Kembali ke Tanah Lereh, BTM Kenang Perjuangan Awal dan Janji Perhatian Penuh untuk Pendidikan dan Kesehatan

Benhur Tomi Mano saat menginjakan kaki di tanah lereh (foto Arche/Teraspapua.com)

Kaureh, Teraspapua.com – Kehadiran Benhur Tomi Mano (BTM) di Kampung Sebum, Distrik Kaureh, disambut penuh haru dan antusias oleh masyarakat setempat.

Dalam pertemuan yang digelar bersama tokoh adat, kepala suku, dan masyarakat umum, BTM menyampaikan rasa syukur sekaligus mengenang kembali sejarah panjang pengabdiannya di tanah Lereh.

“Ini bukan kunjungan biasa. Saya datang untuk melihat rumah saya sendiri,” ujar BTM mengawali sambutannya saat tatap muka dengan masyarakat Kaureh, Yapsi, Unurum Guay, Lapago dan Mepago, Sabtu (12/7/2025).

Ia mengisahkan awal kariernya sebagai Sekwilcam, kemudian dilantik menjadi Camat Kaureh menggantikan Camat Margono yang dipindahkan ke Abepura. BTM mengaku meninggalkan Lereh pada tahun 1994 dan baru kali ini menjejakkan kaki kembali di wilayah tersebut.

BTM mengungkapkan bahwa meskipun dalam Pilkada sebelumnya ia tidak sempat hadir langsung di tengah masyarakat Lereh, namun dukungan masyarakat tetap mengalir. “Walau saya tidak datang, masyarakat masih mengingat kebaikan saya. Karena itu, saya bisa menang,” katanya.

Hal serupa terjadi di Distrik Yapsi, di mana pada awalnya ia kalah, namun setelah proses pemungutan ulang, masyarakat mengembalikan dukungan hingga ia berhasil menang.

“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh Ondoafi, kepala suku, dan masyarakat di Distrik Lereh dan Kaureh, yang sudah memilih saya hingga saya menjadi gubernur terpilih, meskipun kini masih disebut sebagai gubernur tertunda,” tambahnya.

BTM menegaskan pentingnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Papua. Ia menanggapi pernyataan Ketua DAS yang menyebut tidak boleh ada lagi masyarakat yang dianaktirikan dalam pelayanan publik. Salah satu langkah konkrit menurutnya adalah pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB).

“Dengan adanya DOB, pembangunan bisa merata. Masyarakat juga akan lebih dekat dengan pusat pemerintahan sebagaimana di Kabupaten atau kota-kota lain di Papua,” jelasnya.

Namun, sebelum itu, ia menekankan pentingnya penentuan batas wilayah antara Provinsi Papua dan provinsi lainnya, terutama wilayah yang berdekatan dengan Pegunungan

Bintang dan daerah-daerah di sekitar Lereh dan Kaureh. “Persoalan batas harus dibicarakan bersama. Baru setelah itu, kita bicara soal DOB,” tegasnya.

BTM memaparkan sejumlah program prioritasnya jika terpilih secara sah sebagai Gubernur Papua, antara lain di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, infrastruktur, serta tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Sebagai mantan Wali Kota Jayapura dua periode, ia menyampaikan keinginannya agar ada anak-anak asal Kaureh yang bisa menduduki jabatan strategis di pemerintahan provinsi. “Saya ingin anak-anak Kaureh yang memiliki pangkat dan golongan tinggi bisa membantu saya di kantor gubernur, entah sebagai kepala biro, kepala dinas, ataun kepala bagian,” ucapnya.

Lebih jauh, ia mendorong agar generasi muda Kaureh dan Lereh bisa menempuh pendidikan tinggi di lembaga seperti STPDN atau APDN, agar nantinya bisa menjadi lurah, camat, dokter, bahkan pilot.

Dalam bidang kesehatan, BTM menanggapi aspirasi masyarakat dan Ketua DAS terkait minimnya layanan medis. Ia berjanji akan melengkapi fasilitas Puskesmas, Pustu, dan Puskesmas keliling dengan dokter anak, dokter gigi, dokter mata, ahli gizi, hingga apoteker. Obat-obatan akan tersedia secara lengkap, termasuk fasilitas penunjang lainnya.

Tak hanya itu, BTM juga menjanjikan insentif bagi tenaga medis. “Saya akan berikan insentif sebesar Rp 35 juta kepada dokter agar mereka bisa bekerja dengan tenang dan tinggal bersama masyarakat untuk melayani di Lereh,” katanya.

Ia pun berpesan agar masyarakat turut menjaga para dokter yang bertugas. “Jangan ganggu mereka, biarkan mereka melayani masyarakat dengan baik. Kesehatan adalah hal paling penting. Masyarakat yang cerdas harus memilih pasangan nomor urut 1, BTM-CK,” imbuhnya.

Di sektor pendidikan, BTM juga berkomitmen memberikan beasiswa kepada anak-anak dari wilayah Lereh, Airu, dan Yapsi yang ingin melanjutkan studi baik di dalam maupun luar negeri.

“Saya akan siapkan beasiswa bagi dua siswa dari Lereh untuk masuk STPDN atau kuliah di luar negeri. Bisa di Makassar, Jogja, Jakarta, atau Surabaya,” janjinya.

BTM menekankan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk keluar dari kemiskinan. “Saya ingin anak-anak Lereh menjadi anak-anak yang pintar dan cerdas. Tidak boleh ada lagi masyarakat Papua yang miskin. Karena itu, kita harus belajar,” katanya.

Bagi mereka yang sudah putus sekolah, ia menawarkan program paket A, B, dan C agar tetap bisa membaca dan menulis serta memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan formal.

(Novi/Arc)