Sarmi, Teraspapua.com – Dalam semangat membangun Papua dari pinggiran dan mendekatkan diri dengan masyarakat di pelosok, Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM), melakukan safari politik yang penuh tantangan dan makna ke Kabupaten Sarmi.
Perjalanan darat selama 14 jam itu bukan hanya sekadar kampanye, tetapi menjadi simbol ketulusan dan komitmen untuk hadir di tengah rakyat.
Didampingi sang istri, Kristhina Luluporo Mano, BTM memulai perjalanannya dari kediaman mereka di Jalan Jeruk Nipis, Kota Jayapura, pada Selasa pagi, 1 Juli 2025, pukul 08.15 WIT.
Menggunakan kendaraan Fortuner berwarna hitam, rombongan menyusuri Danau Sentani dan melintasi jalanan berliku menuju Distrik Kemtuk – kampung halaman sang istri di Kampung Koengdai. Di tengah perjalanan, mereka menikmati hamparan alam hijau yang membentang luas, memberi ketenangan sekaligus semangat untuk melanjutkan misi besar ini.
Sekitar dua jam setelah keberangkatan, BTM dan rombongan tiba di Kampung Mamei, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura. Di sana, ia meresmikan Posko Pemenangan BTM-CK
milik relawan Garuda Nusantara, diiringi puluhan kendaraan roda empat serta konvoi motor masyarakat yang membawa bendera PDIP Perjuangan. Usai acara tersebut, perjalanan dilanjutkan ke Kampung Pobaim, Distrik Nimboran, untuk agenda serupa: peresmian posko pemenangan.
Tak hanya berhenti di Kabupaten Jayapura, safari politik ini berlanjut menuju Kabupaten Sarmi. Di wilayah Mawesday, Bonggo Timur, BTM melakukan tatap muka terbatas bersama masyarakat setempat.
Di titik berikutnya, mereka singgah di Kampung Teton Jaya (SP3), Distrik Bonggo, untuk kembali berdialog langsung dengan warga dan merersmikan posko..
Walau secara normal waktu tempuh dari Jayapura ke Sarmi berkisar enam jam, rombongan menghabiskan 14 jam perjalanan. Namun lamanya perjalanan ini bukan karena kondisi jalan yang buruk, melainkan karena setiap pemberhentian dijadikan kesempatan untuk menyapa warga, menyerap aspirasi, serta melihat langsung kondisi sosial dan kehidupan masyarakat desa.
Setibanya di perbatasan Sarmi, rombongan disambut meriah oleh masyarakat. Denting tifa dan tabuhan alat musik tradisional menggema, mengiringi tarian adat yang menyambut kedatangan BTM. Dalam prosesi adat tersebut, ia dianugerahi noken dan mahkota Cenderawasih, simbol kehormatan tertinggi dari masyarakat setempat. Suasana semakin semarak saat anak-anak hingga orang dewasa turut menari dan meneriakkan yel-yel kemenangan di sepanjang jalan.
“Penyambutan ini sangat menyentuh hati. Saya merasa diterima bukan hanya sebagai calon gubernur, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Sarmi,” ujar BTM dengan mata berkaca-kaca.
Sekitar pukul 20.00 WIT, rombongan tiba di Tanah Mirem. Meskipun hujan baru saja membasahi lapangan, antusiasme warga tak surut. Di tempat ini, BTM disambut oleh Ketua DPRD Kabupaten Sarmi, Muhammad Asar Tiris, serta Ondoafi Demianus Namantar.
Dalam dialog hangat yang berlangsung malam itu, Ketua DPRD menyampaikan berbagai keluhan masyarakat, terutama terkait keterbatasan infrastruktur dan akses layanan dasar. Menanggapi hal tersebut, BTM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi berkelanjutan yang berpihak kepada rakyat.
“Jika Tuhan mengizinkan saya memimpin Papua, saya akan pastikan daerah seperti Tanah Mirem ini tidak lagi terpinggirkan,” tegasnya.
Malam semakin larut ketika rombongan melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Sarmi. Jalanan gelap dan kondisi medan yang berat tidak menyurutkan semangat. Akhirnya, sekitar pukul 22.00 WIT, mereka tiba di penginapan dan segera beristirahat. Tim kampanye langsung menyusun strategi untuk kegiatan esok hari.
Dalam keterangan kepada awak media, BTM mengaku perjalanan panjang ini sangat bermakna. Ia mengungkapkan rasa harunya atas sambutan tulus masyarakat, terutama saat spontanitas warga menyanyikan yel-yel dan menabuh tifa di persimpangan jalan.
“Perjalanan ini memang melelahkan, tetapi saya percaya, inilah cara paling jujur merasakan denyut harapan rakyat. Energi saya justru bertambah ketika melihat semangat mereka,” ujar BTM.
Kunjungan ke Sarmi merupakan bagian dari safari politik yang lebih luas, menyasar wilayah-wilayah luar Papua seperti Mamberamo Raya. BTM meyakini bahwa suara rakyat dari pinggiran memiliki bobot yang sama pentingnya dengan suara dari pusat kota. Oleh karena itu, mendengar langsung dari masyarakat adalah bagian penting dari visinya membangun Papua secara inklusif.
Sebagai putra asli Papua yang berasal dari Kampung Tobati, BTM dikenal sebagai figur yang dekat dengan rakyat. Gaya kepemimpinannya yang sederhana, menjunjung tinggi nilai adat, dan mengedepankan dialog, menjadi kekuatan tersendiri dalam setiap kunjungan politiknya.
BTM tidak tampil hanya sebagai calon gubernur, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang kembali untuk mendengar, belajar, dan memperjuangkan aspirasi rakyat.
Masyarakat yang ditemui sepanjang perjalanan menyampaikan harapan besar: agar pemimpin hadir tidak hanya saat kampanye, tetapi juga ketika rakyat menghadapi kesulitan. Mereka merindukan sosok yang memahami budaya lokal, menghormati adat, dan mampu memimpin dengan ketulusan hati.
BTM bersama pasangannya, Calon Wakil Gubernur CK, menegaskan bahwa pencalonan mereka bukan sekadar ambisi politik. Mereka membawa misi menghadirkan perubahan nyata dan bermakna untuk seluruh rakyat Papua – dari lembah hingga pesisir, dari gunung hingga laut.
“Kami tidak sekadar datang untuk menang. Kami datang untuk mendengar, untuk bersama, dan untuk membangun Papua dengan hati,” tutup BTM.
(Arc/Nov)














