Jayapura, Teraspapua.com -Tanggal 25 Oktober 2025 akan menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Papua dan Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua. Pada hari tersebut, akan digelar perayaan syukuran satu abad atau 100 tahun nubuatan Dominee Izak Samuel Kijne yang berlangsung di Bukit Aitumieri, Miei, Teluk Wondama, tempat yang disebut sebagai awal mula lahirnya peradaban Papua menurut visi sang misionaris.
“Tahun ini, kita akan memperingati satu abad peristiwa nubuatan Izak Samuel Kijne. Ini bukan hanya sebuah perayaan, tetapi juga momentum refleksi bagi seluruh masyarakat di tanah Papua,” ungkap Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu kepada sejumlah wartawan di rumah jabatan ketua Sinode, dok V atas, Minggu (7/9/2025).
Sejarah mencatat bahwa pada 5 Februari 1855, dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johan Gottlob Geissler, tiba di Pulau Mansinam, Teluk Doreri. Kedatangan mereka menandai dimulainya misi pekabaran Injil di Tanah Papua. Misi ini kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pendidikan Kristen yang menjadi fondasi pembentukan karakter dan pengetahuan masyarakat Papua.
Namun, pada tahun 1925, Dominee Izak Samuel Kijne, misionaris asal Belanda, melihat bahwa Pulau Mansinam tidak lagi ideal untuk pengembangan pendidikan. Dengan berbagai pertimbangan, terutama terkait kondisi lingkungan, ia melakukan survei dan menemukan lokasi yang dianggap paling tepat: Bukit Aitumieri di Miei, Teluk Wondama.
Pada 25 Oktober 1925, di tempat itu, Kijne memulai pendidikan formal untuk anak-anak Papua. Di sanalah ia menyampaikan sebuah visi kenabian, yang kemudian dikenal luas sebagai “nubuatan Izak Samuel Kijne”, di atas sebuah batu yang kini disebut “Batu Peradaban”.
Dalam pernyataannya yang menjadi simbol perjuangan pendidikan dan martabat Papua, Kijne menyatakan:
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan ma’rifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Menurut Pdt. Mofu, nubuatan tersebut bukan sekadar kata-kata indah, melainkan visi transformatif yang harus terus dihidupi oleh generasi Papua.
Ia mengingatkan bahwa sebelum Kijne membangun pendidikan di Papua, beberapa anak Papua telah dikirim belajar ke luar daerah seperti Sulawesi Selatan dan Batavia (Jakarta). Namun, sebagian besar tidak berhasil menyelesaikan pendidikan mereka, baik karena kendala budaya maupun penolakan dari lembaga pendidikan di sana.
Hal inilah yang mendorong Kijne untuk mendirikan lembaga pendidikan di Papua sendiri agar anak-anak Papua dapat belajar dan berkembang di tanahnya sendiri.
“Puji Tuhan, pendidikan itu kemudian berjalan, dan telah mempersiapkan banyak anak Papua untuk melayani dan membangun tanahnya,” kata Pdt. Mofu.
Namun, ia juga menekankan bahwa peringatan 100 tahun ini tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Sebaliknya, ini harus menjadi momen reflektif: Apakah selama satu abad terakhir, visi dan harapan Kijne telah benar-benar terwujud.
Hari ini, masyarakat adat, gereja, pemerintah, dan lembaga-lembaga keagamaan di Papua memang mayoritas dipimpin oleh orang asli Papua, sesuai dengan nubuatan Kijne. Namun, ironinya, Papua masih dikategorikan sebagai daerah tertinggal, bahkan dalam beberapa indikator disebut sebagai daerah termiskin dan mengalami kemiskinan ekstrem, meski telah terbagi menjadi enam provinsi.
“Otonomi khusus memang telah diberikan kepada Papua, baik dalam bentuk Otsus jilid I maupun jilid II. Tapi kenyataannya, kita masih menghadapi persoalan besar seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan sumber daya manusia,” ujar Pdt. Mofu.
Pdt. Mofu juga mengutip kembali pesan Kijne yang menjadi pegangan spiritual dan moral dalam membangun Papua:
“Barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan setia, jujur, dan dengar-dengaran kepada Injil, ia akan berjalan dari satu tanda heran kepada tanda heran yang lain.”
Menurutnya, perubahan nyata di Papua hanya akan terjadi jika semua orang baik orang asli Papua maupun pendatang bekerja dengan hati yang tulus dan mendengarkan suara kebenaran.
“Pesan Injil adalah pesan kebaikan dan kehidupan. Mari kita membangun Papua dengan hati yang bersatu, tanpa membeda-bedakan satu sama lain, demi menjadikan Papua berkat bagi semua orang,” tegas Pdt. Mofu.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu abad nubuatan Kijne, GKI di Tanah Papua juga akan menggelar Konferensi Injil dan Peradaban pada 9-10 September 2025 di Gedung Graha Saron, Kantor Sinode GKI di Tanah Papua.
Konferensi ini akan mengangkat tema sentral: “Injil dan Peradaban” dan diharapkan menjadi ruang bersama untuk menggali makna mendalam dari nubuatan Kijne, sekaligus merumuskan komitmen baru menuju abad ke-2 peradaban Papua yang mandiri, adil, dan bermartabat.
“Mari kita duduk bersama, menghayati bersama, merindukan bersama, dan yang terpenting membangun komitmen bersama untuk merajut apa yang telah dinubuatkan oleh Izak Samuel Kijne,” tutup Pdt. Mofu.
Ketua Sinode GKI di tanah Papua, Pdt Andrikus Mofu, M, Th saat memberikan keterangan pers di damping wakil sekertaris Sinode GKI, Pdt Handry W.D Kakiay, Anggota BPS Wilayah III, Pdt. Maikel Kapisa, Anggota BPS Wilayah I, Pdt. F. Mambrasar, Ketua Klasis GKI Biak Barat, Pdt. Mince Sembar, Ketua Klasis Biak Utara, Pdt. Victor Worabay, dan Ketua Klasis Biak Timur, Pdt. Somira Wambrauw
(Rck/Nov)















