Jayapura, Teraspapua.com – Jemaat Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua Bukit Zaitun Dok VIII Jayapura menggelar ibadah Natal bersama yang dirangkaikan dengan ibadah Minggu, Minggu (28/12/2025). Ibadah berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan diikuti oleh seluruh jemaat dari berbagai kalangan usia.
Perayaan Natal tahun 2025 tersebut mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, yang menjadi penekanan utama dalam seluruh rangkaian ibadah.
Tema ini mengajak jemaat untuk merefleksikan makna kehadiran Allah yang nyata dalam kehidupan keluarga, di tengah berbagai tantangan dan pergumulan hidup.
Ibadah Natal dan Minggu itu dipimpin oleh Pendeta Tirsa Ratu, S.Th., yang menyampaikan khotbah berdasarkan Firman Tuhan dari Injil Matius 2:13–15. Dalam khotbahnya, Pdt. Tirsa mengajak jemaat untuk melihat sisi lain dari sukacita perayaan Natal, yakni kisah keluarga kecil Yusuf, Maria, dan bayi Yesus yang harus menghadapi ancaman dan ketakutan demi menjalankan kehendak Allah.
Disampaikan bahwa peristiwa Natal tidak hanya berbicara tentang sukacita dan kemeriahan kelahiran Yesus Kristus, tetapi juga tentang perjuangan, pengorbanan, serta ketaatan yang penuh iman. Sukacita Natal dalam kisah tersebut seketika berubah menjadi rasa waswas dan takut ketika malaikat Tuhan datang membawa kabar bahwa bayi Yesus terancam dibunuh oleh Raja Herodes.
“Peristiwa itu merupakan malam yang penuh kekhawatiran dan ketakutan. Yusuf dan Maria harus segera mengambil keputusan besar, yakni melakukan perjalanan panjang dari Betlehem menuju Mesir demi menyelamatkan bayi Yesus,” ujar Pdt. Tirsa dalam khotbahnya.

Menurutnya, perjalanan tersebut bukanlah perjalanan yang mudah. Ada pengorbanan besar, kepedulian, serta ketaatan total kepada perintah Tuhan. Dari peristiwa ini, jemaat diajak untuk memahami bahwa di balik sukacita Natal, terdapat kisah duka, penderitaan, dan pergumulan hidup yang juga dialami banyak orang hingga saat ini.
“Di balik perayaan Natal yang meriah, ada orang-orang yang masih diselimuti duka cita, menghadapi bencana, perceraian, ketakutan, dan kekhawatiran hidup. Namun Firman Tuhan mengajarkan bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha Melindungi,” tegasnya.
Pdt. Tirsa menekankan bahwa kekuasaan Raja Herodes pada masa itu tidak mampu membunuh Yesus karena Allah sendiri yang melindungi-Nya. Yusuf menjadi teladan iman yang luar biasa, bukan hanya karena ketaatannya, tetapi juga karena kesediaannya mengikuti setiap perintah Tuhan sehingga nubuat dapat digenapi.
“Kita semua berada dalam lindungan Tuhan, karena itu jangan takut. Rintangan, tantangan, dan pergumulan hidup tidak akan menghalangi rencana Allah atas keluarga dan jemaat-Nya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Tirsa juga mengingatkan peran penting setiap anggota keluarga dalam menghadirkan Allah di tengah kehidupan rumah tangga.
Para bapak diimbau untuk menjadi imam dalam keluarga, membawa seluruh anggota keluarga hidup dalam iman dan takut akan Tuhan.
Para ibu diajak untuk membangun keharmonisan dalam keluarga, tidak menuntut secara berlebihan, serta menjauhi sikap iri hati. Anak-anak pun diingatkan untuk menghormati dan mendengarkan orang tua, karena mereka juga memiliki peran dan tanggung jawab dalam menghadirkan Allah di dalam keluarga.
Tidak hanya dalam lingkup keluarga, jemaat juga diajak untuk taat dan setia dalam kehidupan bergereja. Ketaatan dalam bersekutu, beribadah, membaca Firman Tuhan, serta membuka diri untuk dilayani menjadi bagian penting dari pertumbuhan iman jemaat.
“Sering kali kita menuntut perlindungan Tuhan, tetapi kita sendiri jarang membaca Firman, jarang beribadah, dan kurang peduli dengan persekutuan. Banyak jemaat menuntut hak, namun melupakan kewajiban,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan para hamba Tuhan, baik pendeta, penatua, maupun diaken, untuk terus setia melayani jemaat dengan hati yang tulus dan penuh tanggung jawab.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPI Papua Bukit Zaitun Dok VIII Jayapura, Pdt. Arthur Samkakai, S.Th., M.Min., dalam pesan dan kesan Natalnya menyampaikan bahwa Natal membawa pemulihan, mempersatukan jemaat, serta menghadirkan sukacita, damai sejahtera, dan syalom bagi seluruh anggota jemaat.
Menurutnya, dalam bingkai pelayanan Jemaat GPI Papua Bukit Zaitun Dok VIII Jayapura, persekutuan sektor-sektor pelayanan menjadi sarana kasih sebagai perekat yang mempersatukan berbagai perbedaan.
Kasih Kristus mengikat jemaat untuk melangkah bersama, satu hati dan satu tujuan, yakni memuliakan Tuhan dalam setiap tugas dan tanggung jawab pelayanan, baik di barisan Majelis Jemaat, sektor-sektor pelayanan, maupun wadah-wadah kategorial.
“Kita mungkin berbeda, tetapi dalam persekutuan kita semua adalah satu. Kita akan mengakhiri pelayanan tahun 2025 pada 31 Desember tanpa ada yang tercecer, dan jika Tuhan berkenan, kita akan bersama-sama mengawali perjalanan iman di tahun yang baru, 1 Januari 2026, dengan penuh komitmen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dalam Tuhan Yesus tidak ada yang mustahil. Jika jemaat bekerja dengan setia dan tulus, Tuhan tidak hanya melihat hasil pelayanan, tetapi juga melihat ketulusan dan hati setiap orang yang melayani dalam pekerjaan-Nya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PHBG sekaligus Ketua Panitia Natal, Yonas Lewerissa, dalam laporannya menyampaikan bahwa perayaan Natal Jemaat GPI Papua Bukit Zaitun Dok VIII Jayapura tahun 2025 mengangkat tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” dengan subtema bahwa melalui perayaan Natal, jemaat semakin diberkati menjadi satu keluarga yang membawa pemulihan dan berkat.
Ia juga melaporkan sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan oleh panitia, di antaranya Advent Ceria, menghias pohon Natal, kegiatan story telling, serta lomba mewarnai bagi anak-anak Pelayanan Anak dan Remaja (PAR).
Selain itu, panitia juga berbagi kasih bersama anak-anak Panti Asuhan Air Mata Mama, para Pendeta, janda dan duda.
Melalui perayaan Natal ini, Jemaat GPI Papua Bukit Zaitun Dok VIII Jayapura diharapkan semakin diteguhkan imannya, dipersatukan dalam kasih Kristus, serta siap melangkah memasuki tahun yang baru dengan semangat pelayanan dan ketaatan kepada Tuhan.














