Benhur Tomi Mano Tegas Tolak Tambang Nikel di Kawasan Cycloop: Ini Tanah Sakral, Bukan untuk Dirusak

Sentani, Teraspapua.com – Calon Gubernur Provinsi Papua periode 2025–2030, Benhur Tomi Mano (BTM), dengan lantang menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk aktivitas pertambangan, khususnya rencana pengolahan tambang nikel di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Dalam sebuah pernyataan emosional dan penuh komitmen, BTM menyebut Cycloop bukan sekadar bentang alam, melainkan tanah sakral dan jantung kehidupan masyarakat adat Tabi.

“Cycloop adalah Mama. Cycloop adalah jantung kehidupan orang Tabi. Tanah sakral yang tidak boleh diganggu, apalagi dirusak,” ujar BTM kepada awak media di Sentani, Kamis (10/7/2025).

Sebagai tokoh asli dari wilayah adat Tabi, BTM menyampaikan bahwa Pegunungan Cycloop, atau yang dikenal dalam bahasa lokal sebagai Dbonsor/Dobonsolo, merupakan pusat spiritual, budaya, dan ekologis bagi masyarakat Tabi dan Saireri. Baginya, membiarkan tambang masuk ke kawasan tersebut bukan hanya pengkhianatan terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap martabat dan warisan leluhur.

“Cycloop bukan lahan kosong. Di bawah lerengnya, masyarakat adat hidup dan bergantung pada tanah, air, dan hutan suci itu. Kami tidak akan membiarkan kekayaan alam kami dirampas atas nama pembangunan yang hanya menguntungkan segelintir orang,” tegasnya.

BTM juga menekankan bahwa Cycloop adalah rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik, serta sumber air utama bagi masyarakat di Kota Jayapura dan sekitarnya.

BTM menyatakan dukungan penuh terhadap sikap Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jayapura yang secara tegas menolak rencana pertambangan di kawasan Cycloop. Ia menyerukan kepada seluruh masyarakat adat untuk bersatu, menjaga tanah warisan leluhur, dan tidak terbuai janji-janji pembangunan yang mengorbankan lingkungan.

“Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat adat: rapatkan barisan, lindungi tanah adatmu, jaga Cycloop sebagai warisan kehidupan. Kita sudah melihat banyak contoh di tempat lain — hutan dibabat, tanah dijarah, masyarakat adat digusur. Jangan biarkan itu terjadi di tanah Tabi,” seru BTM.

Dalam pernyataan politik yang penuh komitmen, BTM menegaskan bahwa jika ia diberi amanah oleh rakyat untuk memimpin sebagai Gubernur Papua, maka ia akan berdiri di garis terdepan dalam menjaga dan melindungi kawasan Cycloop dari segala bentuk eksploitasi, khususnya pertambangan.

“Ini bukan sekadar janji politik. Ini sumpah hati. Jika kami dipercaya memimpin, kami akan menjaga Cycloop sebagaimana kami menjaga harga diri dan marwah tanah Papua,” ujarnya.

BTM menegaskan bahwa dirinya tidak menolak investasi, namun investasi di Papua harus berjalan atas dasar kesepakatan, persetujuan bebas, dan informasi awal (Free, Prior and Informed Consent/FPIC) dari masyarakat adat sebagai pemilik sah tanah tersebut.

“Kami tidak menolak investasi, tetapi investasi di Papua harus berdasarkan kehendak masyarakat adat. Tidak boleh ada pemaksaan. Tidak boleh ada pembodohan. Tanah ini milik mereka,” tambahnya.

BTM menutup pernyataannya dengan refleksi mendalam tentang masa depan Papua. Menurutnya, tanah Papua tidak butuh kekayaan yang dibangun dari kerusakan lingkungan, melainkan pembangunan yang menghormati alam dan manusia.

“Papua tidak butuh kekayaan yang mengorbankan alam. Kita butuh tanah yang lestari, air yang bersih, dan alam yang hidup untuk generasi yang akan datang. Karena tanpa alam, tidak ada masa depan. Kami akan jaga Cycloop, bukan untuk kami, tapi untuk kita semua,” tutupnya.

Pernyataan tegas Benhur Tomi Mano ini menegaskan sikapnya sebagai calon pemimpin Papua yang berpihak pada rakyat, lingkungan, dan nilai-nilai adat. Di tengah maraknya eksploitasi sumber daya alam di Tanah Papua, komitmen seperti ini menjadi penanda penting bahwa suara masyarakat adat masih memiliki tempat dalam arah kebijakan masa depan provinsi ini.