Di Atas Kuraro Obhe Bambar, BTM-CK Ditetapkan sebagai Ondofolo Besar untuk Melayani Masyarakat Papua

Ketua Das Sentani, Orgenes Kawai saat mengenakan noken dan gelang adat kepada BTM (foto Arche/Teraspapua.com)

Sentani, Teraspapua.com – Suasana sakral menyelimuti Kampung Bambar, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, saat Ketua Dewan Adat Suku Sentani (DASS) Orgenes Kawai mewakili tokoh adat Sentani dari 34 kampung dengan lantang menyatakan dukungan penuh kepada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK), untuk memimpin Provinsi Papua periode 2025–2030.

Dukungan itu dinyatakan dalam upacara adat yang digelar di atas Kuraro Obhe Ondofolo, Kampung Bambar, sebuah rumah adat yang disakralkan oleh masyarakat setempat pada Senin (14/7/2025).

Dalam prosesi adat tersebut, Ketua DAS Sentani menobatkan BTM-CK sebagai Ondofolo Besar Papua, sebuah simbol kehormatan dan tanggung jawab untuk melayani seluruh rakyat Papua.

Prosesi ini ditandai dengan pemakaian noken dan gelang adat yang sebelumnya dikenakan topi cendrawasih, simbol tertinggi kehormatan yang selama ini hanya digunakan oleh Ondofolo asli Sentani.

“Gelang adat ini adalah lambang harga diri Ondofolo Sentani. Tidak bisa dipakaikan kepada sembarang orang. Tapi hari ini, kami berikan kepada BTM sebagai tanda kami menyerahkan kepercayaan memimpin tanah ini,” tegas Ketua DASS Orgenes Kaway.

Kuraro Obhe, rumah adat yang berada di wilayah Doyo, memiliki makna historis bagi masyarakat adat Sentani. Obhe ini hanya diperuntukkan bagi empat kampung adat dan dipercaya sebagai tempat awal yang melahirkan kekuatan dan kemenangan dalam berbagai perjuangan.

“Siapa pun yang diberangkatkan dari Obhe ini akan menang. Hari ini, di atas Obhe ini, kami tetapkan BTM-CK sebagai pemimpin besar untuk seluruh Papua,” ujar Orgenes.

Sebagai simbol pengalihan kewenangan dan restu adat, gelang kebesaran Ondofolo yang selama ini dikenakan Orgenes diserahkan langsung kepada BTM dan CK. Ia menegaskan, mulai saat itu, hanya BTM-CK yang berhak berbicara atas nama masyarakat adat Sentani dalam urusan politik dan kepemimpinan Papua.

Dalam pernyataannya, Orgenes menegaskan bahwa kepemimpinan Provinsi Papua induk harus kembali ke tangan anak-anak asli Tabi dan Saireri. Ia menyebutkan bahwa tujuh wilayah adat di Papua telah memiliki representasi gubernur masing-masing, dan kini saatnya wilayah adat Tabi-Saireri memimpin di tanahnya sendiri.

“Tanah ini milik kita. Adat telah membagi kita dalam tujuh wilayah adat, dan semua sudah punya gubernur. Kini, hanya Papua induk yang belum dipimpin oleh anak Tabi dan Saireri. Ini bukan sekadar politik, ini tentang harga diri,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa hanya anak-anak dari Tabi dan Saireri yang bisa menjaga, melayani, dan membawa perubahan nyata di atas tanah Papua, karena mereka paham kultur, struktur, dan keseharian masyarakat lokal.

Orgenes juga menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana eksploitasi gunung Cycloop, kawasan sakral dan sumber air masyarakat Sentani. Ia menegaskan sikap adat bahwa siapa pun yang berani merusak Gunung Cycloop akan berhadapan langsung dengan masyarakat adat.

“Saya dengar ada yang ingin menggali nikel di Cycloop. Kami tegaskan: jangan sentuh Cycloop! Itu jantung hidup kami. Kalau dilanggar, masyarakat adat akan berdiri melawan,” tegasnya lantang.

Mengajak masyarakat menggunakan hak pilihnya secara bijak, Orgenes menegaskan bahwa Pilkada 6 Agustus 2025 bukan sekadar memilih gubernur, melainkan momen untuk menentukan nasib generasi Papua ke depan. Ia meminta masyarakat tidak tergiur dengan iming-iming uang atau materi.

“Jangan jual hak kesulunganmu dengan Rp300 ribu. Ini adalah momentum bagi anak-anak Tabi dan Saireri. Kalau kita lengah sekarang, maka generasi kita tak akan pernah lagi punya peluang menjadi gubernur di masa depan,” ujarnya penuh semangat.

Ia mengutip pesan dari mantan Penjabat Gubernur Papua, Ramses Limbong, bahwa banyak pihak datang ke Papua hanya untuk mengeruk kekayaan alam, bukan untuk membangun. Oleh karena itu, masyarakat diminta waspada dan hanya memilih pemimpin yang lahir dari rakyat dan mengerti birokrasi secara utuh.

Orgenes menegaskan bahwa BTM dan CK bukan pemimpin yang instan. Keduanya melalui tahapan kepemimpinan dari level bawah, mulai dari kepala distrik, wali kota, hingga

jabatan birokrasi lainnya. Ia membandingkan rekam jejak mereka dengan almarhum Lukas Enembe, gubernur dua periode yang dicintai rakyat.

“Kalau ingin pemimpin sejati, pilih yang berangkat dari bawah. BTM dan CK adalah kader terbaik yang kita miliki. Mereka bukan ditunjuk, mereka dipilih oleh rakyat. Ini saatnya kita bersatu dan menangkan mereka,” katanya.

Mengakhiri pernyataannya, Orgenes mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk bersatu, menyingsingkan lengan baju, dan memenangkan pasangan BTM-CK pada pemungutan suara ulang 6 Agustus 2025 mendatang.

“Dalam politik, kesempatan adalah sejarah. Jangan kita sia-siakan. Mari kita bergandengan tangan, menangkan BTM-CK, dan jadikan mereka gubernur dan wakil gubernur bagi seluruh rakyat Papua, khususnya anak-anak Tabi dan Saireri. Walau Papua ini terdiri dari banyak bangsa, tanah ini adalah rumah kita bersama,” pungkasnya.

(Har/Rck)