Jayapura, Teraspapua.com – Kota Jayapura, yang dikenal dengan julukan Port Numbay, tak hanya menyandang status sebagai ibu kota Provinsi Papua.
Di bawah kepemimpinan Benhur Tomi Mano atau yang akrab disapa BTM, kota ini menjelma menjadi barometer kemajuan pendidikan di Indonesia Timur, terutama saat UNBK SMP pada tahun 2018, dengan tingkat kelulusan 100 persen.
Jejak keberhasilannya tertoreh kuat, tak hanya di atas kertas, tetapi juga di hati masyarakat dan catatan sejarah pendidikan Papua.
Selama dua periode menjabat sebagai Wali Kota Jayapura, BTM menjadikan sektor pendidikan sebagai program prioritas. Komitmennya tak main-main. Ia tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur pendidikan, tetapi juga menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemajuan sebuah bangsa.
Fachrudin Pasolo, mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, secara terbuka mengakui keberhasilan BTM dalam merevolusi sistem pendidikan di wilayahnya.
“Saat bicara soal kemajuan pendidikan, kita tidak bisa asal menilai. Ada indikator konkret seperti angka partisipasi murni, kemampuan calistung (membaca, menulis, berhitung), angka melek huruf, dan rata-rata lama sekolah. Di masa BTM, semua indikator itu melonjak tajam,” ungkap Pasolo, Senin (22/6/2025) di Kota Jayapura.
Menurutnya, ketika BTM menjabat, angka melek huruf mencapai 100 persen. Artinya, tidak ada lagi warga buta huruf di Jayapura. Selain itu, angka partisipasi pendidikan
dari tingkat PAUD, SD, hingga SMP mencapai 98 persen. Hal ini sangat signifikan mengingat kewenangan kota terbatas pada pengelolaan jenjang tersebut sesuai undang-
undang.
Prestasi gemilang itu tidak datang begitu saja. BTM dikenal sebagai sosok pemimpin yang responsif dan inovatif. Berbagai penghargaan nasional pun diraihnya.
Salah satu yang paling membanggakan adalah Penghargaan Ki Hajar Dewantara yang diberikan langsung oleh Menteri Pendidikan saat itu, Anies Baswedan.
Kota Jayapura juga menempati peringkat pertama dalam penggunaan teknologi informasi di bidang pembelajaran, serta berkali-kali menjuarai lomba-lomba pendidikan tingkat
nasional. Tak heran jika istilah Pendidikan BTM: Belajar Terus Menerus menjadi ikon yang melekat kuat di sekolah-sekolah.
“BTM adalah pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan. Ia mengerti bahwa pendidikan adalah kunci pembangunan daerah. Karena itu, dia betul-betul serius dalam mengurusnya,” ujar Pasolo.
Di masa BTM, pembangunan infrastruktur pendidikan menggeliat pesat. Gedung-gedung sekolah berdiri kokoh, dari PAUD hingga SMP. Guru-guru yang sebelumnya hanya lulusan D3 diwajibkan meningkatkan kualifikasi ke jenjang S1.
Tidak hanya itu, setiap tahun sekitar 100 orang mahasiswa Jayapura diberangkatkan untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri dan luar Papua, bekerja sama dengan berbagai universitas ternama seperti Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Salah satu bukti nyata dari perhatian BTM terhadap dunia pendidikan adalah pembangunan Graha BTM untuk PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Bangunan ini tidak hanya simbol, tetapi juga pusat kegiatan peningkatan kapasitas guru.
Dampak dari perhatian serius terhadap pendidikan terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Jayapura yang tertinggi di seluruh Papua. Bahkan, kemajuan IPM Papua secara keseluruhan sebagian besar terdongkrak oleh capaian dari Jayapura.
“Kita mencatat angka harapan hidup yang luar biasa, bahkan sempat melampaui DKI Jakarta. Semua ini tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan pendidikan, yang menjadi pondasi utama pembangunan,” ujar Pasolo lagi.
Lanjutnya, Jayapura juga mendapat predikat sebagai kota dengan pengelolaan pendidikan terbaik serta menjadi daerah dengan kontribusi pembayaran pajak sektor pendidikan tertinggi di Papua dan Papua Barat selama dua tahun berturut-turut.
Kini, meskipun BTM tidak lagi menjabat, warisan yang ia tinggalkan terus hidup dalam semangat dan sistem pendidikan Kota Jayapura. Para guru, siswa, dan masyarakat masih memegang erat prinsip Belajar Terus Menerus, yang menjadi filosofi pendidikan di kota ini.
“BTM telah menorehkan tinta emas dalam sejarah pendidikan Papua. Ia bukan sekadar wali kota, tetapi arsitek masa depan generasi Papua,” tutup Pasolo penuh haru.
Dengan capaian luar biasa selama satu dekade kepemimpinannya, Benhur Tomi Mano telah membuktikan bahwa dengan visi, keberanian, dan komitmen tinggi, kota kecil di ujung timur Indonesia pun bisa menjadi pusat keunggulan pendidikan nasional.
(HR/NV)














