Jayapura,Teraspapua.com – Ketua DPD Partai Gerindra Papua, Yanni, S.H., M.H., menggelar pertemuan dengan para pengemudi ojek online (Ojol) yang tergabung dalam Asosiasi GARDA (Gabungan Aksi Roda Dua) Indonesia Kota Jayapura.
Pertemuan berlangsung di Kantor DPC Partai Gerindra Kota Jayapura, Bucen Dua Entrop, dan menjadi wadah dialog terbuka untuk membahas persoalan yang dihadapi para pengemudi Ojol di Papua, Senin (8/9/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Asosiasi GARDA Kota Jayapura, Djerry Curvianto Zaunga, menyampaikan tiga isu utama yang selama ini menjadi keluhan para pengemudi, yaitu tarif, keamanan, dan zonasi operasional.
“Masalah utama kami adalah tarif. Tarif di Papua masih disamakan dengan zonasi Sulawesi, padahal biaya hidup di Papua jauh lebih tinggi. Kami minta tarif disesuaikan dengan kondisi lokal, termasuk faktor geografis dan tingkat kemahalan,” ujar Djerry.
Ia juga menyoroti masih sering terjadi gesekan antara Ojol dan ojek konvensional. Hal ini terjadi karena sebagian pengemudi Ojol menjemput penumpang terlalu dekat dengan pangkalan ojek tradisional.
“Kami sebenarnya sudah imbau agar penjemputan dilakukan sedikit menjauh dari pangkalan, agar tidak memicu kecemburuan. Karena pada dasarnya, kita sama-sama cari nafkah, jadi sebaiknya hindari konflik,” tambahnya.
Djerry menyebut bahwa upaya menyuarakan aspirasi terkait tarif dan regulasi sudah dilakukan sejak dua tahun lalu kepada DPRD Kota, DPRD Provinsi, hingga Dinas Perhubungan, namun belum membuahkan hasil.
“Kami berharap pertemuan ini bukan sekadar seremonial. Kami ingin ada tindak lanjut nyata dari Partai Gerindra, dan perhatian langsung dari Presiden Pak Prabowo agar nasib pengemudi Ojol di Papua lebih baik,” harapnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD Partai Gerindra Papua, Yanni, menyatakan bahwa komunikasi aktif dengan komunitas Ojol sangat penting, terutama di tengah maraknya aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah.
“Jaga kedamaian Papua. Sampaikan aspirasi dengan cara yang baik. Partai Gerindra siap bersama Ojol dan masyarakat untuk menjaga stabilitas dan mendukung solusi atas permasalahan yang dihadapi,” tegas Yanni.
Ia menambahkan, Ojol merupakan bagian penting dari roda ekonomi lokal, sehingga perlu dijaga dari potensi provokasi yang bisa mengganggu ketertiban dan keamanan.
Sebagai tindak lanjut, Yanni berencana mengadakan agenda rutin Coffee Morning mulai Oktober 2025 mendatang, yang akan melibatkan berbagai komunitas untuk menjaring aspirasi secara langsung.
Terkait permasalahan tarif, Yanni meminta agar GARDA menyampaikan permohonan secara resmi dalam bentuk surat agar bisa diteruskan ke Kementerian Perhubungan.
“Tarif di Papua tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Penyesuaian tarif akan berdampak besar: menekan angka pengangguran, menurunkan kriminalitas, dan menjaga keamanan,” jelasnya.
Yanni juga mengapresiasi sikap damai para pengemudi Ojol dalam menyampaikan aspirasi. Menurut data yang ia terima, jumlah pengemudi Ojol di Papua saat ini telah mencapai lebih dari 2.000 orang.
Menutup pertemuan, Yanni meminta doa dan dukungan dari seluruh komunitas Ojol terkait proses persidangan Mahkamah Konstitusi (MK) yang sedang berlangsung mengenai hasil Pilkada Gubernur Papua.
“Kita doakan agar proses di MK berjalan lancar dan membawa kebaikan untuk seluruh masyarakat Papua,” pungkasnya.














