Jayapura, Teraspapua.com – Menyikapi Kasus pasien positif Covid-19 di Kota Jayapura yang terus bertambah. Panita Khusus (Pansus) Covid-19 DPRD Kota Jayapura mengundang pakar epidemiologi untuk memberikan penjelasan.
Seperti Dr. Hasmi dari Fkm Uncen, Kepala Litbangkes Papua dr. Anton Oktavian dan Kepala Labkesda Papua Selly Ajawaila. Rapat berlangsung di ruang rapat lantai tiga DPRD kota Jayapura, Kamis ( 15/7/2021)
Mengawali rapat, Ketua Pansus Covid – 19 DPRD Kota Jayapura Yuli Rahman menjelaskan penambahan jumlah terpapar Covid-19 di kota Jayapura terus bertambah.
“Warga Kota Jayapura yang terkonfirmasi positif Covid periode Rabu (14/7/2021) mencapai 729 orang, sementara dirawat di LPMP dan Rumah Sakit Pemerintah maupun Swasta yang ada di Kota Jayapura,” kata Yuli Rahman seraya membuka rapat kerja itu.
Keseluruhan jumlah warga Kota Jayapura yang terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 10. 111 orang. Sementara 9. 200 orang lain dinyatakan sembuh. Pasien meninggal 182 orang.
“Kemarin kami sudah rapat dengan Pelindo, PT. Pelni, KSOP dan KKP. Ungkapnya setelah evaluasi , 72% penyumbang Covid dari cluster pelabuhan,” ucapnya.
Terbukti kata Yuli Rahman, 54 pasien Covid yang dirawat di LPMP adalah KTP luar Jayapura.
Politisi Golkar Kota berparas cantik itu juga menambahkan, Pemerintah kota telah menyurati Gubernur, meminta untuk menutup akses masuk bandara dan pelabuhan. Namun masih menunggu jawaban.
“Tapi untuk memperketat di RT/RW, Pansus Covid Dewan berharap selesai jam aktivitas pada pukul 20.00 Wit dan di atas jam itu harus menutup setiap kompleks dengan portal,” tegasnya.
Sehingga, tidak ada warga yang masuk keluar ataupun kendaraan roda dua dan empat. Kami berharap di jalan – jalan di seluruh wilayah kota juga harus ditutup.
Karena diatas jam 20.00 Wit, masih banyak masyarakat beraktivitas dan berkerumun dan tentu menyebabkan penyebaran Covid di kota Jayapura.
“Jadi, perlu kesadaran masyarakat terhadap penyebaran Covid di wilayah Kota Jayapura. Untuk itu dihimbau, masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat. Memakai masker, menjaga jarak, selalu mencuci tangan pakai sabun serta melakukan vaksinasi,” ujarnya.
Ditempat yang sama Kepala Labkesda Papua Selly Ajawaila mengatakan, rata-rata dari pemeriksaan yang dilakukan dari jumlah yang kami periksa 80% pasti positif.
“Seminggu ini, data yang ada di laboratorium kesehatan yang kami periksa sekitar 70 sampai 80% dari sampel yang diterima adalah positif dan anak-anak juga,” ucapnya.
Selly Ajawaila juga melanjutkan, kondisi saat ini kontak erat yang paling banyak. Jadi jika 1 orang dalam rumah terinveksi kemungkinan besar semua orang dalam rumah itu terinfeksi virus.
Untuk itu kami di laboratorium kesehatan menyarankan, protokol kesehatan diperketat. Jika Wali Kota Jayapura sudah mengeluarkan instruksi aktivitas perekonomian dan masyarakat sampai jam 20.00 Wit maka masyarakat di atas jam itu jangan lagi melakukan aktivitas.
Dia juga menambahkan, dari hasil pemeriksaan yang paling banyak positif yaitu 60% yang belum divaksin sedangkan 40% sisa itu yang sudah divaksin.
Kata Ajawaila, untuk pemeriksaan di Labkesda rata-rata 120 sampel setiap hari. Dia juga mengatakan masyarakat yang sudah vaksin masih memungkinkan untuk terinfeksi tetapi gejalanya tidak seberat yang belum di vaksin.
Sementara Dr. Hasmi mengatakan kasus Covid di kota Jayapura kisaran 37 per hari. Jika dibandingkan dengan bulan – bulan sebelumnya.
“Untuk seluruh Papua, kota Jayapura adalah penyumbang kasus Covid terbesar 36,5%. Ini harus menjadi perhatian Pemerintah Kota Jayapura bawa harus ada penanganan secara komprehensif, dimulai dari hulu yaitu masyarakat itu sendiri,” kata Fkm Uncen itu.
Dia mengungkapkan, penerapan protokol kesehatan antara bulan Mei, Juni dan Juli sudah mulai lemah. Masyarakat sudah banyak berkumpul, aktivitas ekonomi masyarakat melewati batas waktu yang ditentukan pemerintah Kota.
Dia menambahkan, aturan sebenarnya sudah ada tapi penerapan dilapangan harus dievaluasi. Penegakan protokol kesehatan perlu ditegakkan lagi,” sambungnya.
Kemudian ujar Dr. Hasmi, promosi kesehatan, edukasi tentang bahaya Covid dan juga tentang pentingnya vaksinasi.
Vaksin bukan hanya mencegah, tetapi kemudian bisa menurunkan angka kematian atau tingkat keparahan dari Covid itu sendiri,” imbuhnya.
“Kita harus melibatkan level pemerintahan mulai dari RT /RW, Kelurahan, Distrik untuk menerapkan protokol kesehatan. Selain itu pintu masuk ke Papua dan antara Kabupaten dan Provinsi juga diperketat,” pintanya.
Sehingga, kita jaga bukan saja penyebaran dari dalam tapi juga dari luar, sembari menjaga varian baru tidak masuk di Papua,” tandasnya.
Kepala Litbangkes Papua, dr. Anton Oktavian mengakui antrean sampel hasil swab di Labkesda cukup banyak. Sampai tadi malam ada 404 sampel. Karena untuk sampel – sampel yang surveilans dari Puskesmas maupun Rumah Sakit masuknya ke kami.
“Tugas kami saat ini, adalah untuk mendeteksi varian Delta. Sementara sampel swab bertambah namun alat tidak bertambah,” terangnya.
Dokter Anton juga mengungkapkan, secara laboratorium belum ada bukti varian Delata masuk di kota Jayapura dan kita sedang mencari, karena ada beberapa sampel yang sudah terkumpul dengan beberapa kriteria tertentu.
Dia juga menambahkan, untuk melihat varian Delta harus menggunakan metode WGS dan satu sampel sekitar 1 minggu diperiksa. Dan kita juga harus kroscek dengan Lab nasional,” katanya.
Ditempat yang sama, anggota IDI Papua, dr Raja Sitorus menyarankan untuk pemerintah kota Jayapura memperkencang promosi kesehatan, karena saat ini sudah berkurang.
“Tentu dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun dan menjauhi kerumunan dan terpenting adalah mempercepat proses vaksinasi,” kata Sitorus.
Untuk vaksinasi jelas Sitorus, masih rendah. Sebagaimana dianjurkan pemerintah harus 70% untuk mendapatkan herd immunity kekebalan tubuh masih kurang dan harus lebih gencar lagi,” sarannya.
(Let)















