banner 325x300

Pidato Akhir Tahun, Benhur Tomi Mano Ajak Masyarakat Jayapura Menutup 2025 dengan Syukur dan Harapan

Mantan Wali Kota Jayapura, Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, MM (foto Harley/teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, MM, menyampaikan pesan reflektif dan penuh makna dalam pidato akhir tahun 2025 yang menekankan pentingnya iman, harapan, serta kasih sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Dalam pidatonya, Benhur Tomi Mano mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan akhir tahun sebagai momentum berhenti sejenak, menarik napas, dan menoleh ke belakang, bukan untuk menyesali perjalanan yang telah dilalui, melainkan untuk memahami dan memaknai setiap proses kehidupan yang telah dijalani bersama.

banner 325x300

“Di penghujung tahun ini, kita berdiri pada sebuah titik yang sangat manusiawi, yaitu titik untuk berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, bukan untuk menyesali, tetapi untuk memahami apa yang telah kita lalui bersama,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa waktu terus berjalan dan hari demi hari terus berganti. Namun, tidak semua perjalanan hidup berjalan lurus dan mudah. Ada langkah yang mantap, ada pula langkah yang tertatih. Ada doa yang terjawab dengan cepat, namun ada juga doa yang masih harus disimpan dalam kesabaran.

Menurutnya, tahun 2025 telah mengajarkan satu pelajaran penting bagi semua pihak, yakni bahwa hidup tidak selalu tentang kemenangan dan keberhasilan semata, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu bertahan dengan iman, berjalan dengan harapan, serta tetap mengasihi dalam berbagai keterbatasan.

Lebih lanjut, Benhur menekankan bahwa nilai-nilai kehidupan sejatinya dipelajari baik di rumah ibadah maupun dalam kehidupan sosial. Di rumah ibadah, manusia diajarkan bahwa hidup bukan sepenuhnya milik diri sendiri dan bahwa setiap tarikan napas adalah anugerah Tuhan. Kasih, pengampunan, dan pengharapan, katanya, bukan sekadar kata-kata suci, melainkan sikap hidup yang harus diwujudkan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Sementara itu, dalam kehidupan sosial, masyarakat dihadapkan pada kenyataan adanya perbedaan. Tidak semua orang berpikir, berjalan, atau berada pada posisi yang sama. Namun justru di situlah nilai kebersamaan diuji, apakah masyarakat memilih untuk saling menjaga atau justru saling menjauh.

Benhur juga mengakui bahwa tahun 2025 mungkin meninggalkan rasa lelah bagi banyak orang. Ada yang lelah karena bekerja keras demi keluarga, ada yang lelah karena memperjuangkan keadilan, dan ada pula yang lelah karena harapan belum kunjung terwujud.

“Namun lelah bukanlah tanda kita kalah. Lelah adalah tanda bahwa kita masih peduli, masih mau berjuang, dan belum menyerah,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk jujur pada diri sendiri bahwa tidak semua rencana berjalan sempurna. Ia mengakui adanya kekurangan dalam pelayanan, kelemahan dalam kebijakan, kata-kata yang mungkin melukai, serta keputusan yang belum sepenuhnya memuaskan semua pihak.

Meski demikian, di akhir tahun ini, Benhur mengajak masyarakat untuk menutup lembaran 2025 dengan hati yang lapang, bukan dengan menyimpan dendam atau memperbesar perbedaan, melainkan dengan kesediaan untuk saling memaafkan dan saling memperbaiki.

Menurutnya, bangsa dan daerah tidak dibangun oleh orang-orang yang sempurna, melainkan oleh mereka yang mau belajar dari kekurangan. Pembangunan juga tidak lahir dari mereka yang paling keras bersuara, tetapi dari orang-orang yang setia bekerja dalam diam.

“Kita membutuhkan lebih banyak kejujuran daripada kemarahan, lebih banyak keteladanan daripada janji, dan lebih banyak kepedulian daripada kepentingan pribadi,” ujarnya.

Benhur mengajak masyarakat Jayapura dan Papua pada umumnya untuk mengakhiri tahun 2025 dengan rasa syukur atas berbagai hal yang masih dapat dinikmati, seperti keluarga yang setia, tetangga yang saling menopang, serta tanah Papua yang terus memberi kehidupan.

Ia juga mengajak masyarakat menyambut tahun 2026 dengan harapan yang matang, bukan harapan yang berisik, tetapi harapan yang diwujudkan melalui kerja nyata, sikap rendah hati, dan komitmen melayani sesama dengan tulus.

“Saya percaya masa depan tidak dibangun dalam satu malam. Masa depan dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten, dari doa yang tidak putus, kerja yang jujur, dan hati yang tidak kehilangan kasih,” tuturnya.

Mengakhiri pidatonya, Benhur Tomi Mano mengajak seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang, iman, dan perbedaan untuk melangkah ke tahun yang baru sebagai pribadi yang lebih tenang, masyarakat yang lebih peduli, serta sebagai satu keluarga besar yang saling menjaga.

Ia pun menyampaikan ucapan selamat menutup Tahun 2025 dan selamat menyambut Tahun 2026, seraya berharap Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah, memberkati keluarga, serta menjaga tanah Papua yang dicintai bersama.

“Kiranya Tuhan memberkati kita semua,” pungkasnya.

(Hr/Rck)