM dengan tegas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meneguhkan komitmen bersama dalam merawat tanah dan menjunjung tinggi martabat manusia Papua. Ia menekankan bahwa kepedulian terhadap tanah dan manusia Papua merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di Tanah Papua.

“Mari menjaga tanah, mari menjaga manusia Papua,” ujar BTM. Menurutnya, seruan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral, spiritual, dan universal bagi semua pihak untuk merawat ciptaan Tuhan secara utuh, adil, dan berkelanjutan.

BTM menegaskan bahwa bagi Orang Asli Papua (OAP), bumi adalah rumah kehidupan bersama. Sementara itu, tanah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar ruang fisik atau aset ekonomi. Tanah merupakan identitas, sumber penghidupan, serta warisan leluhur yang tidak terpisahkan dari jati diri orang Papua.

“Tanah bukan sekadar objek pembangunan atau komoditas ekonomi, tetapi ruang hidup yang sakral, tempat relasi antara manusia, alam, dan Tuhan terjalin sejak awal kehidupan,” jelasnya.

Ia bahkan menggambarkan tanah sebagai sosok ibu bagi orang Papua. “Tanah bagi orang Papua adalah ibu. Ia memberi hidup, menjaga, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan dari generasi ke generasi,” ungkap BTM.

Selain menyoroti pentingnya menjaga tanah, BTM juga menekankan urgensi memanusiakan manusia Papua. Menurutnya, manusia Papua adalah subjek yang bermartabat, bukan sekadar angka dalam statistik pembangunan, dan bukan pula objek yang dapat dikorbankan akibat kebijakan yang keliru, kekerasan struktural, maupun ketidakadilan sosial.

“Manusia Papua adalah pribadi yang bernilai, ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan menentukan masa depannya di tanahnya sendiri,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, BTM secara lantang menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk pembangunan yang merusak lingkungan, menyingkirkan manusia, serta memutus relasi sakral antara tanah dan kehidupan.

Ia menilai bahwa pembangunan yang mengabaikan martabat manusia dan kelestarian tanah bukanlah kemajuan, melainkan bentuk baru dari penyingkiran yang berdampak jangka panjang bagi Papua.

Secara filosofis, BTM menjelaskan bahwa bagi orang Papua, tanah bukanlah komoditas, melainkan ibu. Bumi bukan objek eksploitasi, tetapi ruang persekutuan hidup. Manusia pun bukan beban pembangunan, melainkan penjaga dan pelaku utama kehidupan itu sendiri.

“Menjaga tanah berarti menjaga identitas. Menjaga manusia berarti menjaga martabat. Dan menjaga Papua berarti menjaga kehidupan itu sendiri,” ujarnya.

Lebih jauh, BTM juga mengaitkan seruan tersebut dengan refleksi iman dan teologi. Ia menegaskan bahwa bagi gereja dan umat beriman, menjaga bumi, tanah, dan manusia merupakan tuntutan iman Kristen. Iman, menurutnya, tidak berhenti pada doa dan pengakuan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang berpihak pada kehidupan.

“Merawat ciptaan Tuhan adalah bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. Iman memanggil kita untuk berdiri bersama mereka yang tersingkir, menjaga kehidupan yang terancam, dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” tuturnya.

Mantan Wali Kota Jayapura dua periode itu menegaskan bahwa perjuangan menjaga tanah dan manusia Papua bukan semata-mata isu sosial atau politik, melainkan panggilan iman yang hidup dan harus diwujudkan dalam sikap serta tindakan sehari-hari.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat Papua, para pemangku kepentingan, dan generasi penerus untuk terus melindungi manusia Papua, merawat tanah sebagai ibu kehidupan, serta menjaga kehidupan sebagai anugerah Tuhan yang tak ternilai.

“Karena di dalam menjaga tanah dan manusia, kita sedang menjaga masa depan Papua dan sekaligus memuliakan Sang Pencipta,” pungkas BTM.

(har)